
PWMU.CO – Ketika berbicara perihal kesehatan di Indonesia, seringkali langsung tertuju pada peran pemerintah atau rumah sakit swasta besar. Padahal Muhammadiyah sejak awal berdiri tak hanya berfokus pada bidang pendidikan dan dakwah saja. Muhammadiyah juga memiliki peran strategis dalam pengembangan sistem kesehatan di Indonesia. Selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah telah mendirikan ratusan rumah sakit, klinik, dan puskesmas. Keberadaannya tersebar pada berbagai daerah, termasuk di kawasan terpencil.
Salah satu tonggak sejarah Muhammadiyah berkiprah dalam bidang kesehatan adalah dengan berdirinya Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada tahun 1923. Sejak saat itu, Muhammadiyah terus memperluas jaringannya, memastikan bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya menjadi hak mereka berduit. Rumah Sakit Muhammadiyah justru membuka diakses untuk masyarakat miskin dan kurang mampu. Keunikan dari layanan kesehatan Muhammadiyah adalah pendekatannya yang berbasis nilai-nilai Islam dan keadilan sosial. Dengan banyak fasilitas, Muhammadiyah menerapkan sistem subsidi silang dan bantuan bagi pasien yang kesulitan membayar biaya pengobatan. Inilah cerminan komitmen Muhammadiyah untuk menegaskan bahwa kesehatan adalah hak bagi semua orang tanpa memandang status sosial dan ekonominya.
Kontribusi Muhammadiyah juga tidak terbatas pada penyediaan sarana atau fasilitas kesehatan saja. Muhammadiyah juga memainkan pengaruhnya dalam perumusan kebijakan kesehatan nasional. Dengan jaringan rumah sakit yang luas serta tenaga medis yang kompeten, Muhammadiyah secara aktif terlibat dalam diskusi dan kerja sama dengan pemerintah dalam bidang kesehatan. Salah satu contoh nyata adalah dukungannya terhadap program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan. Kemitraan ini memungkinkan masyarakat dari berbagai latar belakang ekonomi mendapatkan akses layanan kesehatan yang lebih luas dan terjangkau.
Selain itu, Muhammadiyah juga turut berperan dalam berbagai isu kesehatan yang berkaitan dengan nilai-nilai Islam, seperti: etika medis, penggunaan obat halal, dan kesehatan reproduksi. Pendekatan berbasis nilai ini memberikan perspektif kebijakan yang lebih inklusif dan berkeadilan. Tak terbatas hanya umat Muslim saja, tetapi juga bagi masyarakat Indonesia secara umum. Dalam banyak kesempatan, Muhammadiyah menjadi jembatan antara pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat dalam merancang kebijakan kesehatan yang lebih manusiawi dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat.
Menjawab tantangannya
Meskipun perannya sangat signifikan, bukan berarti Muhammadiyah tidak pernah menghadapi persoalan. Keterbatasan pendanaan seringkali menjadi kendala utama, terutama dalam menjaga keberlanjutan program kesehatan berbasis sosial. Banyak Rumah Sakit dan Klinik Muhammadiyah yang bergantung pada subsidi dan donasi agar tetap dapat memberikan layanan bagi masyarakat kurang mampu.
Perkembangan teknologi medis yang semakin pesat menuntut Muhammadiyah untuk terus beradaptasi dan meningkatkan fasilitasnya. Digitalisasi layanan kesehatan dan pemanfaatan teknologi terbaru menjadi tantangan yang harus segera diatasi. Layanan yang diberikan harus tetap relevan dan berkualitas. Belum lagi terkait dengan distribusi tenaga medis yang belum merata di Indonesia. Hal ini juga masih menjadi persoalan serius, terutama dalam upaya untuk memenuhi harapan daerah terpencil untuk mendapatkan akses layanan kesehatan yang memadai.
Meski selalu dihadapkan pada tantangan yang cukup berat dan besar, Muhammadiyah terus berupaya menciptakan peluang untuk terus berkembang pada di bidang kesehatannya. Salah satu langkah yang dilakukan Muhammadiyah adalah memanfaatkan teknologi digital seperti telemedicine. Sehingga masyarakat di daerah terpencil memungkinkan untuk mendapatkan konsultasi medis tanpa harus datang ke rumah sakit.
Muhammadiyah kian memperluas kerjasama dengan organisasi internasional dan juga institusi akademik global. Melalui kolaborasi ini, Muhammadiyah dapat meningkatkan kapasitas tenaga medisnya melalui program pelatihan, riset, serta transfer teknologi dan pengetahuan. Karena itulah, Muhammadiyah lebih mampu bersaing dengan rumah sakit besar lainnya, sekaligus mampu mempertahankan identitasnya sebagai institusi kesehatan yang berbasis nilai sosial dan keislaman.
Selain itu, Muhammadiyah juga memperkuat program kesehatan berbasis komunitas. Penyuluhan kesehatan yang menargetkan berbagai kelompok masyarakat, — baik di perkotaan maupun dipedesaan —, menjadi strategi efektif meningkatkan kesadaran pentingnya kesehatan preventif. Semakin meningkatnya pemahaman masyarakat tentang pola hidup sehat, Muhammadiyah berpotensi menjadi pelopor dalam membangun sistem kesehatan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan umat.
Tak terbantahkan, kontribusi Muhammadiyah dalam bidang kesehatan di Indonesia sangatlah luas dampak atau pengaruhnya. Dari pendirian rumah sakit dan klinik, pendidikan tenaga medis, hingga advokasi kebijakan kesehatan, Muhammadiyah berperan dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Hanya saja perjuangan belum menampakkan titik akhir. Tantangan di era modern ini mendorong Muhammadiyah untuk terus berinovasi, memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, dan memastikan bahwa layanannya tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Dengan pendekatan yang lebih adaptif, berbasis teknologi, serta tetap berlandaskan nilai-nilai Islam dan keadilan sosial, Muhammadiyah berpotensi menjadi garda terdepan dalam membangun sistem kesehatan yang lebih kuat dan inklusif.
Dengan demikian, membincangkan Muhammadiyah tidak cukup sekedar tentang rumah sakit, klinik, atau kebijakan kesehatan. Muhammadiyah adalah gerakan — yang memastikan bahwa kesehatan adalah hak bagi semua orang. Tidak boleh ada satupun individu yang terlayani kebutuhannya terhadap kesehatan hanya karena keterbatasan ekonomi atau geografis. Insyaallah jika Muhammadiyah semakin berkembang dan beradaptasi, perannya dalam sektor kesehatan tentu akan semakin besar. Tidak hanya untuk saat ini, tetapi juga untuk era mendatang.***
Editor Notonegoro






0 Tanggapan
Empty Comments