
PWMU.CO – Melalui karya berjudul Lentera Fotosintesis, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya) ini berhasil mengharumkan nama Indonesia di mancanegara.
Enam mahasiswa yang tergabung dalam Tim Lentera berhasil mempersembahkan gold medal (medali emas) dalam Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation, and Technology Exsposition (IPITEx) 2019 untuk kategori “Technology Modern Agricultural”.
Acara yang diadakan oleh National Research Council Of Thailand (NRCT) di Bangkok International Trade and Exhibition Center (BITEC) Thailand ini diikuti oleh ratusan mahasiswa dari 25 negara.
Dalam kompetisi yang berlangsung Sabtu-Rabu (2-6/2/19) itu UMSurabaya menurunkan tim yang merupakan kolaborasi Fakultas Ilmu Kesehatan dan Fakultas Teknik yang terdiri dari: Judith Syifa Fauziah (S1 Keperawatan), Marta Kusuma putri (S1 Keperawatan), Fatma Aula Nursyifa (S1 Keperawatan), Ghois Qurniawan (S1 Teknik Elektro), Kartono (Profesi Ners), dan Vegananda Suhartono (Profesi Ners).
Kartono saat dihubungi PWMU.CO Rabu (6/2/19) memaparkan Lentera Fotsintesis merupakan sebuah inovasi dalam bidang agrikultur modern (modern agricultural) yang memiliki fungsi untuk mempercepat pertumbuhan tanaman dan dapat membuat tanaman musiman dapat menghasilkan buah sepanjang musim. “Serta terhindar dari serangan hama noktural,” ujarnya.
Dia menceritakan kronologis masuknya Lentera Fotosintesis dalam ajang tersebut “Kami mendapat info tentang Indonesian Intervention and Innovation Promotion Association (INNOPA) dari beberapa teman kami di luar kampus,” ungkapnya.
Kabar tersebut, sambung dia, membuat kami tertarik untuk mencoba mengikuti seleksinya dan berharap kami lolos dalam (IPITEx). “Dengan tekad yang kuat untuk membanggakan semua pihak, kami pun meregistrasikan tim dan produk inovasi kami,” ujarnya.
Pihak INNOPA mengatakan, pengumuman kelolosan akan diinfokan melalui email dalam waktu sepekan setelah registrasi. “Selama jangka waktu tersebut, kami menantikan email dengan harap-harap cemas. Hari yang dinanti pun tiba. Kami masih ingat saat itu pagi hari, salah satu anggota kami memeriksa emailnya dan ternyata belum ada email yang kami terima,” ungkapnya.
Kabar tersebut, lanjutnya, jelas membuat kami kecewa dan berusaha untuk ikhlas. “Singkat cerita, setelah kami merasa jatuh dan kecewa karena kami merasa tidak lolos pada ajang yang kami mimpi-mimpikan, sore itu salah satu anggota tim kami memberikan kabar bahwa dia baru saja mendapatkan email,” jelasnya.
Isinya, pihak INNOPA memberi tahu produk inovasi kami lolos pada ajang AYIA Malaysia yang akan di selenggarakan pada tanggal 21-23 Februari 2019 dan IPITEx Bangkok, Thailand.
“Kabar tersebut membuat kami sangat senang. Tetapi juga membuat kami sedih dan bingung. Senang karena produk inovasi kami lolos pada dua ajang dunia, sedih dan bingung mengenai dana yang akan kami gunakan selama ajang tersebut berlangsung,” ujar Kartono.

Akhirnya, dia melanjutkan, kami memutuskan untuk mengikuti ajang IPITEx di Bangkok saja dengan pertimbangan biaya yang murah daripada ajang di Malaysia. “Dan alhamdulillah, kami mendapat dukungan dana dari universitas kami yakni UMSurabaya, Fakultas Ilmu Kesehatan, Fakuktas Teknik dan orangtua kami,” tegasnya
Yuanita Wulandari, dosen pendamping yang selalu berada di samping mahasiswanya selama di Bangkok saat dihubungi PWMU.CO Rabu (6/2/19) menuturkan, “Saya selaku pembimbing sangat bangga dengan para mahasiswa yang mampu mengaktualisasikan diri dengan lolos pada ajang perlombaan di even international ini sekaligus membawa medali emas bagi kampus tercinta,” ungkapnya.
Menurutnya, ini adalah prestasi yang sangat luar biasa bisa mengharumkan nama UMSurabaya sekaligus Indonesia dalam ajang internasional,” ujarnya.
Selamat! (Nia Ambarwati)





0 Tanggapan
Empty Comments