Di sebuah sudut kota Surabaya, tepatnya di ruang kerja mungil yang lebih mirip studio kreatif ketimbang kantor formal, seorang pria berperawakan sederhana tampak asyik menatap layar komputernya.
Tangannya lincah mengetik. Sesekali berhenti lalu tersenyum kecil. Seakan ada kepuasan setiap kali baris kode yang ia tulis bekerja dengan sempurna.
Dialah Satria Nugraha, seorang web developer yang sudah malang melintang di dunia digital sejak lebih dari satu dekade lalu.
Satria dikenal sebagai sosok kalem. Tidak banyak bicara, tetapi reputasinya di kalangan rekan kerja dan para kliennya cukup disegani.
Sejak 2010, dia pernah bekerja di sejumlah perusahaan web terkemuka di Indonesia. Bidang yang ia tekuni beragam, mulai dari desain web, pembuatan website, desain aplikasi mobile, hingga optimasi web.
Kemampuannya bukan hanya soal teknis, tetapi juga kepekaan dalam menerjemahkan kebutuhan klien menjadi solusi digital yang efektif.
Namun, sebuah keputusan besar ia ambil pada tahun 2014. Satria memutuskan untuk keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dan mendirikan usaha sendiri.
Perusahaannya memang belum besar, tetapi cukup untuk menopang kebutuhan keluarga kecilnya.
Kini, ia menjalankan studio digital bersama istri tercinta, ditemani kehadiran seorang anak yang menjadi sumber semangatnya.
“Saya ingin bekerja sambil tetap dekat dengan keluarga. Bisa mengatur ritme sendiri. Itu yang membuat saya mantap memilih jalur ini,” katanya suatu kali.
***

Studio milik Satria bukan hanya tempat dia mengeksekusi berbagai proyek digital. Ruangan itu sekaligus menjadi rumah belajar bagi anak-anak muda yang ingin menimba ilmu.
Satria membuka pintunya lebar-lebar bagi mahasiswa dan siswa yang ingin magang, tanpa memandang latar belakang kampus maupun sekolah.
Sejumlah institusi pendidikan mempercayakan mahasiswanya untuk belajar di sana. Mulai dari Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA), Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, SMK Negeri Surabaya, ITATS, hingga SMK Barunawati.
“Saya dulu juga belajar dari orang lain. Jadi, kalau ada adik-adik yang mau belajar, kenapa tidak saya fasilitasi?” ungkapnya.
Menariknya, meskipun ia seorang penganut Kristen Protestan, Satria tetap aktif membantu kegiatan dakwah Muhammadiyah dengan caranya sendiri: lewat teknologi.
Dia sering menggarap desain web dan platform digital untuk mendukung aktivitas dakwah dan pendidikan Muhammadiyah.
Di antara website yang pernah ia tangani tercatat beberapa nama dari institusi pemerintas dan swasta.
Pun dengan tiga portal official milik Muhammadiyah Jawa Timur. Yakni, PWMU.CO (media aktif menyajikan berita dakwah, amal usaha, dan pendidikan), Majelistabligh.id (situs yang menjadi ruang digital bagi syiar tabligh dan kajian keislaman), dan Maklumat.id (media yang fokus pada politik dan pemerintahan). Juga sdmusix.id (website resmi SD Muhammadiyah 6 Gadung, Surabaya).
Ragam portofolio itu menunjukkan betapa Satria tidak hanya menguasai sisi teknis, tetapi juga mampu menyesuaikan karya digitalnya dengan kebutuhan yang sangat berbeda-beda.
Mulai dari portal berita, website dakwah, media kreatif, hingga platform hiburan. Semuanya pernah ia kerjakan dengan cermat.
Menariknya, meski dia seorang penganut Kristen Protestan, Satria justru banyak berkolaborasi dengan institusi maupun organisasi Islam, khususnya Muhammadiyah.
Di kalangan pegiat dakwah digital Muhammadiyah, Satria mendapat julukan “Krismuha” alias Kristen Muhammadiyah. Satria tidak keberatan dengan sebutan itu.
“Ya, Krismuha. Kedengarannya keren,” ucap Satria, lalu tersenyum.
Bagi dia, perbedaan keyakinan tidak boleh menjadi tembok pemisah. “Kalau niatnya untuk kebaikan bersama, saya siap mendukung,” ujarnya kalem, seraya menegaskan bahwa teknologi seharusnya menjadi jembatan, bukan sekat antarmanusia.
Dia juga mengaku gembira punya kawan-kawan yang baik di Muhammadiyah. “Saya tentu senang, banyak kawan di Muhammadiyah yang menerima saya apa adanya, tanpa melihat perbedaan keyakinan. Itu membuat saya merasa dihargai,” ungkapnya
***

Dari tangan dingin Satria, lahir banyak anak didik yang kini memiliki kemampuan digital mumpuni. Salah satunya, Mochamad Dzawil Haiat, mahasiswa Teknik Informatika Untag Surabaya.
Di bawah bimbingan Satria, Dzawil berhasil menciptakan sebuah inovasi berupa alat absensi kehadiran berbasis website dengan teknologi deteksi wajah.
Aplikasi itu bukan sekadar proyek iseng. Sistem ini mampu membantu perusahaan merekap kehadiran karyawan secara online sekaligus meminimalisasi potensi manipulasi data.
Inovasi semacam ini membuktikan bahwa bimbingan Satria tidak hanya teoritis, tetapi juga aplikatif dan bermanfaat nyata.
Satria adalah contoh nyata bahwa dedikasi dan ketulusan tidak mengenal sekat keyakinan. Dia menjalani kehidupannya sebagai seorang Kristen Protestan, tetapi tetap hadir di tengah-tengah warga Muhammadiyah untuk membantu dakwah lewat jalur digital.
Di balik sosoknya yang kalem, ada nilai universal yang ia pegang: kerja keras, integritas, dan kerelaan berbagi.
Kehadiran sosok seperti Satria mengingatkan bahwa dunia digital bukan hanya soal bisnis atau teknologi semata, tetapi juga tentang kemanusiaan.
Bahwa setiap orang bisa berkontribusi, apa pun latar belakangnya, selama tujuannya untuk kebaikan.
Di meja kerjanya yang penuh coretan ide dan kabel berseliweran, Satria terus menulis kode, membimbing generasi muda, dan menyalakan obor kecil dalam dunia dakwah Muhammadiyah.
Bukan dengan ceramah atau panggung besar, melainkan lewat karya-karya digital yang sederhana, namun berdampak panjang. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments