Kebodohan dalam memahami akidah menjadi salah satu sumber utama rusaknya keyakinan umat Islam. Karena itu, umat Islam wajib berilmu, memahami dalil, serta berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah agar tauhid tetap kokoh, terlebih dalam menyambut bulan suci Ramadan.
Penegasan tersebut disampaikan KH Najih Ihsan, M.Ag, anggota Majelis Tabligh PWM Jatim, dalam Pengajian Rutin Ahad Pagi PCM Tulangan bertema “Mengukuhkan Tauhid dalam Menyambut Ramadan Menuju Amal Saleh Berkemajuan” di Musholla Al-Firdaus, Perum Modernland, Dusun Ngemplak, Desa Kepatihan Tulangan, Sidoarjo, Ahad (8/2/2026).
Pengajian ini dihadiri Ketua dan jajaran PCM Tulangan, seluruh PRM, PRA, Ortom se-Cabang Tulangan, serta warga Persyarikatan Muhammadiyah Tulangan.
Kiai Najih, begitu panggilan karibnya, mengawali dengan memaknai dua kalimat syahadat sebagai fondasi utama akidah.
Menurutnya, syahadat bukan sekadar lafaz yang diucapkan, melainkan komitmen hidup yang harus diwujudkan dalam amal.
“Makna Asyhadu an laa ilaaha illallaah adalah tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Konsekuensinya, seluruh ibadah dan aktivitas kehidupan harus diniatkan semata-mata karena Allah,” katanya.
Sementara makna wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah mengandung lima konsekuensi mendasar, yakni meyakini bahwa Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah, membenarkan seluruh ajaran yang beliau sampaikan, menaati semua perintah beliau, menjauhi seluruh larangan beliau dan beribadah kepada Allah hanya dengan tata cara yang disyariatkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
“Tidak boleh beribadah kepada Allah kecuali dengan cara yang telah dicontohkan Rasulullah,” tegasnya.
Kiai Najih menambahkan, Islam mewajibkan umatnya untuk berilmu—ilmu tentang Allah, tentang Nabi, dan tentang ajaran Islam—yang semuanya harus berdasarkan dalil.
“Dalam konteks Muhammadiyah, keputusan-keputusan Majelis Tarjih menjadi pedoman dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama,” jelasnya.
Lebih lanjut, Kiai Najih memaparkan lima faktor yang dapat merusak akidah umat.
Pertama, kebodohan dalam memahami aqidah. “Masyarakat tidak mau belajar, sementara ada orang alim yang tidak mau mengajar. Kebodohan adalah sumber utama rusaknya aqidah umat,” ujarnya.
Kedua, fanatik terhadap tradisi nenek moyang tanpa menimbangnya dengan dalil yang benar.
Ketiga, taklid buta, yakni mengikuti informasi atau ajaran tanpa klarifikasi, termasuk menerima dan menyebarkan berita dari media sosial seperti YouTube atau WhatsApp tanpa sumber yang jelas.
Keempat, berlebih-lebihan dalam memuliakan orang saleh hingga melampaui batas yang ditetapkan syariat.
Kelima, tidak mau mentadabburi ayat-ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.
Di akhir ceramah, Kiai Najih menegaskan, Muhammadiyah mendorong lahirnya umat Islam yang cerdas, berilmu, dan mencerahkan.
“Menjelang Ramadan, mari kita perkuat tauhid, luruskan niat, dan tingkatkan kualitas amal saleh sesuai tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah,” pungkasnya.
Pengajian yang berlangsung khidmat dan penuh antusiasme tersebut menjadi bagian dari upaya konsolidasi dakwah serta penguatan aqidah warga Muhammadiyah Tulangan dalam menyambut Ramadan dengan semangat amal saleh berkemajuan.
Sementara itu, Ketua PCM Tulangan Iftitah Abdillah Adhie Dalam sambutannya, mengapresiasi PRM Ngemplak yang meski tergolong baru telah menunjukkan semangat luar biasa dalam menyelenggarakan kajian rutin cabang.
Dia juga menyampaikan kabar bahwa PRM Ngemplak telah berhasil membebaskan tanah untuk pembangunan TPQ.
“Selain itu, Rumah Sakit Aisyiyah Siti Fatimah Tulangan, salah satu AUM PDA Sidoarjo, telah mengajukan diri menjadi tuan rumah pengajian berikutnya,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments