Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Khutbah Idul Fitri: Berislam Penuh Tanggung Jawab

Iklan Landscape Smamda
Khutbah Idul Fitri: Berislam Penuh Tanggung Jawab
pwmu.co -
Suasana salat idul fitri muhammadiyah Brengkok. (Istimewa/PWMU.CO)
Suasana salat idul fitri muhammadiyah Brengkok. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Suasana embun pagi menyelimuti rerumputan lapangan Jati Sewu Brengkok. Gema takbir keluar dari berbagai sudut. Tanda hari kemenangan telah tiba, Senin pagi (31/03/2025). Para warga Muhammadiyah Brengkok melaksanakan sholat idul fitri, lalu menyimak khutbah setelahnya. Khotib kali ini dipimpin oleh Junaidi Kastum.

Tema khutbah salat idul fitri ini adalah tentang Berislam Penuh Tanggung Jawab. Dengan mengutip QS. al-Baqarah ayat 208 ia menjelaskan prilaku orang-orang Muslim.

“Banyak orang-orang yang mengaku Islam tapi hanya KTP-nya saja,” jelasnya yang merupakan anggota MPW Muhammadiyah Daerah Lamongan.

Hal ini disebabkan oleh setan sebagai musuh nyata manusia. Sebab setan mempengaruhi orang yang berakal untuk tidak berpuasa namun mampu membeli baju baru untuk hari raya. Lebih lanjut, ia mengisahkan dialog antara Jibril dengan kerbau, kelelawar dan cacing.

Ketika kerbau ditanya oleh malaikat Jibril, ia bersyukur tidak diciptakan sebagai kelelawar. Lantas malaikat Jibril bertanya kepada kelelawar dann dijawab dengan bersyukur tidak diciptakan sebagai cacing.

Anehnya, ketika cacing ditanya, ia bersyukur tidak diciptakan sebagai manusia. Karena ketika mati tidak dalam keadaan iman yang sempurna dan amal sholeh akan mendapatkan siksa selama-lamanya.

Secara tidak langsung manusia dihinakan oleh perilakunya sendiri ketika tidak mampu membedakan kebaikan dan keburukan seperti tertera dalam QS. al-Anfal ayat 29.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Harusnya manusia bisa membedakan mana hari-hari Ramadan dan mana hari-hari biasa. Apakah di bulan Ramadan justru digunakan untuk meningkatkan kejelekan bukan kebaikan? Tentu tidak,” ungkapnya.

Meski Ramadan telah usai, bukan berarti berhenti melakukan perintah Allah. Ia mengajak untuk terus konsisten beribadah.

“Marilah menjadikan Ramadan ini sebagai tonggak sejarah untuk konsisten melaksanakan perintah Allah seperti sholat berjamaah 5 waktu”, ujarnya.

Akhir kata, ia berpesan lebih baik dipaksa masuk surga daripada legowo masuk neraka. Karena belum tentu bisa berjumpa lagi dengan bulan suci Ramadan. (*)

Penulis M. Afiruddin Editor Amanat Solikah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu