Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kolonel Ahmad Husein, Tokoh Sentral PRRI dari Sumatera Barat

Iklan Landscape Smamda
Kolonel Ahmad Husein, Tokoh Sentral PRRI dari Sumatera Barat
Kolonel Ahmad Husein, Tokoh Sentral PRRI dari Sumatera Barat, Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Ahmad Husein, Lahir di Padang pada 1 April 1925, tumbuh dalam lingkungan keluarga Minangkabau yang terpandang dan religius. Ayahnya, Abdoel Kahar, dikenal sebagai pengusaha Muhammadiyah sekaligus pemilik apotek di Rumah Sakit Militer Padang.

Dari keluarga inilah nilai religiusitas, kedisiplinan, dan semangat kepemimpinan mulai tertanam kuat dalam dirinya sejak usia muda.

Memasuki masa pendudukan Jepang, Ahmad Husein mulai menapaki jalan militer dengan bergabung dalam Gyugun, tentara sukarela bentukan Jepang.

Di kesatuan tersebut, ia dikenal sebagai juru tembak yang andal dan memiliki kemampuan strategi yang menonjol. Pengalaman ini menjadi bekal penting ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Pasca-kemerdekaan, kiprahnya semakin terlihat saat ia dipercaya menjadi komandan tempur Padang Area.

Di posisi ini, Ahmad Husein memimpin pasukan legendaris Sumatera Barat yang dikenal dengan nama Harimau Kuranji, sebuah kesatuan yang memiliki peran penting dalam mempertahankan wilayah dari ancaman agresi.

Kolonel Ahmad Husein, Tokoh Sentral PRRI dari Sumatera Barat

Latar Belakang Lahirnya Dewan Banteng

Memasuki pertengahan 1950-an, Ahmad Husein menyaksikan ketimpangan pembangunan antara pemerintah pusat di Jakarta dan daerah-daerah di luar Pulau Jawa.

Sistem pemerintahan yang cenderung sentralistik dinilai kurang memberi ruang keadilan fiskal dan otonomi bagi daerah.

Atas dasar kegelisahan tersebut, pada 20 Desember 1956 ia memprakarsai pembentukan Dewan Banteng di Sumatera Barat. Melalui forum ini, ia bersama tokoh-tokoh daerah lainnya menuntut:

  • Otonomi daerah yang lebih luas,
  • Pembagian keuangan yang lebih adil,
  • Perbaikan tata kelola birokrasi pusat.

Ketegangan politik yang terus meningkat akhirnya bermuara pada deklarasi Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Padang pada 15 Februari 1958, dengan Ahmad Husein sebagai salah satu tokoh sentralnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

PRRI dan Dampaknya

Gerakan PRRI menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah politik Indonesia pascakemerdekaan. Di satu sisi, Ahmad Husein dipandang sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan pembangunan daerah.

Di sisi lain, konflik tersebut memicu operasi militer pemerintah pusat dan menimbulkan dampak sosial-politik yang besar, khususnya di Sumatera Barat.

Meski gerakan tersebut berakhir dengan kekalahan, gagasan tentang desentralisasi dan otonomi daerah yang diperjuangkannya kemudian menjadi bagian penting dalam perkembangan sistem pemerintahan daerah Indonesia di masa-masa berikutnya.

Amnesti dan Akhir Hayat

Setelah PRRI berakhir pada 1961, Ahmad Husein menyerah kepada pemerintah dan memperoleh amnesti dari Presiden Soekarno. Ia kemudian menjalani kehidupan di Jakarta hingga akhir hayatnya pada 28 November 1998.

Meskipun pernah dicap sebagai pemberontak, penghormatan terhadap jasanya sebagai pejuang kemerdekaan tetap diberikan. Jenazahnya dimakamkan dengan hormat di Taman Makam Pahlawan Kuranji, Padang.

Warisan Sejarah

Kisah Kolonel Ahmad Husein menyimpan pelajaran penting tentang dinamika hubungan pusat dan daerah dalam perjalanan bangsa.

Ia menunjukkan bahwa kritik terhadap sistem pemerintahan dapat lahir dari kecintaan terhadap tanah air, meski jalannya menimbulkan perdebatan panjang dalam sejarah.

Hingga kini, namanya tetap dikenang masyarakat Sumatera Barat sebagai sosok yang berani menyuarakan aspirasi daerah dalam bingkai keutuhan bangsa.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu