
PWMU.CO – Kiai Cepu, atau yang memiliki nama asli KH Kusen MA PhD, tampil nyentrik namun menarik saat menyampaikan khutbah Idul Adha 1446 H yang digelar Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) di Lapangan Kopen, Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, Jumat (6/6/2025).
Dengan rambut panjang terurai yang ditutup blangkon ala Arya Penangsang, kiai asal Kapuan, Kelurahan Cepu, Blora, Jawa Tengah, yang kini tinggal di Ciputat, Tangerang Selatan ini tampil mencuri perhatian warga Muhammadiyah Sendangagung.
Bagaimana tidak, sebelum tampil sebagai imam dan khatib, kiai yang juga dosen Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini sudah lebih dulu mengumumkan kepada sekitar 2.500 jamaah yang hadir bahwa dirinya akan mengimami dengan durasi pendek dan khutbah selama kurang lebih 15 menit.
Ia pun menepati janji itu. Dalam salat Idul Adha, ia membaca Surat Al-Kautsar pada rakaat pertama dan Surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua—dua surat terpendek dalam Al-Qur’an. Meski demikian, bacaannya tetap fasih, pelan, dan tertata, sehingga salat berlangsung dengan khusyuk dan penuh ketenangan, tanpa kesan tergesa-gesa.
Usai salat, kiai yang juga merupakan pengurus Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Rusia ini langsung menyampaikan khutbahnya dengan memadukan bahasa Jawa dan Indonesia.
Dengan bahasa yang lugas dan tegas, Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini menjelaskan keteladanan Nabi Ibrahim AS dalam ketaatan kepada Allah SWT, serta bagaimana beliau menepati janji ketika dikaruniai seorang anak, Ismail.
Sesekali ia melihat jam di ponsel, seolah memastikan agar khutbah tidak melebihi batas waktu yang dijanjikan.

“Ibrahim adalah sosok nabi yang menjadi teladan bagi umat Islam. Nabi yang menepati janjinya manakala mendambakan seorang putra dan dikaruniai Ismail. Dari situ Ibrahim akan mentaati semua perintah Allah, termasuk harus menyembelih Ismail,” papar kiai yang juga mengaku mengajar ontologi di Sekolah Tinggi Ilmu Budha di Jakarta ini.
Ia kemudian mengutip QS Ash-Shaffat ayat 99–107, yang berisi perintah Allah kepada Ibrahim untuk menyembelih putranya sendiri sebagai ujian keimanan.
“Ayat-ayat ini mengisahkan tentang perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, Ismail, sebagai ujian. Namun sebelum penyembelihan dilakukan, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba. Kisah ini diperingati umat Islam setiap Idul Adha,” terangnya.
Tepat 15 menit, Kiai Cepu menyelesaikan khutbahnya. Ia pun menepati janjinya, sesuai yang telah diikrarkan sebelum khutbah dimulai.
Dengan gaya khasnya, warga Muhammadiyah Sendangagung tampak puas. Tidak ada yang keberatan karena khutbah disampaikan dengan singkat namun menarik, dan waktunya sudah diinformasikan sejak awal sehingga jamaah tetap khusyuk menyimak. (*)
Penulis Gondo Waloyo Editor M Tanwirul Huda






0 Tanggapan
Empty Comments