Kwartir Daerah (Kwarda) Hizbul Wathan Kabupaten Sidoarjo sukses menyelenggarakan Pendidikan dan Latihan (Diklat) Jaya Melati 1. Sebuah tahapan strategis dalam mencetak calon pelatih qabilah Hizbul Wathan yang unggul dan terverifikasi.
Kegiatan ini berlangsung selama enam hari dengan dua model pertemuan, yakni daring pada 26–29 Januari 2026 dan luring pada 6–8 Februari 2026. Untuk sesi tatap muka, panitia memusatkan kegiatan di Aula Hotel Permata Biru, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur.
Ketua Panitia Diklat Jaya Melati 1, Abdul Muiz Henggar, saat dikonfirmasi Jumat (6/2/2026), menyampaikan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 112 peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Jawa Timur. Peserta terjauh bahkan datang dari Kabupaten Jombang. Adapun jumlah panitia yang terlibat secara aktif sebanyak 13 orang.
“Alhamdulillah, antusiasme peserta sangat luar biasa. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan pelatih Hizbul Wathan yang terstandar memang sangat mendesak,” ungkapnya.
Abdul Muiz mengakui, dalam pelaksanaan kegiatan tentu terdapat sejumlah tantangan. Di antaranya adalah dinamika kekompakan panitia lintas usia, perbedaan tingkat penguasaan teknologi, hingga keterbatasan waktu karena sebagian panitia juga memiliki tanggung jawab pekerjaan di amal usaha Muhammadiyah maupun instansi lain.
“Usia panitia sangat beragam, dari yang masih muda hingga yang sudah berkeluarga dan memiliki cucu. Di sinilah seni berorganisasi diuji. Kami dari kalangan muda belajar untuk lebih mengalah, menghormati senior, dan menjaga etika,” jelasnya.
Menurutnya, perbedaan kemampuan teknologi juga menjadi tantangan tersendiri. Rapat daring kerap terkendala karena tidak semua panitia terbiasa menggunakan aplikasi digital, sehingga solusi terbaik yang ditempuh adalah dengan memperbanyak pertemuan langsung.
Regenerasi
Sementara terkait persyaratan kepanitiaan yang mengharuskan panitia telah lulus Jaya Melati 1, Abdul Muiz menyebutkan bahwa diklat ini sekaligus menjadi solusi regenerasi.
“Kami ingin memperbanyak kader yang lulus Jaya Melati 1 agar ke depan stok panitia dan pelatih semakin kuat,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia berharap Diklat Jaya Melati 1 ini mampu mendukung program strategis Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, khususnya dalam mewujudkan target pembentukan 1.000 pelatih di wilayah Jawa Timur, termasuk Sidoarjo.
“Kami ingin mendorong agar di setiap sekolah, terutama di tingkat Tunas Athfal dan TK, sudah tersedia pelatih Hizbul Wathan yang kompeten, solid, dan terverifikasi,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Kwartir Daerah Hizbul Wathan Kabupaten Sidoarjo, Muhammad Jamil SE, MM, dalam sambutan pembukaannya menyampaikan harapan besar kepada para peserta agar tidak berhenti di Jaya Melati 1 saja.
“Bagi peserta yang sudah menyelesaikan Jaya Melati 1, kami berharap bisa melanjutkan ke Jaya Melati 2. Ini penting untuk penguatan kapasitas dan kualitas pelatih,” pesannya.
Dengan gaya khas yang hangat dan bersahaja, Jamil juga menyelipkan candaan yang disambut tawa peserta.
“Sebagai ketua itu dilarang banyak pikiran, nanti sakit lagi,” selorohnya.
Ia turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada panitia muda yang telah bekerja keras menyukseskan kegiatan, serta kepada Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo, Dikdasmen dan PAUD Dasmen Pimpinan Daerah Aisyiyah Sidoarjo yang berkenan hadir dan memberikan dukungan.
Antusiasme Peserta
Jamil mengakui masih banyak sekolah yang belum sempat mengirimkan utusan karena pendaftaran telah ditutup. Padahal, jauh hari sebelumnya pihak Kwarda telah menginstruksikan agar setiap amal usaha Muhammadiyah mengirimkan minimal dua delegasi.
“Karena keterbatasan waktu dan kuota, terpaksa kami menolak pendaftar yang terlambat. Namun insya Allah akan ada Diklat Jaya Melati 1 periode kedua. Sekolah-sekolah yang belum sempat ikut, silakan mempersiapkan diri,” ujarnya.
Ia optimis Kwarda Sidoarjo mampu menyelenggarakan Jaya Melati 1 dan 2 secara berkelanjutan, mengingat Sidoarjo telah memiliki pelatih nasional Hizbul Wathan, di antaranya Ernam, Muharti, Yusuf, dan Gunawan.
Menutup sambutannya, Jamil menyampaikan permohonan maaf apabila dalam penyambutan, fasilitas, maupun konsumsi terdapat kekurangan.
“Dengan segala keterbatasan, kami mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Semoga kegiatan ini tetap membawa keberkahan dan manfaat besar bagi Hizbul Wathan,” tutur pria yang sehari-hari bertugas sebagai KTU Umsida itu. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments