Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketua Majelis Tabligh PWM Jatim: Festival Anak Sholeh Lahirkan Calon Dai dan Mubaligh

Iklan Landscape Smamda
Ketua Majelis Tabligh PWM Jatim: Festival Anak Sholeh Lahirkan Calon Dai dan Mubaligh
Sambutan K.H. Abdul Basith, LC., M.Pd.i. (Bayu/PWMU.CO)
pwmu.co -

Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, KH Abdul Basith Lc MPdI, menyampaikan penghormatan atas terselenggaranya Festival Anak Sholeh Muhammadiyah (FASHMU) 2025 se-Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya.

Menurutnya, kegiatan yang berlangsung di UM Surabaya pada Sabtu (4/10/2025) ini bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan juga bagian dari proses kaderisasi.

“Semua anak-anak yang hadir di sini sejatinya adalah pemenang. Karena sebelumnya mereka telah lolos seleksi di tingkat daerah masing-masing, lalu dikirim ke wilayah untuk berkompetisi kembali,” ujarnya.

KH Abdul Basith menegaskan, siapapun yang menjadi juara dalam FASHMU tingkat wilayah ini, adalah kebanggaan bersama. “Baik bagi orang tua, pembimbing, maupun Muhammadiyah secara keseluruhan,” imbuhnya.

Calon Dai dan Mubaligh

Ia menggambarkan, para peserta FASHMU 2025 yang kedua ini kelak adalah calon dai dan mubaligh penerus dakwah Muhammadiyah. “Festival pertama jumlah pesertanya hampir seribu. Kini pada FASHMU kedua ada sekitar enam ratus peserta. Bayangkan jika semuanya tumbuh menjadi dai dan mubaligh, tentu akan luar biasa,” tuturnya.

“Mereka-mereka inilah yang akan melanjutkan estafet dakwah kita,” ujarnya.

Ia lalu membuat perumpamaan yang menarik dengan dunia sepak bola. Menurutnya, jika pemain bola dilatih oleh pelatihnya melalui olah kaki, maka para peserta FASHMU dilatih melalui berbagai bidang.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Kalau lomba kaligrafi itu melatih olah tangan, lomba imam melatih olah lagu dan laga, sementara tilawah dan pidato melatih olah kata,” jelasnya.

KH Abdul Basith menambahkan, perbedaan mendasar antara atlet sepak bola dan calon dai adalah soal batasan usia. “Kalau pemain bola, andai jadi pemain nasional, maksimal umur 30-an. Kalau sudah lebih dari itu biasanya dirumahkan. Tapi berbeda dengan antum semuanya, setelah dilatih olah kata dan dakwah, tidak ada batasan umur. Semakin tua, semakin tidak dirumahkan,” tandasnya.

“Semakin tua, justru semakin matang dan tidak dirumahkan. Mereka akan terus dibutuhkan sepanjang hayat,” jelasnya.

Terima Kasih dan Harapan

Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan terima kasih kepada pembina, pembimbing, panitia, serta Universitas Muhammadiyah Surabaya sebagai tuan rumah. Ia berharap pelaksanaan FASHMU 2025 berikutnya bisa semakin baik.

“Mohon maaf bila dalam penyelenggaraan kali ini masih ada kekurangan. Insyaallah FASHMU 2025 ketiga nanti kita upayakan lebih baik lagi,” pungkasnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu