Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Khotbah Idulfitri Sekretaris PWM Jatim: Retret Melalui Mudik Kultural-Spiritual

Iklan Landscape Smamda
Khotbah Idulfitri Sekretaris PWM Jatim: Retret Melalui Mudik Kultural-Spiritual
Prof. Dr. Biyanto, M.Ag, Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kemendikdasmen; Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (Foto: ist/PWMU.CO)
Oleh : Prof. Dr. Biyanto, M.Ag Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kemendikdasmen; Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur

اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ, لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلاَّ اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰه، اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰه، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللّٰهُ الْعَظِيمْ

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Hadirin Rahimakumullah

Alhamdulillah, marilah kita bersyukur atas semua rahmat dan karunia Allah SWT. Pada pagi ini kita dapat menyempurnakan ibadah Ramadan 1447 Hijriah dengan menunaikan shalat Idul Fitri secara berjamaah. Insha Allah kita hadir di tempat terbuka kompleks kampus yang megah ini dalam keadaan sehat wal ’afiyat.

Semoga seluruh rangkaian ibadah Ramadan kita diterima oleh Allah dan diganjar dengan pahala yang berlipat ganda. Pada bulan ramadan semua amal kebaikan kita dilipatgandakan pahalanya oleh Allah. Begitu mulianya bulan Ramadan hingga pada penghujung bulan Sya’ban, Rasulullah SAW berpidato dengan pernyataan:

أَيُّهَا النَّاسُ، قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيمٌ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Wahai manusia! Kini telah dekat kepada kalian satu bulan Agung, bulan yang sarat dengan berkah, bulan yang di dalamnya ada satu malam yang lebih baik ketimbang seribu bulan” (HR. Ahmad dan Nasa’i)

Hadis Nabi tersebut sekaligus menunjukkan komitmen ajaran Islam terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Panggilan ayyuhan nas, menunjukkan bahwa keberkahan Ramadan bukan hanya diperuntukkan bagi umat Islam, melainkan juga seluruh umat manusia. Bahkan dalam kondisi dunia yang sedang diwarnai ketegangan dan peperangan saat ini, pesan kemanusiaan dalam ajaran Islam penting ditegakkan bersama. Dalam konteks ini, Allah berfirman:

مَن قَتَلَ نَفْسًۢا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى ٱلْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًا

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya” (QS. Al-Maidah [5]: 32).

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Hadirin Rahimakumullah

Topik khotbah Idulfitri pada pagi ini adalah ”Idul Fitri dan Pentingnya Retret Melalui Mudik Kultural-Spiritual”. Kata ”retret” kini sudah menjadi bahasa Indonesia dan terdaftar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Istilah ini bermakna kegiatan mengasingkan diri atau memisahkan diri sementara waktu dari keramaian/rutinitas untuk mencari ketenangan batin, berdoa, dan melakukan refleksi.

Dengan pengertian tersebut, kata retret sering digunakan dalam konteks pelatihan (training) spiritual. Kini retret juga menjadi kegiatan dalam rangka pembekalan bagi pejabat publik, baik di instansi pemerintahan maupun swasta. Topik ini dibahas mengingat Ramadan juga sering dinamakan bulan pendidikan (syahrut-tarbiyyah). Pendidikan melalui ibadah Ramadan begitu efektif membuat orang semangat beribadah dan berperilaku jujur.

Ramadan dan Idulfitri juga selalu diwarnai dengan budaya mudik sebagai bagian dari tradisi yang khas Islam di nusantara. Hawa kampung halaman terasa begitu menyengat pada setiap menjelang Hari Raya idulfitri. Bahkan, sebagian perantau telah merasakan hawa kampung halaman saat jelang ramadan. Keinginan untuk mudik ke kampung halaman pun tidak tertahan lagi.

Karena itulah dapat dipahami jika gelombang mudik terus mengalami peningkatan. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memproyeksikan, jumlah pemudik pada tahun 2026 mencapai 143,91 juta orang. Hal itu berarti lebih dari 50% penduduk negeri ini akan bergerak dari tempat kerja di perantauan ke kampung halaman masing-masing. Jika dimaknai secara mendalam, mudik dapat dijadikan sebagai retret kultural dan spiritual.

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Hadirin Rahimakumullah

Retret Melalui Mudik Kultural

Menurut pengamatan Andre Moller dalam Ramadan in Java: The Joy and Jihad of Ritual Fasting (edisi Indonesia; Ramadan di Jawa: Pandangan dari Luar [2005]), dikatakan bahwa fenomena mudik ke kampung halaman merupakan aktivitas keagamaan yang unik. Mudik bertujuan untuk merayakan Idulfitri bersama orang tua, saudara, kerabat, dan teman sepermainan di kampung halaman.

Pertanyaannya, apa motivasi para pemudik bergerak dari tempat perantauan ke kampung kelahiran? Padahal, untuk kepentingan mudik mereka harus mengeluarkan biaya yang besar, meluangkan waktu, berpeluh keringat, dan bersusah payah selama dalam perjalanan. Bahkan, banyak pemudik yang berkendara sepeda motor berboncengan bersama keluarga dengan barang bawaan yang banyak.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mudik berasal dari kata udik yang berarti kampung, desa, atau dusun. Kata udik juga berarti hulu sungai, tempat semua aliran air berawal. Dari pengertian ini dipahami bahwa mudik berkaitan dengan ajaran agar seseorang kembali ke daerah asal untuk mengingat masa lalunya saat memulai kehidupan di kampung halaman.

Tentu banyak kenangan indah yang dirasakan bersama keluarga, kerabat, dan teman-teman sepermainan. Kenangan indah itulah yang ingin dihadirkan kembali melalui beragam kegiatan selama mudik di kampung halaman.

Yang menarik, fenomena mudik telah menjadi budaya lintas etnis dan agama. Perantau dengan berbagai latar belakang agama dan etnis menjadikan mudik layaknya ritual tahunan.

Budaya mudik juga tidak mengenal latar belakang sosial ekonomi. Pemudik berkeyakinan bahwa mudik ke kampung halaman sangat bermakna bagi kehidupan. Selalu ada energi positif yang dirasakan jika seseorang kembali ke kampung halaman. Berbagai motivasi turut menyertai para pemudik, seperti rindu kampung halaman, sungkem orang tua, silaturrahim dengan saudara, nyekar anggota keluarga yang telah meninggal, reuni bersama teman, dan keinginan berbagi dengan sesama.

Pemudik juga terbiasa memberikan bingkisan Lebaran pada keluarga dan tetangga terdekat. Tradisi berbagi para pemudik itu memberikan pelajaran berharga. Mereka telah mengamalkan ajaran agama yang menekankan pentingnya memberi (religious giving). Dalam kaitan ajaran pentingnya memberi, Rasulullah bersabda:

اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah” (HR. Muslim).

Hadis tersebut mengajarkan bahwa memberi (tangan di atas) lebih mulia daripada menerima (tangan di bawah). Hadis ini sekaligus memotivasi umat Islam untuk mandiri, giat bekerja, dan bersedekah, bukan menjadi peminta-minta.

Ajaran memberi dan memberi ini sangat penting. Apalagi di berbagai daerah negeri ini banyak diuji dengan bencana alam. Dunia juga sedang mengalami tragedi kemanusiaan, yakni peperangan yang dahsyat.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Kebiasaan pemudik untuk berbagi pada sesama merupakan teladan yang penuh makna. Padahal jika kita amati, tidak semua pemudik yang mempraktikkan ajaran memberi itu sukses bekerja di perantauan. Sebagian perantau mengalami kesulitan hidup karena berpenghasilan kecil dan tidak menentu. Bahkan, sebagian mereka juga kehilangan pekerjaan akibat terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Tetapi semua kesulitan yang dihadapi di perantauan seakan hilang begitu tiba di kampung halaman. Suasana dan hawa kampung halaman yang alami untuk sementara waktu bisa menjadi pelipur lara.

Pemudik pun tampak begitu menikmati suasana kampung halaman. Kebahagiaan dan ketulusan terpancar dari wajah mereka. Retret melalui mudik kultural ke kampung halaman memberi energi positif yang berharga sebagai bekal kembali ke kota.

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Hadirin Rahimakumullah

Retret Melalui Mudik Spiritual

Selain mudik kultural jelang Ramadan dan Idulfitri, secara metaforis Al-Qur’an juga memerintahkan untuk mudik spiritual. Mudik spiritual dalam Al-Qur’an bermakna kembali kepada ampunan (maghfirah) Allah SWT. Mudik spiritual juga bermakna kembali ke kampung akhirat (darul-akhirah). Dalam konteks ini Allah berfirman;

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali ‘Imran: 133).

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

”(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali ‘Imran: 134).

Firman Allah tersebut memberikan panduan sekaligus perintah agar kita bersegera mudik dengan cara kembali pada ampunan Tuhan. Mudik spiritual dalam pengertian kembali ke ampunan Tuhan inilah yang harus selalu dilakukan setiap saat, tidak hanya menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Mudik spiritual juga mensyaratkan kita untuk berbuat yang terbaik dengan sesama (hablun minan-nas).

Dalam literatur filsafat dan mistik Jawa, perintah mudik spiritual berkaitan dengan ajaran ”Sangkan-Paraning Hurip” (Asal dan Tujuan Hidup). Bahkan juga ajaran ”Sangkan-Paraning Dumadi” (Asal dan Tujuan Semua Makhluk). Filsafat kesufian Jawa mengajarkan bahwa Tuhan Yang Maha Esa merupakan asal dan tujuan hidup.

Hal itu berarti setiap orang harus menyadari dari mana dia berasal, untuk apa dia hidup di dunia, dan ke mana tujuan akhir dari drama kehidupan manusia. Pada konteks itulah dapat dipahami bahwa mudik spiritual berkaitan dengan keyakinan bahwa kita semua milik Allah dan akan kembali pada Allah.

Dalam perspektif Islam, ajaran ”Sangkan-Paraning Hurip” dan ”Sangkan-Praning Dumadi” itu sejalan dengan keyakinan bahwa sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah jua kita akan kembali. Dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 156, Allah berfirman:

الَّذِيۡنَ اِذَآ اَصَابَتۡهُمۡ مُّصِيۡبَةٌ قَالُوۡٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّـآ اِلَيۡهِ رٰجِعُوۡنَؕ

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)”.

Melalui retret mudik kultural kita memperoleh pelajaran betapa para pemudik telah mengamalkan pesan penting puasa dalam bentuk yang lebih konkrit. Para pemudik mengajarkan pentingnya berbagi dengan sesama melalui pemberian angpao, pakaian, jajanan, dan bingkisan lebaran lainnya. Ini adalah pelajaran mengenai pentingnya kita menegakkan nilai-nilai kemanusiaan.

Pertanyaannya, bagaimana dengan persiapan untuk mudik spiritual ke kampung akhirat? Jika untuk mudik kultural ke kampung halaman kita membutuhkan begitu banyak bekal, maka untuk mudik spiritual ke kampung akhirat pasti membutuhkan persiapan yang berlebih.

Pada konteks itulah, dalam mudik spiritual kita seharusnya mampu menangkap substansi Idulfitri yang mengajarkan pentingnya peningkatan ketaatan pada Allah. Hal ini sejalan dengan ajaran yang menyatakan;

 ليست العيد لمن لبس الجديد و لكنّ العيد لمن تقواه يزيد

”Esensi Idul Fitri tidak terletak pada pakaian yang baru, melainkan ketakwaan yang terus bertambah”.

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Hadirin Rahimakumullah

Untuk kepentingan mudik spiritual ke kampung akhirat, yang dibutuhkan adalah komitmen senantiasa kembali pada ampunan Tuhan. Pada konteks inilah derajat ketakwaan sebagai hasil dari ibadah puasa penting menjadi bekal untuk menggapai mudik spiritual. Akhirnya, semoga ramadan tahun ini menjadi ramadan luar biasa sehingga melahirkan pribadi-pribadi yang senantiasa mudik spiritual.

Akhirnya, marilah kita menutup khutbah Idulfitri dengan berdoa. Semoga seluruh amal ibadah kita pada Ramadan 1447 Hijriah diterima oleh Allah. Kita juga berharap semoga masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Ramadan 1448 Hijriah mendatang.

اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارً. اَللّٰهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَتُبْ عَلَيْنَا يَا مَوْلَانَآ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ بَلَدًا آمِنًا، سَعِيدًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ. اَللهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ. اَللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِىْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُون٠ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِين٠ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡