Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

KH Thoha Kupas Makna Niat dan Keikhlasan dalam Pengajian Ahad Ceria PRM Sumbersari

Iklan Landscape Smamda
KH Thoha Kupas Makna Niat dan Keikhlasan dalam Pengajian Ahad Ceria PRM Sumbersari
KH Thoha Muntoha Abdul Manan saat menyampaikan ceramah di Pengajian Ahad Ceria. Foto: Muhammad Fajar Al Amin/PWMU.CO.
pwmu.co -

Pengajian Ahad Ceria yang digelar Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sumbersari, Jember kembali menghadirkan suasana hangat dan penuh tawa ketika KH Thoha Muntoha Abdul Manan, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Minhajut Thullab, Banyuwangi.

Dalam pengajian ini, ia menyampaikan ceramah berisi pesan mendalam tentang niat, keikhlasan, dan kesadaran universal lillahi ta’ala. Kegiatan ini berlangsung di Halaman Masjid Al Qolam, Universitas Muhammadiyah Jember pada Ahad (23/11/2025).

Di awal ceramah, ia membuka dengan salam, syahadat, dan shalawat, kemudian langsung mengajak jamaah menertawakan kebiasaan manusia, pembuka khasnya yang membuat suasana rileks sebelum memasuki materi sarat makna.

Kyai Thoha memulai dengan pernyataan tajam bahwa seluruh jamaah yang hadir adalah wali Allah. Ia menjelaskan bahwa konsep wali Allah bukan seperti gambaran asing tentang sosok berambut gondrong, berperilaku aneh, atau menjalani ritual ganjil.

Menurutnya, Al-Qur’an memberikan definisi sederhana: wali adalah mereka yang tidak sedih, tidak gelisah, dan hidup dalam kegembiraan.

Karena itu, ia menyindir dengan humor, “Kalau panjenengan masih mudah cemberut, itu tandanya surganya ditangguhkan dulu.” Jamaah tertawa, namun pesan ruhaniyah yang disampaikan begitu kuat. Ia lalu mengaitkan konsep tersebut dengan sikap seorang pemimpin.

Menurutnya, pengurus Muhammadiyah seharusnya tidak mudah mengeluh. Keluhan adalah tanda hati kurang lapang, sementara dakwah membutuhkan wajah teduh dan jiwa kuat. Ia menegaskan bahwa kelapangan hati berawal dari niat, dan niat yang tulus melahirkan ketenangan batin.

Ceramah mengalir menuju kisah Nabi Ibrahim. Kyai Thoha menuturkan bahwa doa panjang umur Nabi Ibrahim yang dijawab Allah bukan dengan kata-kata, tetapi melalui sebuah peristiwa kecil: hadirnya tamu sangat tua yang menikmati anggur hingga akhirnya diare.

“Begitu tamu itu diare, akhirnya ia tidak jadi memanjatkan doa panjang umur karena ia takut jika umur panjang tapi kondisinya diare,” kisahnya, disambut tawa jamaah.

Dari kisah itu, lanjutnya, dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada panjang usia, banyak harta, atau kuatnya fisik, melainkan pada kelapangan hati. Allah sering menjawab doa manusia melalui kejadian sederhana yang tidak disadari.

Dari pembahasan Nabi Ibrahim, Kyai Thoha masuk pada tema merawat Muhammadiyah. Dengan gaya bercanda ia mengatakan bahwa mengurusi Muhammadiyah tidaklah rumit, cukup dengan menyekolahkan anak-anak di sekolah Muhammadiyah.

Ia bercerita bahwa kelima anaknya ia sekolahkan di amal usaha Muhammadiyah, meski harus mengantar jauh ke luar kota.

“Kalau jadi pimpinan Muhammadiyah tapi anaknya tidak sekolah di Muhammadiyah, ya agak aneh to?,” ujarnya yang membuat jamaah tergelak.

Meski humoris, pesannya tegas: komitmen kepada Muhammadiyah dimulai dari rumah.

Selanjutnya, Kyai Thoha juga membahas mengenai niat. Ia bercerita bahwa ia pernah bertanya kepada ChatGPT apakah niat termasuk partikel. Dari dialog itu, ia membawa jamaah memahami bahwa niat adalah “sub-atom spiritual”, lebih kecil dari atom tetapi memiliki energi, bobot, dan arah yang menentukan hidup manusia.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Kalau sejak awal orang meniatkan dirinya gagal, ya gagal. Kalau berniat sukses, geraknya akan mengarah ke sana,” ucapnya.

Ia mencontohkan para imigran yang mampu menjadi wali kota di negara-negara besar karena niatnya yang kuat.

Selanjutnya, ia juga mencontohkan bahwa ada seorang penjual kacang yang dengan tulus mewakafkan masjid. Masjid itu berkembang besar karena ketulusan wakafnya menjadi energi yang menghidupkan jamaah.

“Kekuatan Muhammadiyah dibangun atas keikhlasan serupa: para pendiri dan penggeraknya tidak meminta imbalan apa pun ketika berjuang,” sambungnya.

Ceramah kembali mencair ketika ia membahas sakit dan sehat. Ia mengatakan bahwa orang sehat justru lebih dekat kepada maksiat karena banyak keinginan, sedangkan orang sakit hanya punya satu keinginan: sehat.

Maka dari itu, lanjutnya, orang sehat harus bersyukur dan berhati-hati mengisi waktunya.

Dengan candanya ia berkata, “Kalau ingin bahagia, dipaksa senyum dulu. Lama-lama senyum jadi sifat.”

Meski disampaikan dengan gaya ringan dan humoris, seluruh pesan Kyai Thoha bermuara pada satu inti: niat yang jernih, hati yang ikhlas, dan kesadaran lillahi ta’ala adalah fondasi arah hidup seorang Muslim.

Dari niat itulah seseorang mampu menjalani hidup dengan lapang, tekun beramal, menjaga amanah, dan membaca setiap peristiwa sebagai kasih sayang Allah.

Mengakhiri materi, ia memaparkan konsep kesadaran universal sebagai tingkat tertinggi seorang hamba, yakni ketika manusia tidak hanya belajar dari kata-kata, tetapi juga dari peristiwa yang Allah hadirkan.

“Jika tidak bisa dinasehati dengan kata-kata, maka akan dinasehati peristiwa,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa sakit, kegagalan, atau kehilangan sering menjadi sarana Allah menyadarkan manusia.

“Sakit itu bukan azab. Itu cara Allah memanggil kita untuk kembali mengingat-Nya,” pungkasnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu