Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

KHGT Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Iklan Landscape Smamda
KHGT Babak Baru Peradaban Kalender Islam
Pujiono. Foto: Dok/Pri
Oleh : Pujiono Mahasiswa S3 PAI- UMS /Pengasuh PonpesMU Manafi'ul 'Ulum Sambi
pwmu.co -

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian.

Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta tahun terjadi secara administratif—meskipun matahari tidak “terlihat” secara langsung sebagai penanda perubahan itu.

Namun kesepakatan global menjadikannya kokoh, seragam, dan menjadi fondasi peradaban dunia modern: ekonomi, pendidikan, politik, hingga teknologi.

Ironisnya, umat Islam yang memiliki sistem kalender sendiri—kalender qamariah (berbasis peredaran bulan)—belum memiliki kesatuan global yang serupa.

Padahal seluruh ibadah utama dalam Islam ditentukan oleh kalender ini: Muharam, Safar, Rabiul Awal, Ramadan, Syawal, Dzulhijjah, dan seterusnya.

Puasa Ramadan, Idulfitri, Iduladha, bahkan wukuf di Arafah, semuanya berpijak pada kalender hijriah.

Kita patut bertanya, mengapa dunia bisa sepakat pada kalender syamsiah, sementara umat Islam yang jumlahnya lebih dari satu miliar masih berbeda dalam menetapkan awal bulan?

Mengapa kalender matahari menjadi simbol peradaban global, sementara kalender Islam belum sepenuhnya menjadi simbol kesatuan umat?

Di sinilah makna penting Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) hadir sebagai babak awal peradaban kalender Islam.

KHGT bukan sekadar proyek teknis astronomi. Ia adalah ikhtiar peradaban. Sebuah langkah menuju kesatuan waktu umat Islam sedunia.

Jika dunia bisa sepakat bahwa pukul 00.01 adalah hari berikutnya meskipun matahari tidak tampak, maka umat Islam pun semestinya mampu membangun kesepakatan berbasis ilmu falak modern, hisab astronomis yang presisi, dan ijtihad kolektif.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Kalender bukan sekadar penanggalan. Ia adalah simbol kedaulatan peradaban. Sejarah mencatat, ketika Umar bin Khattab menetapkan kalender hijriah dengan menjadikan peristiwa hijrah sebagai titik awal, itu bukan hanya keputusan administratif. Itu adalah deklarasi identitas dan kemandirian umat.

Maka kelahiran KHGT hari ini adalah semangat yang sama: membangun identitas global umat Islam dalam bingkai ilmu pengetahuan dan persatuan.

Apresiasi setinggi-tingginya patut kita berikan kepada para ulama, cendekiawan, dan ilmuwan falak yang berikhtiar menghadirkan kalender Islam yang tunggal dan terintegrasi.

Kita tidak sedang menolak kalender masehi. Kita tetap memakainya dalam kehidupan sosial global. Namun sebagai umat yang memiliki sistem ibadah berbasis qamariah, kita semestinya lebih bangga, lebih peduli, dan lebih familiar dengan kalender hijriah kita sendiri.

KHGT adalah babak awal. Ia mungkin belum sempurna, mungkin masih memerlukan dialog dan penyempurnaan.

Tetapi peradaban besar selalu dimulai dari keberanian untuk menyatukan visi. Jika dunia sepakat pada satu kalender matahari, maka umat Islam pun harus optimis mampu bersatu dalam satu kalender bulan.

Inilah momentum kebangkitan kesadaran waktu umat. Inilah langkah menuju kesatuan global. Dan inilah awal peradaban kalender Islam yang patut kita sambut dengan harapan dan dukungan penuh.

Fenomena bulan itu bersifat global, bukan lokal. Bulan tidak hanya “milik” satu negara. Maka logikanya, kalender Islam juga idealnya bersifat internasional. selamat datang Babak baru Kalender Islam. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu