Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kunjungi Open Day Sekolah Ciputra, Ini Oleh-Oleh yang Didapat SDMM

Iklan Landscape Smamda
Kunjungi Open Day Sekolah Ciputra, Ini Oleh-Oleh yang Didapat SDMM
pwmu.co -
Gatot Samuel (tiga dari kiri) bersama rombongan SDMM di Sekolah Ciputra. (Pusvita for PWMU.CO)

PWMU.CO – SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik berkesempatan mengunjungi Sekolah Ciputra di Puri Widya Kencana, Citraland, Surabaya, Jumat (19/10/18).

Kunjungan tersebut dalam rangka Open Day Sekolah Ciputra yang digelar selama 3 hari, Kamis-Sabtu (18-20/10/18).

Kepala SDMM Ahmad Faizun SSos datang bersama Koordinator Kurikulum Rudi Purnawan MPd, Koordinator International Class Program (ICP) Ria Pusvita Sari SPd, Penanggung Jawab Laboratorium MIPA Shofan Hariyanto SPd, dan Guru Bahasa Inggris Ema Rohma Hayati SPd.

Kedatangan mereka disambut hangat Gatot Samuel, Curriculum Coordinator Sekolah Ciputra. Sambil berjalan keliling sekolah, Samuel menjelaskan konsep Open Day Sekolah Ciputra.

“Kegiatan ini salah satu tahapan proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di sini. Jadi, calon wali murid akan dilayani beberapa siswa, namanya Student Initiative Action (Aksi Inisiatif Siswa),” jelasnya.

Sekolah Ciputra ini, kata Samuel, ingin siswa sebagai agency. “Kita harus dengarkan suara mereka, keterlibatan mereka juga harus besar, to get involve their own learning and getting opportunity to lead program,” ujarnya untuk melibatkan pembelajaran siswa sendiri dan mendapatkan kesempatan untuk memimpin program.

Salah satu sudut miniatur kamar hotel di kelas I sesuai tema “Tempat Umum”. (Shofan for PWMU.CO)

Shofan Hariyanto mengaku tertarik dengan beberapa siswa yang bertugas menyambut dan mengantar calon wali murid keliling sekolah. Mereka tampak sangat bersahabat menjelaskan sekolahnya menggunakan bahasa Inggris.

Menjawab hal tersebut, Samuel menekankan pentingnya pembiasaan. “Bagaimana mereka presentasi setiap tema berakhir. Presentasi tersebut secara verbal dengan media powerpoint, diorama, poster, dan lain-lain,” ujar Koordinator Kurikulum yang membawahi TK hingga SMA Ciputra tersebut.

Karena mereka terbiasa dengan audience (hadirin) yang tidak hanya di depan anak-anak, guru, dan orangtua, lanjutnya, pengalaman itu mereka terapkan dalam konteks berbeda. “Sebelumnya juga ada briefing singkat dari Kesiswaan,” kata Samuel.

Sekolah yang menerapkan kurikulum berbasis International Baccalaureate (IB) ini menekankan siswanya bisa melihat isu-isu di sekitar mereka. “Bisa isu lingkungan, sosial, hak anak, teknologi, atau bullying,” ujar Samuel memberi contoh.

Dia mengatakan, kegiatan tersebut merupakan tugas akhir kelas VI berupa Exhibition. “Anak-anak yang tertarik mengangkat isu yang sama bergabung dalam satu kelompok. Permasalahan ini mereka angkat dan mereka teliti dengan survei, pengamatan, dan interview,” jelasnya.

Selasar kelas Sekolah Ciputra yang penuh dengan karya siswa. (Pusvita for PWMU.CO)

Kepala SD Ciputra tahun 2011-2017 tersebut melanjutkan, data yang telah didapat itu mereka olah dalam bentuk diagram. Kemudian menerangkan satu peluang atau solusi karena masalah selalu muncul. “Tentu saja mindset-nya bagaimana menyelesaikan masalah itu sesuai dengan kapasitas mereka, kontribusi dalam skala kecil untuk mengatasi masalah itu,” papar Samuel.

Ia menambahkan, tugas proyek tersebut sangat bermanfaat untuk memberdayakan pembelajaran mereka sendiri. “How to empower their own learning,” tegasnya.

Saat memasuki ruang kelas I, rombongan SDMM tertarik dengan setting yang ada di dalamnya. Ani Feny Gesha, salah satu guru kelas I mengatakan, pengaturan kelasnya sesuai dengan tema yang berlaku selama 6-7 pekan. “Nah saat ini temanya ‘Tempat Umum’. Maka ada miniatur hotel, mall, dan toko roti. Ini semua anak-anak yang membawa dan menata di kelasnya,” ungkapnya.

Feny menambahkan, jam belajar siswanya mulai pukul 07.30. “Tapi ada 15 menit free (bebas) main di dalam kelas yang juga didampingi guru,” kata dia.

Di akhir sesi keliling sekolah, rombongan SDMM juga tertarik dengan pajangan yang berisi ekspresi bagaimana learner profile (profil pembelajar) itu diterapkan di playground (tempat bermain). “Ada 10 profil, yaitu caring (peduli), principled (berprinsip), communicator (penghubung), balanced (seimbang), knowledgeable (berpengetahuan luas), open minded (berpikiran terbuka), thinker (pemikir), risk taker (pengambil risiko) inquirer (penanya), dan reflective (reflektif),” ujarnya.

Sebagai contoh, kata Samuel, ketika bermain di playground, siswa harus smiling (tersenyum), helping (membantu), dan sharing (berbagi). “Contoh ungkapannya adalah: are you OK? (apa kamu baik-baik saja?), can I help you? (dapatkah aku membantumu?), dan do you want to play? (apa kamu ingin bermain?),” jelasnya.

Hal tersebut, lanjutnya, termasuk perwujudan profil caring. “Karena pentingnya menumbuhkan karakter profil tersebut, maka pukul 09.00-09.30 saat istirahat, anak-anak harus keluar dari dalam gedung. Semua harus berinteraksi satu sama lain,” jelasnya. (RPS)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu