
PWMU.CO – “Masa pandemi adalah momen luar biasa bagi saya, karena pada saat itulah saya mendapat hidayah untuk menjadi muslimah,” ungkap drg Carissa Grani MM dalam acara Halal Bihalal dan Silaturahmi Amal Usaha Muhammadiyah se-Cabang Ngagel yang digelar pada Ahad (20/4/2025).
Acara tahunan yang dilaksanakan di Mas Mansyur Hall, lantai 6 Smamda Tower itu mengundang drg. Carissa sebagai pembicara utama. Dalam kesempatan tersebut, ia membagikan kisah perjalanan spiritualnya menjadi mualaf.
Awal ketertarikan Carissa pada Islam muncul saat ia memperhatikan muslimah yang mengenakan niqab di masa pandemi. Menurutnya, gaya hidup muslimah saat itu—berhijab, memakai masker, serta menjaga interaksi dengan lawan jenis—seolah menjadi teladan dalam menjaga kesehatan dan kesopanan.
“Nah, saat itu yang kita lakukan ya seperti muslimah tadi,” kenangnya.
Ia juga menyaksikan bahwa tingkat stres para ibu rumah tangga meningkat drastis selama pandemi. Saat melakukan riset melalui pengisian jurnal, ia menemukan bahwa ibadah seperti shalat Dhuha dapat menurunkan hormon stres secara signifikan.
Rasa penasarannya terhadap Islam semakin menguat. Ia pun terus mencari fakta-fakta ilmiah dan spiritual yang berkaitan dengan ajaran Islam. Salah satu yang menguatkan hatinya adalah informasi bahwa virus COVID-19 tidak langsung masuk ke dalam tubuh, melainkan menempel di rongga tubuh, yang bisa dibersihkan secara rutin dengan wudu. Baginya, ajaran Islam ternyata sangat relevan dan ilmiah.
“Masya Allah, ternyata seperti ini Islam,” ucapnya takjub.
Carissa kemudian memutuskan untuk belajar Islam lebih dalam di Mualaf Center. Hingga akhirnya, ia mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi memeluk Islam. Sebagai istri dari seorang mantan pendeta, ia sempat merasa bingung karena harus langsung melaksanakan salat. Ia pun belajar secara mandiri melalui YouTube dan mulai melaksanakan salat secara diam-diam di ruang praktik rumahnya.
Hal yang paling menginspirasi, menurutnya, adalah betapa ia sangat menantikan adzan sebagai penanda waktu salat. Namun, rasa khawatir juga terus menghantuinya. Ia berdoa agar jika suatu saat ketahuan, ia sudah sempat menyelesaikan membaca terjemah al-Quran.
Doanya dijawab Allah. Ia ketahuan ketika tengah shalat Tahajud dan bersiap makan sahur. Sang suami marah besar, bahkan memukulinya dan mengancam akan membunuhnya. Saat itu, ia hanya bisa beristighfar dan membaca doa Nabi Yunus.
Ujian tidak berhenti di situ. Keluarga besarnya juga marah besar atas keputusannya memeluk Islam. Namun, Allah kembali menguatkan hatinya. Ia menemukan QS Saba ayat 37 yang menyentuh hatinya:
“Dan bukanlah harta dan anak-anakmu yang mendekatkan kamu kepada Kami; melainkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda atas apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).”
Tak hanya itu, ibu tiga anak ini juga diuji dengan penipuan masker yang menyebabkan kerugian hingga Rp378 juta. Nama baiknya tercoreng, ia dilaporkan ke polisi, dan tak memiliki uang untuk mengganti kerugian rekan-rekannya. Dalam kepasrahannya, Allah mengirimkan pertolongan. Seorang teman meminjamkan dana sebesar Rp100 juta.
Kisah drg. Carissa memberikan pelajaran berharga bagi 650 peserta Halal Bihalal yang bertajuk “Bersyukur atas Segala Nikmat, Harmoni Menuju Kemenangan Hakiki” ini.
“Alhamdulillah, Allah selalu memberikan jalan keluar dan memberikan pilihan terbaik-Nya kepada saya, hingga kini saya bisa semakin mantap memeluk agama Islam,” tutupnya. (*)
Penulis Tanti Puspitorini Editor Wildan Nanda Rahmatullah






0 Tanggapan
Empty Comments