Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kunci Pembuka Rezeki dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah

Iklan Landscape Smamda
Kunci Pembuka Rezeki dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya, Dr. Imam Syaukani, M.A., saat menyampaikan materi pengajian. Foto: Syahroni Nur Wachid /PWMU.CO.
pwmu.co -

Rezeki sering kali menjadi persoalan utama yang menyita perhatian umat manusia. Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa agama hanya mengatur urusan akhirat, sementara urusan dunia berjalan dengan sendirinya.

Namun, dalam ajaran Islam, Al-Qur’an dan Sunnah justru menegaskan bahwa kunci kebahagiaan di dunia dan akhirat saling berkaitan.

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya, Dr. Imam Syaukani, M.A., dalam pengajian Ahad Pagi yang digelar oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tembok Dukuh di Balai Dakwah Muhammadiyah Kalibutuh, Surabaya pada Ahad (14/9/2025).

Syaukani menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak hanya membimbing umat menuju keselamatan akhirat, tetapi juga memberikan panduan untuk memperoleh keberkahan hidup di dunia.

“Nabi Muhammad SAW bahkan sering berdoa agar umatnya dianugerahi kebaikan di dunia dan akhirat sekaligus,” jelasnya.

Menurut Syaukani, ada beberapa kunci yang disebutkan Al-Qur’an dan hadis terkait pembuka pintu rezeki.

Pertama adalah istighfar dan taubat. Ayat-ayat dalam surat Nuh dan Hud menunjukkan bahwa memohon ampun dan kembali kepada Allah akan mendatangkan hujan, menambah kekuatan, serta memperbanyak harta dan keturunan.

Selain itu, Hadis Nabi juga menegaskan, “Barangsiapa memperbanyak istighfar, Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.”

Iklan Landscape UM SURABAYA

Kedua, takwa. Imam An-Nawawi mendefinisikan takwa sebagai sikap menaati perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, serta menjaga diri dari murka dan azab-Nya. Al-Qur’an juga menyebut bahwa orang yang bertakwa akan diberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tak terduga.

Ketiga, tawakal. Rasulullah mencontohkan dengan perumpamaan burung yang berangkat pagi dalam keadaan lapar lalu kembali pada sore hari dengan perut kenyang.

“Tawakal bukan berarti pasif, melainkan usaha maksimal yang disertai kepasrahan penuh kepada Allah SWT,” kata Syaukani.

Pesan ini sangat relevan bagi masyarakat modern yang sering terjebak dalam kecemasan ekonomi. Jalan spiritual seperti istighfar, takwa, dan tawakal justru menjadi fondasi utama dalam membuka pintu rezeki yang lebih luas.

Pengajian ini diharapkan menjadi momentum bagi jamaah untuk memperbaiki cara pandang terhadap rezeki, menjadikannya sarana mendekatkan diri kepada Allah. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu