Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketua PWM Jatim Sampaikan Duka Cita atas Wafatnya dr. H. Mutadi

Iklan Landscape Smamda
Ketua PWM Jatim Sampaikan Duka Cita atas Wafatnya dr. H. Mutadi
pwmu.co -

Muhammadiyah Jawa Timur berduka. dr. H. Mutadi, mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), berpulang ke rahmatullah pada Rabu (8/10/2025) pukul 23.17 WIB.

Kabar duka ini meninggalkan kesedihan mendalam di kalangan keluarga besar Muhammadiyah, khususnya civitas akademika UM Surabaya yang pernah merasakan kepemimpinan dan keteladanan beliau.

Sosok sederhana dan bersahaja ini merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah perkembangan UM Surabaya serta penggerak pendidikan Muhammadiyah di Jawa Timur. Almarhum dimakamkan di dekat kediamannya di Jalan Karangan PDAM No. 11 Karangan Babatan Wiyung, Surabaya, bakda salat zuhur.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM, yang juga mantan Rektor UM Surabaya, menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya dr. Mutadi.“Saya mengenal beliau dengan sangat baik. Beliau adalah sosok yang sangat berjasa terhadap perkembangan pendidikan Muhammadiyah,” ujarnya kepada PWMU.CO, Kamis (9/10/2025).

Bagi Sukadiono, kepergian dr. Mutadi bukan hanya kehilangan bagi keluarga besar UM Surabaya, tetapi juga bagi seluruh warga Muhammadiyah Jawa Timur. Sosoknya dikenal bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai pembimbing yang menanamkan semangat perjuangan dan keikhlasan dalam bekerja.

“Beliau memimpin dengan hati, bukan dengan ambisi. Yang beliau katakan, itulah yang beliau lakukan,” tutur Sukadiono.

Selama masa kepemimpinannya sebagai Rektor kedua UM Surabaya, dari tahun 1987 hingga 1997, dr. Mutadi dikenal sebagai figur yang bekerja dengan visi jauh ke depan.

Dia melanjutkan tongkat estafet dari rektor pertama, dr. Suherman (1984–1987), dan berhasil mempersatukan berbagai fakultas serta akademi menjadi satu universitas yang kokoh. Langkah besar itu dijalankan dengan penuh kesabaran, ketekunan, dan kemampuan membangun harmoni di tengah perbedaan.

Menurut Sukadiono, warisan terbesar dr. Mutadi bukan hanya bangunan fisik kampus, melainkan nilai-nilai keikhlasan, kebersamaan, dan cinta terhadap perjuangan pendidikan Islam. “Dari beliau, saya belajar tentang kerja keras dan sikap rendah hati,” ujarnya.

Anggota DPRD Jawa Timur, Dr. Suli Da’im, mengenang sosok dr. Mutadi sebagai figur pemimpin kampus yang sederhana dan sabar.

Dia menuturkan, saat masih menjadi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), dirinya aktif di berbagai kegiatan kemahasiswaan, mulai dari Senat Mahasiswa Fakultas, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), hingga Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi.

Aktivitas itu membuatnya cukup sering berinteraksi langsung dengan dr. Mutadi yang kala itu menjabat sebagai rektor.

“Saat jadi rektor UM Surabaya, saya cukup sering berinteraksi dengan beliau karena aktif di berbagai kegiatan kemahasiswaan,” ujarnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Menurut Suli, penampilan dr. Mutadi yang sederhana dan sikapnya yang sabar membuat para mahasiswa merasa dekat. Setiap kali mahasiswa mengajukan proposal kegiatan, dia selalu menerima dengan hati terbuka, bahkan ketika usulan tersebut tidak sepenuhnya sesuai harapan.

“Beliau tampil sederhana, sabar, dan mudah didekati. Setiap proposal kegiatan yang kami ajukan selalu diterima dengan lapang dada,” kenangnya.

Suli menambahkan, dr. Mutadi sering memberi pesan agar mahasiswa selalu berikhtiar dalam setiap langkahnya.

“Beliau sering bilang, setiap usaha dan kegiatan yang kita lakukan harus diniatkan sebagai ibadah. Itulah yang membuat kami selalu termotivasi,” tutur Suli.

Wakil Ketua PWM Jawa Timur, Dr. M. Sholihin Fanani, juga mengenang dr. Mutadi sebagai sosok pekerja keras dengan pemikiran yang sangat visioner.

“Beliau bukan hanya seorang akademisi dan organisator, tetapi juga perencana masa depan yang mampu melihat jauh ke depan,” katanya.

Menurut Sholihin, ketenangan dirinya bukanlah tanda pasif, melainkan refleksi dari kedewasaan dan kedalaman berpikir. Dia dikenal suka menolong siapa saja tanpa pandang bulu. “Siapa pun baik mahasiswa, dosen, maupun masyarakat umum,” cetusnya.

Sikap rendah hati, imbuh Sholihin, menjadi ciri khas dr. Mutadi. Meski menjabat posisi penting, dia tak pernah menciptakan jarak dengan siapa pun. Dia berbicara lembut namun tegas dalam prinsip.

Ketegasannya bukan untuk menakut-nakuti, melainkan menjaga arah perjuangan agar tetap lurus sesuai nilai-nilai Muhammadiyah.

“Beliau tidak pernah pilih-pilih orang. Semua dilayani dengan hormat dan penuh kasih,” kenang Sholihin dengan nada penuh hormat. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu