Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Lakum Dinukum Waliyadin: Menanamkan Nilai Toleransi kepada Anak dalam Perspektif Islam

Iklan Landscape Smamda
Lakum Dinukum Waliyadin: Menanamkan Nilai Toleransi kepada Anak dalam Perspektif Islam
pwmu.co -

Pentingnya Pendidikan Toleransi Sejak Dini

Masa kanak-kanak merupakan fase pembentukan kepribadian dan nilai hidup yang paling kuat. Dalam Islam, pendidikan anak tidak hanya terbatas pada hafalan atau ibadah, tetapi juga pembinaan akhlak dan interaksi sosial yang baik. Anak-anak perlu dikenalkan pada kenyataan bahwa mereka hidup di tengah masyarakat yang beragam, baik suku, bahasa, budaya, bahkan agama.

Namun, pengenalan ini harus dimulai dari fondasi aqidah yang kokoh. Anak harus tahu bahwa keyakinannya kepada Allah adalah mutlak, bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai Allah, sebagaimana dalam al-Quran surat Ali Imran ayat 19:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Artinya: “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tidaklah orang-orang yang diberi Kitab berselisih, kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”

Namun yang terpenting Islam tidak mengajarkan kebencian terhadap penganut agama lain.

Salah satu contoh praktik nyata toleransi yang tetap menjaga aqidah dapat kita temukan di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Di banyak daerah, sekolah Muhammadiyah menerima siswa non-Muslim dengan syarat tetap mengikuti peraturan sekolah yang berbasis Islam, namun mereka tidak diwajibkan mengikuti ibadah tertentu.

Misalnya, SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, yang sudah lama menerima siswa dari berbagai latar belakang agama dan budaya. Dalam laporan tahun 2022, sekolah ini tetap menjaga suasana Islami dalam kegiatan pembelajaran, namun memberi ruang kepada siswa non-Muslim untuk tetap menjalankan kepercayaannya secara damai. Interaksi yang harmonis tetap terjadi tanpa harus melemahkan aqidah Islam. Begitu juga di Universitas Muhammadiyah Kupang (NTT) dan Universitas Muhammadiyah Papua yang mana mahasiswanya 90 persen non Islam.

Ini menunjukkan bahwa lembaga pendidikan Islam dapat menjadi tempat pembelajaran toleransi yang seimbang antara prinsip dan penghormatan.

Strategi Mengenalkan Toleransi kepada Anak

Terdapat lima strategi untuk mengenalkan toleransi kepada anak, di antaranya:

Satu, Teladan Orang tua dan Guru

Anak-anak pada dasarnya adalah peniru ulung. Mereka menyerap nilai dan perilaku dari figur terdekatnya, terutama orang tua dan guru. Oleh karena itu, jika orang tua bersikap ramah, tidak membenci orang hanya karena perbedaan agama atau suku, dan adil dalam memperlakukan semua orang, anak akan meniru hal tersebut.

Sikap terbuka, namun tetap teguh dalam aqidah memberi pesan kepada anak bahwa kita bisa bersikap baik tanpa harus mengorbankan prinsip.

Ini sesuai dengan sabda Nabi Saw:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Hadits tersebut dapat diketahui bahwa pendidikan paling awal tentang nilai, termasuk toleransi berasal dari rumah.

Kedua, Cerita dan Kisah Inspiratif

Anak mudah menyerap nilai dari cerita, terutama yang mengandung keteladanan. Contoh kisah Rasulullah Saw dengan tetangganya yang Yahudi. Meski berbeda agama dan pernah mendapat gangguan, Nabi tetap menjenguk si tetangga saat sakit. Ini menunjukkan nilai kemanusiaan dan toleransi tanpa mencampuradukkan aqidah.

Kisah ini membentuk pemahaman bahwa kebaikan bisa ditunjukkan kepada siapa pun, tanpa kehilangan identitas keimanan.

Tiga, Aktivitas Sosial Bersama

Iklan Landscape UM SURABAYA

Melibatkan anak dalam kegiatan kemanusiaan yang bersifat universal seperti: donasi bencana, membersihkan lingkungan, kegiatan sosial lintas agama, dan lain sebagainya.

Hal ini menumbuhkan rasa empati, memperkuat ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan), sebagaimana nilai Islam mengajarkan rahmat untuk seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).

Namun perlu ditekankan bahwa tujuan utama kegiatan itu adalah nilai kemanusiaan, bukan bagian dari ritual keagamaan lain.

Empat, Dialog Terbuka dan Terbimbing

Anak-anak pasti akan bertanya: “Mengapa teman saya merayakan Natal?”, “Bolehkah saya ikut ke gereja?”, dan semacamnya.

Jangan langsung melarang tanpa memberi penjelasan. Beri ruang bertanya, namun jawaban harus dibimbing, jelaskan bahwa Islam menghormati umat lain, tapi melarang umatnya mengikuti ritual agama lain.

Ini sejalan dengan prinsip dalam al-Quran surat Al-Kafirun ayat 6:

Lakum dinukum waliyadin

Artinya: Untukmu agamamu, untukku agamaku.

Lima, Menanamkan Batas dan Etika

Toleransi bukan berarti menyetujui atau mengikuti keyakinan lain, tapi menghargai pilihan orang lain tanpa harus terlibat di dalamnya.

Ajarkan anak untuk tidak ikut-ikutan perayaan ibadah agama lain, tidak mengenakan atribut keagamaan yang bukan milik Islam, namun tetap bersikap sopan dan menghormati orang yang merayakan.

Ini penting agar anak tidak mengalami kebingungan terhadap identitas agamanya saat dewasa.

Jadi inti dari lima poin di atas adalah Toleransi dalam Islam bukanlah kompromi aqidah, melainkan akhlak mulia dalam hidup berdampingan. Pendidikan toleransi untuk anak harus berimbang antara cinta kasih terhadap sesama manusia dan keteguhan iman terhadap Allah. Dengan pendekatan yang benar, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang toleran, cerdas secara sosial, dan kokoh dalam keimanan.

Mengajarkan toleransi kepada anak bukanlah proses yang mudah, terutama dalam era digital yang penuh informasi bebas dan kadang membingungkan.

Namun, dengan landasan aqidah yang kuat dan pendidikan yang penuh cinta serta bimbingan, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dalam keislamannya, sekaligus terbuka terhadap realitas sosial di sekitarnya.

Sebagaimana Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, maka generasi Muslim harus dibentuk untuk menjadi rahmat bagi lingkungannya: tegas dalam tauhid, lembut dalam akhlak, dan bijak dalam menghadapi keberagaman. (*)

Editor Ni’matul Faizah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu