Search
Menu
Mode Gelap

Ketua MPKSDI PDM Lamongan: Kader Muhammadiyah Harus Paripurna dan Berideologi Kuat

Ketua MPKSDI PDM Lamongan: Kader Muhammadiyah Harus Paripurna dan Berideologi Kuat
Imam Ghozali saat memberikan materi Perkaderan dalam TOT MPKSDI PDM Lamongan. (Alfain Jalaluddin Ramadlan/PWMU.CO)
pwmu.co -

Malam itu, udara dingin Trawas terasa menembus baju para peserta Training of Trainers (TOT) MPKSDI PDM Lamongan, Sabtu (8/11/2025) malam.

Seusai jamaah Isya di Graha Umsida, mereka tak langsung beristirahat. Lampu aula menyala terang, kursi tersusun rapi, dan suasana pun berubah menjadi hangat ketika Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PDM Lamongan, Imam Ghozali, mulai menyampaikan materi bertajuk Sistem Perkaderan Muhammadiyah.

Dengan gaya santai namun penuh makna, Imam Ghozali membuka paparannya dengan mengingatkan hakikat kader dalam tubuh Muhammadiyah. “Kader itu bukan sekadar anggota, tetapi inti yang terlatih dan memiliki komitmen terhadap perjuangan serta cita-cita Persyarikatan,” ujarnya disambut anggukan peserta. Baginya, kader adalah ruh gerakan, mereka yang siap berjuang, bukan sekadar hadir di forum.

Ia menjelaskan bahwa perkaderan Muhammadiyah adalah proses pendidikan dan pembinaan yang dilakukan secara sadar, terencana, serta berkesinambungan untuk menyiapkan pelangsung, pelengkap, dan penyempurna perjuangan Muhammadiyah menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Melalui sistem perkaderan yang kuat, Persyarikatan berupaya menjaga kesinambungan nilai, visi, dan semangat dakwah yang telah diwariskan oleh para pendiri.

Imam kemudian mengurai pentingnya membangun sistem yang lahir dari kebutuhan nyata. Dalam pandangannya, sistem perkaderan Muhammadiyah tidak hanya lahir dari kebutuhan regenerasi semata, tetapi juga karena adanya dorongan ideologis dan tantangan kontemporer.

Menurutnya, regenerasi diperlukan agar semangat kepemimpinan terus hidup, sementara kebutuhan ideologis meneguhkan pentingnya paham Islam berkemajuan sebagai panduan berpikir dan bertindak. Di sisi lain, kebutuhan kontemporer menuntut kader agar mampu merespons dinamika zaman; globalisasi, teknologi, hingga perubahan sosial yang begitu cepat.

“Apapun profesinya, kader Muhammadiyah harus tetap membawa nilai dan ideologi gerakan. Profesional di bidang apa pun, jangan sampai kehilangan ruh perjuangan,” tegasnya.

Dalam penjelasannya, Imam Ghozali menggambarkan bahwa paradigma perkaderan Muhammadiyah adalah cara pandang yang menjadi dasar dalam seluruh proses pembentukan kader, mencakup visi, sistem, kurikulum, hingga tata kelola kaderisasi.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Melalui Sistem Perkaderan Muhammadiyah (SPM), seluruh unsur Persyarikatan diharapkan memiliki arah pembinaan yang terpadu dan berkesinambungan. Ia menegaskan, ruang lingkup perkaderan Muhammadiyah mencakup perkaderan utama seperti Darul Arqam dan Baitul Arqam, serta perkaderan fungsional seperti pelatihan instruktur, sekolah kader, pengajian pimpinan, hingga upgrading majelis dan lembaga. Semua itu menjadi jembatan untuk melahirkan kader paripurna yang siap berjuang di berbagai medan dakwah.

Visi perkaderan Muhammadiyah, menurut Imam, adalah mewujudkan kader paripurna untuk membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Sementara misinya meliputi peneguhan ideologi Muhammadiyah di seluruh lini, pewarisan nilai-nilai Persyarikatan secara berkesinambungan, serta revitalisasi kader agar adaptif terhadap perubahan zaman. Tujuan akhirnya ialah terbentuknya kader Muhammadiyah yang berjiwa Islam berkemajuan, berintegritas tinggi, serta memiliki kompetensi untuk berperan aktif dalam Persyarikatan, kehidupan umat, bangsa, dan konteks global.

Dalam paparannya yang penuh semangat, Imam menekankan pentingnya tiga dimensi utama dalam diri kader Muhammadiyah: keberagamaan yang kuat, kecerdasan intelektual, dan kepedulian sosial. Kader sejati, katanya, adalah mereka yang saleh dalam pribadi, cerdas dalam berpikir, dan tangguh dalam berjuang. Ia tidak hanya pandai berteori di forum, tetapi juga mampu menghidupkan nilai-nilai Persyarikatan dalam kehidupan sehari-hari.

 “Kader Muhammadiyah sejati adalah yang saleh dalam pribadi, cerdas dalam berpikir, dan tangguh dalam berjuang,” tutup Imam dengan nada tegas namun penuh kehangatan.

Malam pun semakin larut. Namun semangat para peserta tidak surut sedikit pun. Materi itu tak hanya menambah pengetahuan mereka tentang sistem perkaderan, tetapi juga membakar kembali bara ideologi yang menjadi sumber gerak setiap kader Muhammadiyah: berjuang dengan ilmu, beramal dengan ikhlas, dan berdakwah dengan keteladanan. (*)

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments