Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Abdul Basith, memberikan sambutan penuh semangat dalam acara penutupan Festival Anak Shaleh Muhammadiyah (Fashmu) 2, Sabtu (4/10/2025) sore.
Acara berlangsung di lantai 13 Gedung At-Tauhid Tower Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya).
Dalam sambutannya, Abdul Basith menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas suksesnya penyelenggaraan Fashmu yang menjadi ajang pembinaan generasi muda Muhammadiyah.
Ia mengaku bangga melihat antusiasme peserta yang luar biasa sejak Fashmu pertama hingga kali ini.
“Dengan penuh semangat dan kegembiraan, insya Allah meski ada kelelahan, itu akan terbayar oleh masa depan kita. Semua ini kita lakukan dalam rangka melanjutkan estafet dakwah ke depan,” ujarnya.
Abdul Basith menegaskan bahwa kegiatan seperti Fashmu merupakan sarana penting untuk mencetak kader-kader dakwah masa depan.
Ia berharap semangat dan kebersamaan yang terjalin dalam kegiatan ini menjadi bekal bagi para peserta untuk terus tumbuh dalam gerakan dakwah yang berkemajuan.
“Saya membayangkan, dari semangat dan jumlah peserta Fashmu pertama dan kedua, satu sisi saya gembira, tapi di sisi lain saya juga prihatin. Masa iya kita masih kekurangan sumber daya manusia dalam dakwah? Melalui festival ini, kita harus menjadikannya momentum penting untuk menyiapkan langkah panjang ke depan,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Abdul Basith juga menyoroti pentingnya kolaborasi antar pimpinan di berbagai level—wilayah, daerah, hingga pembina di lapangan agar proses kaderisasi dakwah berjalan sinergis dan berkelanjutan.
Ia kemudian berbagi pengalaman pribadinya dalam memegang berbagai amanah, termasuk sebagai Ketua Komite Pengawas Pesantren dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Indonesia.
Dari pengalaman itu, ia melihat langsung betapa besar kebutuhan bangsa terhadap sumber daya manusia yang mampu mengajarkan agama dan nilai-nilai Islam yang mencerahkan.
“Ada dua fenomena yang membuat kita menangis. Pertama, ketika guru yang mengajarkan al-Qur’an di daerah terpencil harus kembali ke rumah, anak-anak kecil di sana menangis. Siapa yang akan membimbing mereka setelah itu? Di situlah tanggung jawab kita semua,” katanya dengan nada haru.
Di akhir sambutannya, Abdul Basith berpesan kepada seluruh peserta Fashmu agar menjadikan pengalaman ini sebagai bagian dari perjalanan dakwah mereka.
Menurutnya, dalam setiap perlombaan pasti ada yang menang dan kalah, namun hakikat kemenangan sejati adalah ketika semua peserta mendapatkan pengalaman berharga untuk terus berkembang.
“Siapapun pemenangnya, sebenarnya semuanya sudah menang. Panitia memang harus memilih, tapi di mata kita semua peserta adalah pemenang. Mungkin yang hari ini belum juara, kelak justru menjadi yang terdepan dalam dakwah,” tuturnya.
Abdul Basith juga mengucapkan terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Surabaya, para mahasiswa, dan seluruh panitia yang telah bekerja keras menyukseskan Fashmu 2. Ia menutup sambutannya dengan doa dan harapan agar kegiatan serupa terus berlanjut dan memberi manfaat luas bagi generasi penerus dakwah Muhammadiyah.
“Terima kasih atas dukungan semuanya. Mohon maaf bila ada kekurangan, karena apa yang kita siapkan tentu belum sempurna. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk terus mengoptimalkan ikhtiar dakwah ini,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments