Suasana kelas III Drum di Sekolah Kreatif Baratajaya tampak berbeda pada Selasa (10/3/2026). Di tengah nuansa bulan suci Ramadan , para siswa terlihat antusias mengerjakan lembar pembelajaran numerasi yang tidak biasa, dengan kertas warna-warni, gunting, lem, dan gambar ketupat menghiasi meja belajar mereka.
Aktivitas tersebut bukan sekadar kegiatan seni, melainkan bagian dari pembelajaran matematika yang dirancang secara kontekstual dan menyenangkan, sehingga siswa dapat memahami konsep numerasi melalui kegiatan kreatif yang dekat dengan pengalaman mereka sehari-hari.
Pembelajaran Numerasi Bernuansa Ramadan
Tepat pukul 10.30 WIB setelah waktu istirahat berakhir, para siswa kembali ke kelas dengan semangat untuk melanjutkan kegiatan belajar. Meskipun sedang menjalankan ibadah puasa, antusiasme mereka tetap tinggi mengikuti proses pembelajaran.
Kegiatan diawali dengan penjelasan dari ustadzah Lilik Wahyuningsih, S.Pd., MT yang memandu tahapan aktivitas belajar. Para siswa diminta mewarnai bagian tertentu, menggunting lembar soal, kemudian mencocokkan soal numerasi berbentuk lingkaran dengan jawaban yang berbentuk ketupat.
Pemilihan bentuk ketupat bukan tanpa alasan. Ketupat merupakan simbol yang identik dengan tradisi Lebaran sebagai penanda akhir bulan Ramadan , sehingga penggunaan bentuk tersebut membuat pembelajaran terasa lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan siswa.
“Sesuai dengan momen bulan suci Ramadan , pembelajaran numerasi kali ini dirancang harus menyenangkan. Puasa jangan dijadikan alasan untuk tidak berkreasi,” ujar ustadzah Lilik.
Menerapkan Model Problem Based Learning
Pembelajaran numerasi tersebut menggunakan pendekatan Problem Based Learning (PBL), yaitu model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai pusat proses belajar.
Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi aktif memecahkan masalah melalui eksplorasi, diskusi, serta pengalaman langsung.
Konsep ini sejalan dengan teori pendidikan yang dikembangkan oleh John Dewey yang menyatakan bahwa pembelajaran efektif terjadi ketika siswa terlibat langsung dalam pengalaman nyata yang berkaitan dengan kehidupan mereka.
Dalam kegiatan tersebut, siswa tidak hanya mengerjakan soal matematika, tetapi juga memecahkan masalah sambil berkreasi melalui aktivitas mewarnai, menggunting, dan menempel.
Melatih Motorik dan Pemahaman Konsep
Kegiatan kreatif tersebut juga melatih keterampilan motorik halus siswa. Dalam perspektif teori perkembangan Jean Piaget, siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret, yaitu fase ketika anak belajar paling efektif melalui benda nyata dan aktivitas langsung.
Dengan memanfaatkan media visual serta aktivitas tangan, siswa dapat memahami konsep numerasi secara lebih mendalam dan tidak sekadar menghafal rumus.
Pembelajaran Kontekstual di Sekolah Kreatif Baratajaya
Pembelajaran di Sekolah Kreatif Baratajaya memang dirancang untuk mengintegrasikan berbagai pendekatan pendidikan modern. Hal ini sejalan dengan arahan Heru Tjahyono selaku Tim Inovasi Pengembangan Sekolah (TIPS).
Menurutnya, proses pembelajaran di sekolah tidak boleh terlepas dari konteks kehidupan siswa, termasuk momentum keagamaan seperti bulan Ramadan .
“Sesuai dengan momen bulan suci Ramadan , pembelajaran harus tetap kontekstual. Tidak terbatas pada pelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan saja, numerasi pun bisa disesuaikan dengan momen Ramadan ,” jelas Heru Tjahyono yang akrab disapa Babe Heru.
Belajar Sambil Berkolaborasi
Pendekatan kooperatif juga terlihat dalam kegiatan tersebut. Setelah menyelesaikan soal dan merangkai ketupat, para siswa bekerja sama untuk menampilkan hasil karya mereka di area display kelas.
Kelas yang sebelumnya dipenuhi lembar kerja perlahan berubah menjadi galeri kecil yang penuh warna. Ketupat-ketupat numerasi buatan siswa tergantung rapi, menampilkan hasil belajar yang tidak hanya benar secara matematis tetapi juga menarik secara visual.
Menumbuhkan Kegembiraan Belajar
Antusiasme siswa terlihat hingga akhir kegiatan. Meski sedang menjalankan ibadah puasa, semangat mereka tetap terpancar sepanjang proses pembelajaran berlangsung.
Salah satu siswa kelas III Drum, Setyaka Fachrizal Kresna, mengungkapkan kegembiraannya mengikuti kegiatan tersebut.
“Aku suka mengerjakan soal matematika, karena hasil akhirnya berbentuk ketupat yang lucu,” ujarnya.
Pernyataan sederhana tersebut menjadi bukti bahwa pembelajaran yang kreatif mampu menumbuhkan rasa suka terhadap pelajaran yang sering dianggap sulit oleh sebagian siswa.
Melalui pendekatan Problem Based Learning, siswa tidak hanya belajar matematika, tetapi juga mengembangkan kreativitas, keterampilan motorik, serta kemampuan bekerja sama.
Di tengah suasana Ramadan , kegiatan ini menunjukkan bahwa semangat belajar tidak pernah surut oleh rasa lapar dan dahaga. Dengan sentuhan kreativitas guru serta pendekatan pembelajaran yang tepat, kelas berubah menjadi ruang eksplorasi yang penuh kegembiraan, tempat di mana ilmu, nilai budaya, dan semangat Ramadan berpadu dalam pengalaman belajar yang bermakna.






0 Tanggapan
Empty Comments