
PWMU.CO – Kabar tentang prahara itu beredar luas di media sosial. Seorang nenek tua tunanetra hidup bersama cucunya yang juga disabilitas daksa sejak kecil akibat penyakit polio. Mendengar kabar viral itu, Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Kabupaten Tulungagung langsung bergerak untuk ikut meringankan beban.
Bersama dengan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) Tulungagung, Lazismu mengunjungi Mbah Kuning, Selasa (10/7). “Riyen naliko tasih sehat, kulo niki sadean gendis abrit dateng Pasar Wage,” cerita Mbah Kuning tentang perjalanan hidupnya. Kalimat itu secara bebas bisa diterjemahkan: dahulu saat masih sehat saya jualan gula merah di Pasar Wage.
Selama di rumah Mbah Kuning di Desa Kepuh Kecamatan Bonyolangu, Lazismu bertemu dengan Mbah Kuning dan cucunya Endah Susanti. Juga tetangga dekat Mbah Kuning, Winarti. ”Usia Mbah Kuning kurang lebih 95 tahun,” cerita Winarti.
Disabilitas mata yang membuat Mbah Kuning mengalami kebutaan total terjadi sekitar tahun 1980. Tepatnya saat sang suami meninggal dunia, dan dia merawat cucunya yang polio. “Tiba-tiba Mbah Kuning pusing dan akhirnya tidak bisa melihat,” tambah Winarti tentang kronologi disabilitas yang dialami Mbah Kuning.
Masih menurut winarti, untuk kebutuhan sehari hari, keluarga ini ditopang oleh tetangga, pemerintah desa dan donatur, “Tanah rumah inipun bukan milik Mbah Kuning, melainkan milik pak Purnam,” tambah Winarti.
Atas kunjungan Lazismu dan Kokam ini, Mbah Kuning tak lupa menyampaikan terima kasih atas kehadiran Muhammadiyah. “Haru dan senang karena bisa bersinergi menggembirakan kemanusiaan bersama Lazismu,” kesan perwakilan Kokam, Novan Eko. (hendra pornama)






0 Tanggapan
Empty Comments