Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

KHGT dan Potensi Peralihan Penggunaan Kalender Solar ke Kalender Lunar di Tingkat Global

Iklan Landscape Smamda
KHGT dan Potensi Peralihan Penggunaan Kalender Solar ke Kalender Lunar di Tingkat Global
pwmu.co -
(Fadlan/PWMU.CO)

Oleh: Fadlan – Sekretaris LPCRPM Lamongan

PWMU.CO – Pada Rabu (25/6/2025), yang bertepatan dengan 29 Dzulhijjah 1446 H, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengawali babak baru dalam dunia ijtihad dengan meluncurkan penggunaan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT). Acara ini berlangsung di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.

Pemilihan hari dan tanggal tersebut tentu didasarkan pada berbagai pertimbangan yang matang. Salah satunya adalah karena tanggal 29 Dzulhijjah 1446 H merupakan hari terakhir dalam kalender Hijriyah tahun ini. Hal ini sekaligus menandai bahwa Kamis (26/6/2025), menjadi 1 Muharram 1447 H atau Tahun Baru Hijriyah, yang dirayakan oleh seluruh umat Islam di dunia.

Bukan tanpa kritik, namun harus diakui bahwa penerapan KHGT merupakan tonggak baru yang bersejarah jika dilihat dari berbagai sudut pandang. Baik dalam aspek ijtihad, bidang fikih dan ibadah, administrasi dan pemerintahan, pencatatan waktu dan peristiwa penting, maupun bidang-bidang lainnya. KHGT menjadi jejak capaian sekaligus peninggalan peradaban bagi umat manusia, khususnya umat Islam, di masa depan.

Kalender merupakan salah satu wujud nyata dari wajah peradaban umat manusia di muka bumi. Sejarah mencatat berbagai macam bentuk dan sistem kalender yang pernah berlaku dan diterapkan dari waktu ke waktu, mulai dari peradaban masyarakat kuno hingga masyarakat modern pada masa kini.

Jejak sejarah mencatat, setidaknya ada dua model kalender yang digunakan umat manusia. Pertama, kalender solar atau kalender matahari (kalender syamsiyah), yaitu sistem penanggalan yang perhitungannya didasarkan pada pergerakan bumi mengelilingi matahari (revolusi bumi). Bentuk turunannya yang paling dikenal saat ini adalah kalender Masehi (Miladiyah).

Kedua, kalender lunar atau kalender bulan (kalender qamariyah) adalah sistem penanggalan yang perhitungannya didasarkan pada siklus fase-fase bulan dalam perjalanannya mengelilingi bumi. Bentuk turunannya yang dikenal dalam tradisi Islam adalah Kalender Hijriyah.

Konferensi atau Kongres Islam di Turki pada tahun 2016 menjadi titik awal dimulainya babak baru, melalui sebuah gagasan besar tentang masa depan peradaban Islam, yakni penyatuan kalender Islam global. Gagasan ini kemudian melahirkan berbagai inisiatif, salah satunya di Indonesia yang diwujudkan melalui lahirnya KHGT yang baru saja dilaunching oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Persyaratan sebagai Kalender Islam

Menisbatkan diri sebagai sebuah sistem kalender Islam, KHGT tentu tidak bisa berdiri begitu saja. Bekal ilmu pengetahuan, hasil penelitian, perhitungan, dan bantuan teknologi saja tidak cukup untuk menjadikannya layak disebut sebagai kalender Islam. Oleh karena itu, secara garis besar dibutuhkan dua syarat utama:

Pertama, agar dapat disebut sebagai kalender Islam, landasan utamanya harus bersumber dari dalil syariat. Artinya, konsep kalender tersebut harus memiliki dasar yang kuat dalam al-Quran dan Hadits Nabi SAW. Hal ini penting karena salah satu fungsi utama kalender Islam adalah sebagai penanda waktu ibadah.

Kemudian, sebagaimana kita ketahui bersama, penerapan KHGT disusun berlandaskan dalil-dalil syar’i yang kuat, sebagaimana tercantum dalam beberapa ayat al-Quran dan hadits Nabi. Hal ini telah banyak disosialisasikan melalui berbagai media, seperti ceramah, pengajian, seminar, tulisan, edaran, berita, dan lain-lain.

Poin pentingnya adalah bahwa landasan syar’i ini dipegang teguh semata-mata untuk menjaga kemantapan dan menghadirkan rasa yakin dalam menjalankan ibadah.

Kedua, sebagai sebuah sistem kalender, KHGT wajib menampilkan kebenaran ilmiah, baik dalam bentuk hasil perhitungan matematis dan metodologis yang dapat dibuktikan secara empiris, serta mampu diuji akurasinya dengan kemajuan dan kecanggihan teknologi. Secara matematis, KHGT mensyaratkan perhitungan (hisab) Imkanur Rukyat Global dengan ketinggian bulan minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat di belahan bumi manapun.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Dengan demikian, kedua parameter di atas dapat disimpulkan sebagai benar secara syariah dan terbukti secara ilmiah. Kebenaran ilmiah tersebut tidak bertentangan dengan syariah, sekaligus menjadi wujud rahmat lil ‘alamin bahwa kemajuan ilmu dan teknologi dapat digunakan untuk menerjemahkan dalil yang bersifat syar’i.

Visi jangka panjang

Dalam berbagai pemaparan, kita mendapatkan penjelasan bahwa KHGT memiliki akurasi dan kemampuan untuk disusun hingga rentang waktu sekitar 500 tahun ke depan. Dengan demikian, kita dapat mengetahui kapan mulai puasa, kapan hari raya, baik 10 tahun ke depan, 100 tahun ke depan, maupun seterusnya.

“satu tanggal di satu hari yang sama” tidaklah berlebihan. Kalimat ini unik karena sekaligus menggelitik dan halus mengkritik praktik yang diklaim benar tanpa mau dikaji ulang. Sebagai cita-cita luhur jangka panjang, hal ini mencerminkan harapan akan persatuan dan kebangkitan Islam serta umat Islam untuk kembali memimpin peradaban dunia dan menjalankan tujuan mulia sebagai khalifah di bumi.

Potensi Peralihan Penggunaan Kalender Miladiyah ke KHGT Masyarakat Dunia

Di tengah segala hiruk-pikuk, kritik, masukan, dukungan, dan penolakan, ada hal unik yang layak kita cermati dalam masyarakat dewasa ini. Kemajuan zaman dan teknologi, termasuk di bidang informasi, telah membawa manusia pada batasan yang hampir tak terhingga. Setiap informasi yang disampaikan atau disajikan sering kali menuntut masyarakat untuk meminta bentuk pembuktiannya.

Tak menutup kemungkinan akan terbuka kembali ruang diskusi mengenai kalender Masehi yang didasarkan pada perhitungan matahari. Kalender ini bisa saja kembali digugat dan dipertanyakan, karena hanya orang-orang dengan keahlian khusus yang mampu memahami kebenaran dan perhitungannya. Hal ini berbeda jauh dengan kalender Hijriyah yang berbasis pada fase pergerakan bulan. Selain terbukti secara ilmiah, kalender bulan juga dapat dibuktikan secara empiris, bahkan oleh masyarakat awam.

Para pakar boleh berdebat, beradu dalil, dan argumen sampai berbusa-busa untuk menentukan kapan awal bulan dimulai pada tanggal 1 (satu), namun tak dapat dipungkiri bahwa bukti ilmiah dan kenyataan empiris di masyarakat menunjukkan kebesaran Tuhan melalui fenomena langit. Pada hari atau malam berikutnya, bulan tampak sudah lebih tinggi posisinya. Secara umum, masyarakat sering berujar, “Bulannya kok sudah tinggi,” atau “Oh, berarti benar yang itu…”. Inilah fakta ilmiah, kebenaran matematis, maupun empiris yang tak dapat disangkal.

Dalam konteks masyarakat modern saat ini, di manapun di belahan bumi, orang cenderung lebih menyukai hal-hal yang secara praktis dapat mereka buktikan. Sebagai contoh, ketika kita atau umat manusia di berbagai penjuru dunia melihat fenomena langit dan bulan di malam hari, mereka langsung membuat simpulan seperti, “Bulannya kok segitu,” atau “Oh, berarti ini tanggal sekian,” dan seterusnya.

Hal ini tentu menjadi nilai positif yang dapat menumbuhkan sikap penerimaan terhadap penggunaan KHGT, bukan hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi seluruh umat manusia di dunia.

Dari sini, penggunaan kalender bulan atau KHGT dapat menjadi pilihan penanggalan bagi masyarakat dunia. Selain akurasinya yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan, secara empiris seluruh umat manusia di dunia juga dapat menjadi saksi dan melihat bukti nyatanya dengan menyaksikan fenomena fase bulan di malam hari.

Tentu impian dan cita-cita menuju ke arah tersebut masih jauh dari kenyataan, namun kita harus yakin bahwa hal itu tidak mustahil untuk tercapai. Untuk menggapainya, diperlukan kesatuan dan dukungan dari seluruh umat Islam, agar Islam benar-benar dapat dirasakan kehadirannya sebagai rahmat bagi dunia dan alam semesta. (*)

Editor Ni’matul Faizah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu