Di setiap gerakan Tapak Suci, ada napas sejarah yang terus hidup. Setiap langkah, kuda-kuda, dan sapuan tangan bukan sekadar teknik bela diri, melainkan rangkaian nilai, keteladanan, dan warisan para pendekar yang telah mendedikasikan hidupnya untuk persyarikatan dan umat.
Dari sekian warisan itu, delapan jurus nasional Tapak Suci menjadi mahkota tertinggi. Menjadi simbol kematangan ilmu, keikhlasan, dan pengabdian para penciptanya.
Salah satu jurus nasional itu lahir dari Surabaya: Jurus Harimau. Yang merupakan rangkaian gerak yang kuat, tegas, dan penuh determinasi, diciptakan oleh Pendekar Besar Chusnan David.
Jurus Harimau bukan hanya mencerminkan karakter hewan buas yang tangguh, tetapi juga filosofi Tapak Suci: keberanian yang dikendalikan oleh akhlak, kekuatan yang berpijak pada keimanan.
Untuk diketahui, Tapak Suci Putera Muhammadiyah memiliki delapan jurus nasional. Masing-masing diciptakan oleh para pendekar terbaik pada masanya—tokoh-tokoh yang diakui keilmuan, integritas, serta kontribusinya dalam dunia pencak silat dan Muhammadiyah.
Empat jurus pertama lahir dari tangan pendiri perguruan, Pendekar Besar Muh. Barie Irsjad dari Yogyakarta. Ia menciptakan jurus Katak, Mawar, Ikan Terbang, dan Naga. Jurus-jurus dasar tersebut menjadi fondasi teknik sekaligus filosofi Tapak Suci.
Dari kelincahan hingga keteguhan, dari keindahan hingga kekuatan, keempat jurus ini menggambarkan keluasan pandangan seorang pendiri.
Dari Jember, ada Pendekar Besar KH Bukhori Achmad. Ia menghadirkan Jurus Lembu, sebuah jurus yang sarat makna keteguhan, kesabaran, dan daya tahan. Gerakannya mencerminkan kekuatan yang tidak tergesa-gesa, tetapi pasti dan membumi.
Sementara dari Jakarta, tercatat nama Pendekar Muhammad Anas, yang juga dikenal sebagai Tan Fu Wiek. Ia menciptakan Jurus Rajawali. Jurus ini melambangkan ketajaman visi, kecepatan, dan penguasaan ruang—simbol kepemimpinan dan kewaspadaan.
Dari Surabaya, lahirlah Jurus Harimau karya Pendekar Besar Chusnan David. Jurus ini dikenal agresif namun terukur, penuh tekanan tetapi tetap disiplin. Harimau dalam jurus ini bukanlah keganasan tanpa kendali, melainkan kekuatan yang tunduk pada etika dan aturan.
Sedangkan jurus terakhir, Jurus Merpati, diciptakan oleh Pendekar Besar Dr. Ismail Navianto, SH, MH dari Kota Malang. Merpati menjadi simbol kedamaian, keluwesan, dan keseimbangan. Ia bisa dibilang menjadi penutup yang indah dari rangkaian jurus nasional Tapak Suci.

Tugas Pimpinan Pusat
Chusnan David adalah pendekar kelahiran Surabaya, 3 April 1945. Sosok yang mengabdikan hidupnya bagi Tapak Suci Putera Muhammadiyah ini wafat pada 19 Januari 2020, meninggalkan jejak ilmu, keteladanan, dan warisan jurus yang terus hidup lintas generasi.
Sejak muda, dia telah akrab dengan dunia bela diri. Tahun 1965, sebelum mengenal Tapak Suci, Kusnan David tercatat sebagai anggota Lembaga Seni dan Budaya Indonesia, sebuah perguruan silat yang kelak dikenal luas dengan nama Perisai Putih.
Hasratnya untuk memperdalam ilmu tidak berhenti di satu tempat. Ia juga sempat belajar di Perguruan SH Terate, namun perjalanan itu tidak berlanjut. Bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena pertimbangan akidah yang dipegang teguh.
Bagi Chusnan David, bela diri bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga harus sejalan dengan keyakinan iman. Selain silat, ia bahkan sempat menimba ilmu judo dan jujitsu, memperkaya wawasan teknik dan strategi bela diri.
Menurut Fanan Hasanudin, salah seorang pendekar Tapak Suci yang juga salah seorang murd Chusnan David, Jurus Harimau lahir dari kegelisahan, tanggung jawab organisasi, dan laku keikhlasan seorang pendekar bernama Chusnan David.
“Tahun 1996 jurus itu diciptakan. Saat itu, Pimpinan Pusat Tapak Suci Putera Muhammadiyah mengamanahkan sejumlah pendekar untuk merumuskan dan menciptakan jurus-jurus baru,” tutur Fanan kepada PWMU.CO, Senin (19/1/2026).
Tugas tersebut bukan sekadar teknis gerak, melainkan ikhtiar menjaga kesinambungan ilmu, menyatukan nilai, serta menjawab tantangan zaman.
Di antara nama-nama yang diamanahi, Chusnan David menjadi salah satu pendekar Tapak Suci yang mendapat kepercayaan tersebut.
Chusnan tidak banyak bicara, tetapi tekun mengolah gerak. Dari pengamatan panjang terhadap alam, karakter hewan, dan prinsip dasar pencak silat Tapak Suci, lahirlah Jurus Harimau, jurus yang keras namun terukur, tajam tetapi tetap beradab.
Menurut Fanan, Jurus Harimau tidak serta-merta diperkenalkan. Ia melalui proses panjang: diuji, disempurnakan, dan dipadukan dengan jurus lain. Hingga akhirnya, pada tahun 2004, jurus ini untuk pertama kalinya diperagakan secara resmi.
Tiga pendekar tampil sebagai peraga: Khusairi, Januar Joko Siswanto, dan Elok Koestantono. Di atas arena, gerakan mereka bukan sekadar demonstrasi teknik. Ada ruh, ada tekanan, ada kesungguhan. Jurus Harimau tampil dengan karakter khas—serangan yang langsung menuju pusat vital.
“Sasarannya jelas, dada dan kepala,” tutur Fanan yang juga pengurus di Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Jatim itu.
Tidak berputar-putar. Tidak ragu. Jurus Harimau menggambarkan watak harimau itu sendiri: fokus, kuat, dan menentukan.
Fanan menjelaskan, di Tapak Suci, setiap jurus tidak lahir tanpa makna. Masing-masing memiliki filosofi sasaran dan alat penyasar.
Jurus Harimau, terang dia, dirancang untuk mengenai titik-titik vital, sementara jurus lain berperan sebagai pendukung dan pelengkap.
“Jurus Harimau menyasar dada dan kepala sebagai simbol kekuatan dan kendali. Jurus Merpati lebih halus, dengan sasaran pada kemaluan. Jurus Lembu menonjol dalam tangkisan,” jelasnya.
Ketiganya tidak berdiri sendiri. Ilmu pencak silat Tapak Suci justru memadukan seluruh sasaran tersebut dalam satu kesatuan gerak dan tingkatan.
Dari dasar hingga lanjut, dari Jawa Timur hingga daerah lain, jurus-jurus ini diajarkan secara berjenjang—dari minimal hingga maksimal—menyesuaikan tingkat dan kesiapan pendekar.
Laku Seorang Guru
Namun, Jurus Harimau tidak bisa dilepaskan dari pribadi penciptanya. Menurut Fanan, Chusnan David adalah sosok yang berjuang tanpa pamrih.
Dia mengajarkan ilmu tanpa menghitung bayaran. Latihan demi latihan dijalani dengan kesungguhan. Bahkan sering kali ditutup dengan hal-hal kecil yang membekas di ingatan murid-muridnya.
“Sering, setelah latihan, beliau mentraktir anak asuhnya di warung,” kenang Fanan.
Bagi Chusnan David, ilmu bukan komoditas. Ia adalah amanah, dan amanah harus ditunaikan dengan ikhlas.
Di balik kelembutannya, Chusnan David dikenal sangat disiplin. Datang terlambat bukan perkara sepele.
“Kalau terlambat,” kata Fanan sambil tersenyum, “langsung disuruh push-up.”
Bukan untuk mempermalukan, tetapi mendidik. Disiplin, dalam pandangan Chusnan David, adalah fondasi seorang pendekar. Tanpa disiplin, jurus sekuat apa pun akan kehilangan makna.
Kini, Jurus Harimau telah menjadi bagian dari warisan Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Ia tidak hanya hidup dalam hafalan gerak, tetapi juga dalam nilai: ketegasan, keberanian, dan keikhlasan.
Seperti harimau di rimba, jurus ini mengajarkan satu hal penting, bahwa kekuatan sejati bukan pada kerasnya serangan, melainkan pada kendali diri dan tanggung jawab moral seorang pendekar.
Dan di balik setiap gerakan Jurus Harimau, selalu ada jejak seorang guru. Yang memberi tanpa meminta. Yang mendidik tanpa pamrih, dan menanamkan nilai jauh sebelum mengajarkan jurus. (*/bersambung)






0 Tanggapan
Empty Comments