Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

KTAM dan Kesadaran Berjamaah: Menegaskan Identitas, Merawat Komitmen

Iklan Landscape Smamda
KTAM dan Kesadaran Berjamaah: Menegaskan Identitas, Merawat Komitmen
Prof. Haedar Nashir menyerahkan KTAM kepada kader Muhammadiyah. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Dalam beberapa waktu terakhir, linimasa media sosial dipenuhi unggahan Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (KTAM). Bukan sekadar pamer kartu identitas, fenomena ini merepresentasikan kesadaran berorganisasi dan kebanggaan berjamaah.

Di tengah menguatnya suara-suara yang meragukan legitimasi organisasi Islam, KTAM tampil sebagai simbol sikap ideologis: bahwa berorganisasi adalah pilihan sadar untuk menunaikan dakwah secara kolektif dan terarah.

Di balik unggahan-unggahan itu, tersimpan pesan ideologis yang penting, yakni peneguhan identitas. Akun @gusyusufkholil, misalnya, mengunggah KTAM-nya dengan caption, “Ustadz Dan Gus Sekalian, Selain Ini Kulo Juga Punya Selain NBM Ada NBA IPM, Sumu, Dan GawagisMU. Apakah Bisa Join Circle Ahlul Bid’ah dan Ditahzir.”

Berdasarkan captionnya, gerakan ini tampak sebagai respons terhadap suara sebagian kecil umat Islam yang mempersoalkan keberadaan organisasi kemasyarakatan Islam.

Kelompok ini beranggapan bahwa bergabung dalam ormas adalah bidah, sebab pada masa Nabi Muhammad saw tidak dikenal struktur organisasi seperti yang ada hari ini.

Mereka mengklaim berpegang teguh pada tradisi salafus salih, lalu memandang segala bentuk kelembagaan modern sebagai sesuatu yang menyimpang dari sunah.

Pandangan semacam ini problematis karena mengabaikan prinsip dasar ajaran Islam tentang kerja kolektif, pengorganisasian dakwah, dan tanggung jawab sosial umat.

Al-Qur’an tidak pernah membatasi kebaikan pada bentuk-bentuk tertentu yang bersifat historis. Sebaliknya, Al-Qur’an justru memberikan landasan normatif bagi lahirnya kelompok atau organisasi yang bertugas mengajak kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran.

Dalil yang paling sering dirujuk adalah firman Allah dalam Surah Ali ‘Imran ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Dan hendaklah ada di antara kamu suatu umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Frasa wal takun minkum ummah mengandung makna perintah agar lahir satu kelompok terorganisasi dari kalangan umat Islam yang secara sadar memikul tugas dakwah dan amar makruf nahi mungkar.

Ayat ini menjadi fondasi teologis yang kokoh bagi berdirinya organisasi Islam, termasuk Muhammadiyah. Persyarikatan menjadi wadah ikhtiar kolektif untuk menjalankan perintah Al-Qur’an secara lebih efektif, terencana, dan berkelanjutan.

Muhammadiyah sejak awal kelahirannya hadir sebagai jawaban atas tantangan zaman. Muhammadiyah mengorganisasi amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan dakwah. Semua itu sulit dibayangkan dapat berjalan tanpa struktur, keanggotaan, dan komitmen bersama.

Karena itu, ajakan untuk menunjukkan KTAM di media sosial layak dipahami sebagai ekspresi syukur dan kebanggaan, sekaligus pernyataan sikap. Ini adalah cara halus tetapi tegas untuk mengatakan bahwa berorganisasi bukan penyimpangan, melainkan pengejawantahan perintah wahyu.

Lalu bagaimana jika di penghujung tahun 2025 masih belum memiliki KTAM? Tidak perlu risau. Muhammadiyah telah menyediakan kemudahan melalui layanan digital. Cukup kunjungi https://e-ktam.muhammadiyah.or.id/ dan ikuti langkah-langkah yang tersedia. Menjadi bagian resmi dari persyarikatan berarti mengambil posisi sadar dalam barisan dakwah.

Maka, mari tunjukkan KTAM kamu! (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu