Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr Abdul Mu’ti, menegaskan pentingnya memperkokoh tauhid murni sebagai fondasi utama gerakan Muhammadiyah dalam Kuliah Penutup Pengkajian Ramadan 1447 H yang digelar di Universitas Muhammadiyah Tangerang.
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti mengibaratkan tauhid murni seperti pohon yang berakar kuat ke dalam tanah dan menjulang tinggi ke langit, sebuah perumpamaan yang menggambarkan kokohnya ideologi sekaligus luasnya manfaat yang adihasilkan bagi kehidupan umat.
Tauhid Murni Seperti Pohon Kokoh
Dalam pemaparannya, Abdul Mu’ti mengupas makna tauhid melalui Surat Ibrahim ayat 24-25-26 yang menjelaskan perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang kuat akarnya dan menjulang cabangnya ke langit.
Ia menjelaskan bahwa ayat tersebut diawali dengan ajakan untuk berpikir mendalam melalui kalimat tanya, yang menegaskan pentingnya memahami pesan yang disampaikan Allah SWT secara serius.
Menurutnya, kalimat thayyibah dalam banyak tafsir dimaknai sebagai kalimat tauhid, yaitu “la ilaha illallah”, yang menjadi dasar keimanan seorang Muslim.
“Tauhid murni itu seperti pohon yang akarnya menghujam kuat ke dalam tanah, tidak mudah goyah, dan cabangnya menjulang ke langit serta memberikan buah setiap saat atas izin Allah SWT,” jelasnya.
Manhaj Muhammadiyah Harus Kokoh dan Hidup
Lebih lanjut, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa perumpamaan tersebut juga mencerminkan karakter kader Muhammadiyah yang harus memiliki pendirian kuat, tidak mudah goyah, serta percaya diri dalam menjalankan nilai-nilai organisasi.
Ia mengutip Surat Al Maidah ayat 48 yang menegaskan pentingnya berlomba-lomba dalam kebaikan sebagai bagian dari ujian kehidupan.
Menurutnya, kekuatan Muhammadiyah terletak pada manhaj atau ideologi yang telah dipilih dan dijalankan secara konsisten.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa manhaj tidak boleh berhenti pada konsep, melainkan harus terlembaga dan terstruktur dalam seluruh lini organisasi.
“Semua struktur Muhammadiyah harus hidup. Kalau hanya akar yang kuat tanpa cabang dan ranting, organisasi tidak akan berkembang. Sebaliknya, jika cabang ada tetapi akarnya tidak kokoh, maka akan mudah tumbang,” tegasnya.
Empat Dimensi Amal Saleh
Dalam kuliah tersebut, Abdul Mu’ti juga menjelaskan bahwa amal saleh dalam Muhammadiyah memiliki empat dimensi utama yang harus dipahami dan dijalankan oleh setiap kader.
Pertama adalah dimensi niat, yaitu keikhlasan dalam beribadah semata-mata kepada Allah SWT. Kedua adalah dimensi kaifiyah atau tata kelola yang harus dilakukan secara benar dan profesional.
Ketiga adalah dimensi maslahat, yakni kehadiran Muhammadiyah harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitarnya.
Sedangkan dimensi keempat adalah islah atau pembaruan, yang menuntut adanya inovasi dan peningkatan berkelanjutan sebagai ciri gerakan tajdid.
Menurutnya, keempat dimensi tersebut menjadi kunci mengapa Muhammadiyah mampu terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi umat.
Aktualisasi Nilai Thayyibah
Abdul Mu’ti juga menjelaskan bahwa konsep thayyibah dalam Al-Qur’an memiliki makna luas dan dapat diaktualisasikan dalam berbagai aspek kehidupan.
Salah satunya adalah sikap tegak lurus terhadap keputusan organisasi, yang menjadi bagian penting dalam menjaga kekuatan dan kesatuan gerakan.
Selain itu, thayyibah juga berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat, termasuk pemenuhan kebutuhan pangan yang baik serta pembangunan sumber daya manusia yang berakhlak mulia.
Ia mencontohkan doa dalam Surat Al-Furqan ayat 74 yang menekankan pentingnya membangun keluarga dan keturunan yang menjadi penyejuk hati sekaligus teladan bagi orang-orang bertakwa.
Tujuan Dakwah dan Peradaban
Lebih jauh, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa tujuan utama Muhammadiyah dalam berdakwah adalah mengantarkan umat menuju kehidupan yang lebih baik, baik di dunia maupun akhirat.
Hal tersebut diwujudkan melalui berbagai amal usaha yang tidak hanya berorientasi pada ibadah, tetapi juga membangun peradaban dan kesejahteraan masyarakat.
Konsep baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur menjadi cita-cita yang ingin diwujudkan, yakni negeri yang baik, aman, dan berada dalam lindungan serta ampunan Allah SWT.
Ia juga mengibaratkan gerakan Muhammadiyah seperti angin pembawa kabar gembira yang menghadirkan harapan dan keberkahan bagi kehidupan umat manusia.
“Dalam konteks inilah peneguhan tauhid murni dan komitmen terhadap manhaj menjadi kunci agar Muhammadiyah terus berkembang dan memberikan manfaat bagi seluruh umat,” pungkasnya.





0 Tanggapan
Empty Comments