Dalam panel sesi II bertema Kolaborasi LPCRPM dan PTM pada Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) LPCRPM PWM Jawa Timur, Koordinator SDM Universitas Muhammadiyah Surabaya, Idhan Kholiq, memaparkan materi bertajuk “Merancang Formulasi Model Strategis Penguatan Kelembagaan yang Berdampak”. Kegiatan tersebut berlangsung Sabtu (14/2/2026) di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Di hadapan peserta Rakorwil, Idhan menegaskan pentingnya menguatkan kembali orientasi gerakan pada akar rumput, yakni Cabang dan Ranting Muhammadiyah.
Menurutnya, perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) memiliki posisi strategis dalam mendukung penguatan kelembagaan di tingkat bawah agar tidak terlepas dari denyut komunitas.
“Akar rumput itu langsung berkaitan dengan komunitas. Maka kader maupun warga Muhammadiyah yang berkiprah di berbagai lini, termasuk di amal usaha, jangan sampai melupakan Cabang dan Ranting,” ujarnya.
Ia menjelaskan, PTMA memiliki sumber daya yang sangat besar, mulai dari dosen, mahasiswa, tenaga profesional, hingga jejaring keilmuan dari berbagai disiplin: kedokteran, teknik, ekonomi, pendidikan, dan lainnya.
Potensi ini, lanjutnya, harus diintegrasikan dengan kebutuhan riil Cabang dan Ranting, termasuk dalam pengembangan masjid dan pemberdayaan masyarakat.
KKN Cabang-Ranting sebagai Instrumen Strategis
Salah satu instrumen strategis yang ditawarkan adalah program Kuliah Kerja Nyata (KKN) berbasis Cabang dan Ranting atau KKN PCR. Program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan melalui riset, pengabdian masyarakat, serta penerapan teknologi tepat guna.
Idhan menyampaikan, sebelum mahasiswa diterjunkan, idealnya dilakukan pemetaan kebutuhan dan penelitian awal. Dengan demikian, program KKN tidak sekadar seremonial, tetapi benar-benar menjadi solusi atas persoalan yang dihadapi Cabang dan Ranting.
“Kampus memiliki SDM mahasiswa dan dosen yang siap melakukan riset dan pengabdian. Tinggal bagaimana kebutuhan di Cabang dan Ranting itu dipetakan dengan baik, sehingga programnya tepat sasaran,” jelasnya.
Beberapa fokus pengembangan dalam KKN PCR Umsura meliputi:
Satu, Penguatan dan pengembangan potensi ekonomi lokal Cabang dan Ranting.
Dua, Peningkatan manajemen organisasi yang profesional dan akuntabel.
Tiga, Digitalisasi dan penguatan sistem informasi (website, pelaporan, administrasi).
Empat, Penguatan kualitas dan kuantitas kader.
Lima, Optimalisasi amal usaha seperti PAUD, pendidikan dasar, hingga layanan sosial.
Sejak 2023, Umsura telah mengimplementasikan berbagai program, seperti penerapan teknologi tepat guna, digitalisasi administrasi, edukasi pengelolaan sampah, serta pelatihan kreativitas ekonomi masyarakat. Wilayah pengabdian pun tidak hanya di Surabaya, tetapi juga menjangkau sejumlah daerah di Jawa Timur dan luar provinsi.
Tantangan Keberlanjutan Program
Meski demikian, Idhan mengakui tantangan terbesar dari program KKN PCR adalah keberlanjutan. Kerap kali, setelah masa KKN selesai, program yang telah dirintis tidak dilanjutkan secara optimal oleh pihak setempat.
Karena itu, ia mendorong agar LPCRPM bersama PWM Jawa Timur membangun sistem pendampingan berkelanjutan. Dengan sinergi yang kuat, program KKN tidak hanya menjadi agenda satu bulan, tetapi bagian dari roadmap penguatan Cabang dan Ranting secara sistematis.
Ia juga mengusulkan pentingnya penyusunan database terpadu potensi dan kebutuhan Cabang-Ranting se-Jawa Timur. Dengan adanya pemetaan tersebut, kampus dapat lebih mudah menyesuaikan program riset, pengabdian, maupun KKN sesuai kategori dan prioritas wilayah.
“Kami di PTMA siap mendukung dari berbagai bidang. Tinggal bagaimana kolaborasi ini dibangun secara terstruktur, berkelanjutan, dan berbasis data,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi strategis antara LPCRPM dan PTMA, diharapkan penguatan kelembagaan Muhammadiyah di tingkat Cabang dan Ranting semakin berdampak nyata bagi masyarakat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments