Umat Islam hari ini lebih banyak menghabiskan energi untuk saling mengklaim kebenaran dan mempertahankan mazhab masing-masing, tetapi melupakan pekerjaan besar mengejar ketertinggalan ekonomi dan ilmu pengetahuan.
Pesan tersebut disampaikan Ketua PWM Jawa Tengah Dr. H. Tafsir, M.Ag dalam Refleksi Milad ke-113 Muhammadiyah yang digelar PDM, PCM, dan AUM Kabupaten Wonosobo, Ahad (16/11/2025). Forum ini juga menghadirkan Perwakilan Disdikpora Kabupaten Wonosobo yang mewakili Bupati Drs. Musofa, M.Pd.
Kiai Tafsir, begitu panggilan karibnya, menuturkan bahwa di lingkungan Muhammadiyah terdapat 125 SPPG dan 71 di antaranya berada di Jawa Tengah.
“Sebuah tugas berat tapi mulia untuk mencerdaskan bangsa. Jangan sampai keracunan,” ujarnya sambil berkelakar.
Dalam refleksinya, dia menegaskan bahwa syariat Islam telah sempurna, tetapi fikih selalu berkembang mengikuti situasi dan tantangan zaman. Itulah yang disebut tajdid atau pembaruan—sebuah keharusan dalam gerakan Muhammadiyah.
Kiai Tafsir kemudian menjelaskan empat corak pemahaman keagamaan yang hidup di masyarakat. Pertama, tradisionalisme yang tidak menghapus tradisi tetapi mengislamkannya. Kedua, pembaruan (tajdid) yang menolak praktik takhayul, bid’ah, dan churafat (TBC).
“Namun yang benar dan maju ini ternyata tidak banyak pengikutnya karena Islam Jawa sudah berjalan sejak abad ke-15,” jelasnya.
Corak ketiga adalah revivalisme yang ingin menghidupkan kembali praktik masa salaf, dan keempat adalah skripturalisme yang memandang ajaran agama secara literal sehingga mudah memvonis bid’ah terhadap hal-hal baru.
Menurut Kiai Tafsir, pertikaian panjang atas klaim paling benar dan paling salaf inilah yang membuat energi umat habis tersedot.
“Pertikaian yang tidak pernah selesai itu hanya menguras energi umat yang terus tertinggal dalam banyak bidang, ekonomi dan ilmu pengetahuan,” tegasnya.
Dia menutup refleksinya dengan ajakan agar umat Islam mengalihkan fokus pada penguasaan bidang ekonomi dan ilmu pengetahuan.
“Potensi Muhammadiyah dan umat Islam besar. Tapi siapa yang menikmati perputaran uang di AUM? Saatnya umat bangkit,” serunya.
Dengan gaya humornya, ia menambahkan, “Tapi umat lebih suka menghibur diri: merasa lebih kaya dari mereka karena shalat dua rakaat sebelum subuh lebih mulia daripada dunia dan seisinya.”
Jamaah pun tertawa, bersamaan dengan kumandang azan zuhur yang menandai berakhirnya refleksi siang itu.
Sementara itu, Musofa mengapresiasi pelaksanaan program SPPG Muhammadiyah yang terbukti memperbaiki pola makan anak hingga berdampak pada peningkatan berat badan dan diharapkan meningkatkan kecerdasan.
“Program ini juga membangun karakter kolektif yang positif seperti membiasakan cuci tangan sebelum makan dan berdoa bersama sebelum menyantap makanan,” tegasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments