
PWMU.CO – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tulangan, Sidoarjo menggelar Silaturahmi dan Pembinaan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di Gedung Baitul Quran At-Taqwa, Kompleks Pendidikan SD Muhammadiyah 8, Jalan Raya Kenongo, Kecamatan Tulangan, pada Jumat (18/4/2025) pagi.
Acara ini menjadi ruang berharga, tidak hanya untuk mempererat silaturahim, tetapi juga sebagai ajang refleksi, menumbuhkan harapan baru, dan menyatukan semangat dalam perjuangan dakwah Muhammadiyah.
Lebih dari seratus peserta hadir, terdiri dari perwakilan PRM, Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA), ortom, serta majelis guru dan karyawan AUM. Mereka datang dari berbagai penjuru Tulangan dengan membawa semangat yang sama: menjaga bara perjuangan Muhammadiyah agar tetap menyala di tengah dinamika zaman.
Di tengah hangatnya suasana, Ketua PCM Tulangan, Abdillah Adhie SE duduk bersimpuh. Dengan tatapan menyapu seluruh ruangan, ia menyampaikan tiga pesan penting dengan suara tenang namun penuh ketegasan. Pesan-pesan tersebut tak hanya menggugah hati, tetapi juga membangkitkan kembali semangat juang warga persyarikatan yang hadir.
Dalam pesan pertamanya, Abdillah Adhie menegaskan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama. Di hadapan para pimpinan ranting, ortom, dan tokoh Muhammadiyah, ia menyampaikan komitmen PCM Tulangan untuk membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dan siap mendengarkan ide dari seluruh elemen organisasi.
“Insyaallah, dengan sekuat tenaga, kita akan berupaya mewujudkan program-program PRM, PRA, dan teman-teman Ortom, sesuai dengan kemampuan anggaran dan kekuatan yang kita miliki bersama,” ungkapnya.
Hal tersebut bukan sekadar janji kosong, tetapi ajakan tulus untuk membangun sinergi. Ia menginginkan PCM Tulangan menjadi rumah besar yang hangat, tempat setiap gagasan mendapat ruang, dan setiap bentuk pengabdian diberi penghargaan.
Kedua, Mimpi Sederhana dengan Cita Rasa Keluarga. Adhie lalu mengungkapkan sebuah mimpi sederhana yang lahir dari hati. Suatu hari nanti, ia ingin menjamu seluruh peserta Halalbihalal dengan hidangan prasmanan.
“Biar semua merasa lebih dekat, lebih hangat, seperti keluarga sejati. Entah kapan bisa terwujud, tapi hari ini saya tanamkan dulu cita-citanya,” ujarnya, yang kemudian disambut senyum hangat para peserta.
Ia meyakini bahwa silaturahmi yang dipenuhi keakraban akan mempererat ikatan emosional serta menumbuhkan semangat persatuan di antara warga Muhammadiyah.
Pesan ketiga menjadi yang paling menggugah. Dengan suara bergetar, Adhie mengajak seluruh generasi muda Muhammadiyah untuk tidak melupakan jejak para pejuang dan sesepuh.
“Mereka membangun fondasi Muhammadiyah ini dengan tenaga, ilmu, dan harta. Hari ini kita tinggal memetik hasilnya. Maka, kita punya kewajiban untuk melanjutkan perjuangan mereka,” ujarnya penuh haru.
Ia juga menegaskan pentingnya melanjutkan perjuangan itu dengan kesungguhan, sebagaimana dicontohkan KH Ahmad Dahlan. Menurutnya, setiap pemimpin dan kader Muhammadiyah harus mampu meninggalkan jejak pemikiran dan kerja yang fundamental demi keberlangsungan dakwah Islam yang mencerahkan.
Menutup pesannya, Adhie mengutip dawuh ulama Muhammadiyah asal Jombang, Khoirun Abdul: “Bermuhammadiyahlah sekuatmu, ojo sak karepmu.” Sebuah petuah yang sederhana, namun sarat makna.
Adhie juga menegaskan bahwa di Muhammadiyah, setiap pengorbanan merupakan cermin dari ruh Islam. Menjadi guru, pimpinan, penggerak, atau bahkan relawan, semuanya adalah jalan menuju ridha Allah SWT. Oleh karena itu, AUM tidak boleh hanya sekadar ada. AUM harus menjadi amal yang unggul, berkemajuan, dan memberikan maslahat bagi umat.
“Kita semua punya peran. Mari jalani peran itu dengan serius. Sebab pada akhirnya, setiap kita pasti berhenti di titik tertentu. Maka tinggalkanlah karya terbaikmu sebelum titik itu tiba,” pungkasnya.
Forum hari itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam, namun pesan-pesan Adhie terpatri dalam hati setiap peserta yang hadir. Pesan yang bukan hanya mengajak untuk bekerja, tetapi juga untuk mencintai, merawat, dan menjaga warisan besar Muhammadiyah dengan sepenuh hati.
Pada pagi yang teduh itu, semangat kembali menyala. Semangat untuk terus menghidupkan Muhammadiyah, bukan sekadar karena kebiasaan, tetapi karena cinta yang mendalam. (*)
Penulis Zulkifli Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments