Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Konsistensi Konsepsi Pendidikan Islam 

Iklan Landscape Smamda
Konsistensi Konsepsi Pendidikan Islam 
pwmu.co -
Oleh Drs Najib Sulhan, MA – Ketua PCM Mulyorejo

PWMU.CO – Sejak dari  era Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga era kekinian, — bahkan sampai akhir masa, — konsep dasar pendidikan Islam tidak pernah berubah. Maka saat sekolah/madrasah merujuk pada konsep dasar ini, tentu tidak akan tergilas oleh perubahan zaman. Semua itu sudah terjelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadis.

Muhammad Iqbal berpesan, “Ambillah inspirasi dari Al-Qur’an. Jika kau tinggalkan inspirasi Al-Qur’an kau akan digilas oleh zaman“.  Ini artinya di dalam merumuskan konsep pendidikan, Al-Qur’an harus menjadi . Bukan sebaliknya justru meninggalkan Al-Qur’an sebagai landasan konseptualnya.

Sekolah Islam unggul dan terpercaya

Berikut dapat menjadi tahapan untuk mewujudkan sekolah Islam yang unggul dan terpercaya:

Pertama, melakukan penguatan pada aspek akhlak dan adab. Sebagaimana disabdakan Rasulullah Muhammad SAW dalam hadisnya, ‘Innama buistu liutammima makarimal akhlaq (Sesungguhnya Aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia).

Dalam pandangan Islam, akhlak terbagi menjadi dua macam, yaitu: akhlaqul madzmumah atau akhlak yang buruk, dan akhlaqul karimah atau akhlak yang baik. Dan Rasulullah telah mendapat tugas dari Allah SWT agar mengubah manusia dari akhlaqul madzmumah untuk menjadi akhlaqul karimah tersebut.

Realisasi dari akhlakul karimah adalah berwujud adab. Umar bin Khattab pernah berpesan, “Taaddabuu tsumma ta’allamu” yang artinya “beradablah kemudian berilmulah.” Demikian juga halnya Imam Malik yang juga mengatakan, “Ta ‘allamal adabu qobla an tata’allamal ‘ilmu” (Belajarlah tentang adab sebelum belajar tentang ilmu pengetahuan)”.

Dengan dasar tersebut, sekolah Islam yang menjadi tempat membangun peradaban karena para gurunya yang tampil sebagai mujahid peradaban. Para guru ini harus fokus pada pembentukan akhlakul karimah atau adab. Melalui adab yang kuat, maka ilmu akan mudah dipahami. Sebaliknya, keberadaan ilmu menjadi tidak memiliki manfaat ketika pemegang ilmu kehilangan adab.

Kedua, yakinkan kepada orang tua/wali siswa bahwa anak memiliki pemahaman dan kemampuan mengaplikasikan ibadah fardhu ‘ain dengan baik dan benar. Anak mampu memahami dan bisa  praktek bersuci dengan benar, tertib menjalankan shalat, serta mampu membaca, memahami dan mengaplikasikan Al Qur’an  dalam kehidupan sehari-hari. 

Shalat merupakan amalan ibadah bagi setiap diri manusia. Shalat merupakan amalan pertama yang menjadi indikator kesuksesan setiap individu yang beragama Islam. Jika shalatnya baik, maka amalan yang lainnya akan ikut baik. Sebaliknya, jika shalatnya kurang baik, amalan yang lainnya juga ikut-ikutan kurang baik. Shalat adalah cermin diri bagi seseorang.

Membaca Al-Quran serta memahami isinya merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Dengan berpegang pada panduan Al-Quran dan Hadits, manusia akan selamat. Bukankah Rasulullah bersabda, “Aku tinggalkan dua perkara padamu, jika kamu berpegang pada keduanya, maka tidak akan tersesat selamanya, yaitu Al-Qur’an dan Hadits”?

Pengembangan potensi anak

Ketiga, sekolah harus berusaha untuk mampu mengembangkan setiap potensi anak. Setiap anak yang dengan keunikannya masing-masing, termasuk kecerdasan merupakan pemberian dari Allah. Setiap anak yang lahir sudah terbekali milyaran sel otak yang aktif maupun yang belum aktif. Dalam mengaktifkan otak anak tersebut, maka Allah melengkapinya dengan pendengaran, penglihatan, dan perasaan.

Allah telah menginformasikan dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 78, “Dan Allah mengeluarkan manusia dari perut ibu, tak tahu apapun. Lalu diberinya pendengaran, penglihatan, dan hati. Semoga kamu menjadi  orang yang bersyukur.”

Iklan Landscape UM SURABAYA

Inilah sebenarnya yang merupakan konsep literasi dengan pendekatan pembelajaran mendalam. Pengalaman belajar bersandar pada memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Pemahaman diperoleh dari pendengaran dan penglihatan. Hati memroses agar apa yang dipahami itu dapat diaplikasikan. Agar bisa memperbaiki dan memiliki progres lebih baik, maka perlu refleksi.

Agar potensi dapat berkembang dengan baik, maka sekolah harus melakukan pemetaan potensi. Anak didik perlu pembimbingan sesuai potensi yang dimiliki. Berilah mereka panggung untuk terus mengembangkan diri. Maka kesuksesan anak didik hanya tinggal menunggu waktu.

Sekolah pembeda

Keempat, menentukan positioning sekolah. Kondisi sekolah kita pada posisi yang mana? Ini sangat penting untuk mengukur program yang hendak dibuatnya. Program sekolah harus memiliki banyak variabel. Bisa dari sumberdaya manusianya, keuangannya,  lingkungannya, dan lainnya.

Kelima, membuat branding sekolah untuk menunjukkan perbedaan keunggulannya. Branding bukanlah pencitraan, tapi merupakan bagian fokus keunggulan sekolah. Maka branding pasti tergambar pada visi dan misi sekolah.

Sebelum menentukan branding sekolah, terlebih dahulu membongkar keunggulan yang sudah ada. Apa yang menjadi keunggulan sekolah harus tampak nyata. Apa yang hendak ditawarkan kepada masyarakat harus sesuai dengan keinginan orang tua. Buatlah sebagai sekolah yang dicari, bukan yang mencari.

Kita mengenal beberapa branding sekolah. Ada sekolah berbasis tauhid, berbasis karakter, sekolah kreatif, sekolah inovatif, sekolah digital, sekolah international, sekolah alam, dan lainnya. Tentu itu semua menjadi pembeda keunggulan lembaga pendidikan atau sekolah.

Pendekatan deep learning sebagai penguat sekolah dalam melaksanakan konsep yang telah dibuat. Melalui pembelajaran mendalam, konsep sekolah semakin terarah dan tujuan mudah tercapai.***

Editor Notonegoro

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu