إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نبينا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَتَقْوَى اللَّهِ فَوْزٌ لَنَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa dalam arti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Salah satu bukti ketakwaan adalah antusiasme kita dalam menyambut syiar-syiar Allah, termasuk mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Berdasarkan perhitungan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), insya Allah 1 Ramadan 1447 H akan jatuh pada tanggal 18 Februari 2026.
Artinya, saat ini kita sudah berada di ambang pintu gerbang Ramadan. Kita sedang berada di bulan Sya’ban, sebuah momentum yang sangat strategis dalam kalender ibadah kita.
Namun sayang, bulan Sya’ban sering kali menjadi bulan yang seolah terlupakan. Padahal, Rasulullah saw memberikan perhatian yang luar biasa besar terhadap bulan ini melalui ibadah puasa.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Bulan Syaban menempati posisi strategis dalam kalender ibadah. Bulan ini berada di antara Rajab dan Ramadan.
Dalam beberapa riwayat, Rasulullah saw secara nyata menunjukkan perhatian khusus terhadap bulan ini, terutama dengan memperbanyak puasa.
Di antara dalil paling kuat tentang puasa Sya’ban adalah hadis riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim dari Ummul Mukminin Aisyah ra. Hadis tersebut berbunyi:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
“Dari ‘Aisyah ra… dan aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasanya satu bulan penuh kecuali di bulan Ramadan, dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa melebihi puasanya di bulan Sya’ban.”
Dalam riwayat lain yang juga dari Aisyah ra (HR. An-Nasa’i), ditegaskan betapa padatnya jadwal puasa Nabi di bulan ini:
كَانَ يَصُومُهُ كُلَّهُ إِلَّا قَلِيلًا بَلْ كَانَ يَصُومُهُ كُلَّهُ
“Beliau (Nabi Muhammad saw) berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya kecuali sedikit saja, bahkan beliau hampir berpuasa pada seluruh hari di bulan Sya’ban.”
Hadis-hadis di atas menunjukkan bahwa meskipun puasa sebulan penuh hanya wajib di bulan Ramadan, namun frekuensi puasa Nabi Muhammad saw di bulan Sya’ban adalah “latihan tingkat tinggi” sebelum memasuki bulan suci.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Dari dua hadis tersebut, dapatlah kita menyimpulkan dua hal penting bagi kita:
Bagi yang mampu: Sangat dianjurkan memperbanyak puasa sunah, baik itu Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, atau puasa Daud.
Bagi yang lemah: Jika khawatir fisiknya akan lemah saat Ramadan nanti, maka cukupkanlah berpuasa sekadar kemampuan agar tidak mengganggu kewajiban puasa Ramadan yang lebih utama.
Mari kita jadikan Sya’ban tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jangan biarkan bulan ini berlalu tanpa ada satu hari pun kita berpuasa sunah sebagai bentuk “pemanasan” iman dan raga kita.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Selain sebagai bulan sunah, Sya’ban juga merupakan bulan yang biasa untuk melunasi hutang puasa wajib. Ibunda Aisyah RA pernah bercerita dalam hadis sahih:
قَالَ سَمِعْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَقُولُ كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلَّا فِي شَعْبَانَ الشُّغْلُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Saya mendengar ‘Aisyah ra berkata: “Aku masih punya hutang puasa Ramadan. Tetapi aku belum membayarnya sehingga tiba bulan Sya’ban, barulah kubayar, berhubungan dengan kesibukanku bersama Rasulullah saw.”
Bagi para suami, ingatkanlah istri dan anak-anak perempuan di rumah. Jika masih ada utang puasa, inilah waktu yang biasa Ibunda ‘Aisyah kerjakan untuk melunasinya.
Jangan sampai kita memasuki Ramadan baru sementara utang Ramadan lama belum terbayar tanpa alasan yang syar’i.
Jamaah yang berbahagia,
Mari kita manfaatkan sisa waktu di bulan Sya’ban ini untuk tiga hal:
1. Melunasi utang puasa (qadha).
2. Memperbanyak puasa sunah sebagai latihan.
3. Memperbanyak doa agar Allah memberkati kita di bulan Sya’ban dan menyampaikan kita ke bulan Ramadan dalam keadaan sehat wal afiat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khotbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَـٰلَمِينَ وَصَلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
عِبَادَ اللَّهِ اتَّقُوا اللَّـهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Marilah kita tutup ibadah Jumat kita hari ini dengan berdoa kepada Allah SWT.
إِنَّ اللّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللّهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللّهِ أَجْمَعِينَ
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَا آتِنا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Sumber: Muhammadiyah.or.id





0 Tanggapan
Empty Comments