السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ،
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang masih memberikan nikmat kehidupan hingga hari ini.
Nikmat iman, nikmat Islam, nikmat sehat, hingga kita bisa menunaikan ibadah Jumat. Semoga semua nikmat ini menjadi sebab kita kembali kepada Allah dalam keadaan husnul khatimah.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Untuk melahirkan kehidupan dunia yang baik (hayatan thayyibah) dan menutupnya dengan akhir yang baik (husnul khotimah), maka setiap insan beriman wajib memahami hakikat kehidupan ini.
Allah SWT membuka penjelasan tentang esensi kehidupan dalam Surah Al-Hadid ayat 20:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا…
Perhatikan kata pertama: اعْلَمُوا — Ketahuilah!
Ini pengumuman penting. Jika pengumuman dari presiden saja penting, maka pengumuman dari Allah tentu jauh lebih penting. Disampaikan melalui Jibril, pemimpin malaikat, kepada Nabi Muhammadsaw, pemimpin para nabi. Maka isinya sangat menentukan arah hidup kita.
Apa isi pengumuman itu?
1. Dunia Itu Permainan (لَعِبٌ)
Permainan itu ramai, menyenangkan, lalu selesai. Anak bermain bola, setelah itu pulang. Jabatan hari ini ada, besok selesai. Presiden selesai. Panglima selesai. Direktur selesai. Masa muda selesai.
Dunia tidak abadi. Maka memperebutkan sesuatu yang sementara dengan menyakiti orang lain adalah tanda tidak cerdas. Orang cerdas memilih yang abadi.
Bayangkan ada dua benda: satu abadi, satu pasti hancur. Mana yang dipilih orang berakal?
2. Dunia Itu Senda Gurau (وَلَهْوٌ)
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin memberi ilustrasi:
Manusia seperti penyelam yang diberi tabung oksigen terbatas, misalnya 24 jam, dengan misi mencari lima mutiara dan enam permata.
Namun ketika menyelam, ia terpukau oleh ikan warna-warni, terumbu karang, keindahan laut. Ia lupa misinya. Oksigen habis sebelum kembali ke permukaan.
Yang gagal bukan karena kurang oksigen. Bukan karena arus terlalu deras. Tetapi karena lupa misi. Begitulah manusia. Terpukau dunia, lupa akhirat.
Mutiara itu ibarat rukun Islam. Permata itu ibarat rukun iman. Itulah bekal untuk kembali.
3. Dunia Itu Perhiasan (وَزِينَةٌ)
Orang ingin tampil indah. Ingin populer. Ingin dilihat.
Padahal kebutuhan hidup itu sederhana: makan untuk menghilangkan lapar. Minum untuk menghilangkan haus. Pakaian untuk menutup aurat.
Ketika keinginan lebih besar dari kebutuhan, beban hidup menjadi berat. Mobil bukan lagi untuk sampai tujuan, tapi agar tetangga tahu.
Pakaian bukan untuk menutup aurat, tapi untuk pamer. Konten dibuat bukan untuk manfaat, tapi untuk popularitas. Akhirnya lupa bahwa kita akan pulang.
4. Saling Berbangga (وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ)
Bangga jabatan. Bangga prestasi. Bangga pengikut. Bangga popularitas.
Bahkan dalam dakwah bisa terjebak: mengajar untuk Allah atau untuk terkenal?
5. Berlomba dalam Harta dan Anak (وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ)
Tidak salah kaya. Utsman bin Affan kaya. Abdurrahman bin Auf kaya.
Utsman membeli sumur untuk umat. Hari ini tanah itu menjadi hotel, hasilnya terus mengalir untuk umat Islam. Lima belas abad berlalu, pahalanya terus berjalan. Itulah dunia yang dijadikan jalan menuju akhirat.
Tapi jika harta hanya untuk foya-foya, judi, hiburan, maka itulah yang disebut:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kesenangan yang menipu.”
Jamaah sekalian,
Dunia hari ini bahkan lebih berat ujiannya. Kemaksiatan semakin terbuka. Penyimpangan moral semakin dianggap biasa. Ini tanda dunia tidak baik-baik saja.
Jika ingin selamat, jadikan dunia sebagai sarana, bukan tujuan.
Gunakan dunia untuk mencari akhirat. Gunakan jabatan untuk amanah. Gunakan harta untuk sedekah. Gunakan ilmu untuk dakwah.
Aqulu qauli hadza wa astaghfirullaha li wa lakum.
Khutbah Kedua
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Mari menjelang Ramadan kita perbaiki orientasi hidup. Jangan sampai dunia menjadi tujuan terbesar kita.
Allah SWT berfirman:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Seimbangkan dunia dan akhirat, tetapi jadikan akhirat sebagai tujuan utama.”
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات
اللهم أصلح لنا ديننا ودنيانا وآخرتنا
اللهم ارزقنا حسن الخاتمة
ولا تجعل الدنيا أكبر همنا ولا مبلغ علمنا
إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى
وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي
يعظكم لعلكم تذكرون
أقم الصلاة.
Sumber: Youtube Adi Hidayat Official






0 Tanggapan
Empty Comments