Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kisah Amien Rais yang Gagal Disingkirkan Soeharto pada Muktamar Muhammadiyah Aceh

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -

Pak Harto hadir membuka muktamar di Aceh itu. Di akhir sam­bu­tannya beliau meng­aku dirinya adalah bibit Muhammadiyah yang dit­anam untuk bangsa karena dulu beliau murid di sekolah Mu­ham­ma­diyah. Pengakuan Pak Harto itu diikuti pejabat mulai dari menteri sam­­pai koramil dan lurah. Semua mengaku dekat Muhammadiyah. Har­moko mengaku pernah menjadi pengurus ranting. Mar’ie Muhammad mengaku lahir di rumah sakit Muhammadiyah Surabaya. Semua pe­jabat jadi ramah dengan Muham­madiyah.

Pak Yahya Muhaimin mengatakan kepada Pak Amien bah­wa pidato pak Harto itu isyarat agar Amien berhenti meng­ri­­tik­nya, berhenti melancarkan isu suksesi karena punya latar be­la­kang sama yaitu sama-sama Muhammadiyah. “Tetapi sebagai Ke­­tua Muhammadiyah saya tidak boleh berhenti menentang ke­ti­dakadilan,” jawab Pak Amien. Akhirnya bibit Muhammadiyah itu ja­tuh dari kursi presiden oleh bibit asli Muhammadiyah sendiri.

(Baca juga: Di Sel Tahanan, Buya Hamka Nyaris Putus Asa)

Sekalipun dalam politik berseberangan, Pak Amien tidak ben­ci kepada Pak Harto. Ketika Pak Harto sakit kritis, Pak Amien me­nyerukan agar bangsa Indonesia me­maafkan Pak Harto. Pe­merintah diminta segera memberi ampunan juga, tidak per­lu le­wat pengadilan. Jangan menunggu Pak Harto meninggal.

Pak Amien seorang pemberani. Orang menyebut saraf takutnya sudah putus. Te­tapi pada Muhammadiyah ketakutan itu tetap ada. Pada muktamar di Yogyakarta tahun 1990 Amien gelisah karena perolehan suaranya membuntuti Pak Azhar Basyir. Ia takut suaranya melampaui, padahal ia merasa Pak Azhar lebih layak memimpin. Hasil akhir suara Amien sedikit di bawah Pak Azhar. Ia pun lega. Kecemasan berikutnya ketika Pak Azhar meninggal dan rapat pleno memutuskan Amien yang menggantikan Pak Azhar. “Ketika itu lutut saya gemetar karena saya tahu tugas ini sangat berat dan saya khawatir tidak mampu menunaikan,” kata Amien ketika menerima amanat mulia itu.

Dari muktamar di Aceh ini kita bisa mengambil pelajaran betapa pentingnya konsolidasi organisasi. Bahwa organisasi yang kukuh, solid, dan kompak tidak akan bisa diintervensi dari luar, sekalipun oleh orang sekuat Pak Harto. Jika orang luar bisa mengacak-acak organisasi, pada dasarnya organisasi itu sudah rapuh sehingga orang luar mudah masuk. Apalagi jika orang dalam sendiri saling cekcok. Percekcokan sumber utama kelemahan. Alquran mengingatkan, “Jangan kalian saling berselisih karena menyebabkan kalian jadi penakut, kehilangan kekuatan dan wibawa.” (Alanfal Ayat 46). (*)

Iklan Landscape UM SURABAYA

Wakil Ketua PWM Jatim Nur Cholis Huda dalam iftitahn acara konsolidasi PWM-PDM

Tulisan Nur Cholis Huda, Wakil Ketua PWM Jatim ini bisa dibaca pada buku Anekdot Tokoh-Tokoh Muhammadiyah (Hikmah Press, Surabaya).

 

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

2 Tanggapan

  1. selanjutnya bgm.?.? Reformasi yg amburadul pasca lengsernya Pak Harto & Habibie, terlebih pasca amandemen UUD 1945 yg serampangan. Logika Amerika mengalahkan logika Pancasila, UUD 1945, Al Qur’an & Sunnah

Search
Menu