Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Langkah Anggita di Anatolia: Ketika Mimpi Mahasiswi UMY Menjadi Diplomasi Akademik

Iklan Landscape Smamda
Langkah Anggita di Anatolia: Ketika Mimpi Mahasiswi UMY Menjadi Diplomasi Akademik
Anggita Puji Setyarini di Turki. Foto: Dok/Pri
pwmu.co -

Di sebuah kota tenang di jantung Anatolia, seorang mahasiswi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bernama Anggita Puji Setyarini sedang menjadikan mimpi akademiknya sebagai jembatan diplomasi antarkampus.

Bukan sekadar menjalani program pertukaran pelajar, Anggita hadir sebagai wajah muda internasionalisasi UMY—membawa rasa ingin tahu, keberanian, dan tekad untuk melihat dunia dari ruang-ruang kuliah Kırıkkale University. Di sanalah, jauh dari Yogyakarta, kisah petualangan akademik dan kulturalnya mulai menemukan bentuknya.

Mahasiswi International Undergraduate Program of Management and Business (IMaBs) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMY angkatan 2022 itu, kini tengah menapaki babak baru kehidupannya sebagai salah satu dari tiga mahasiswa UMY penerima beasiswa fully funded TIES (Turkish International Exchange Student) di Kırıkkale University, Turki.

Sejak awal program pertukaran ini bergulir pada September 2025 yang lalu, Anggita telah menjadi representasi UMY dalam kancah akademik global.

Pemilihan Kırıkkale University, yang berlokasi di jantung Anatolia, ternyata bukan kebetulan. Anggita menjelaskan bahwa pilihannya didasari oleh riset mendalam.

“Alasan utama saya memilih Kırıkkale University karena dilatarbelakangi riset awal tentang ekosistem pembelajaran di sini yang mendukung mahasiswa luar secara supportif, baik dari kurikulum maupun lingkungan sesama mahasiswa internasional,” ungkapnya, Ahad (16/11/2025).

Selain dukungan akademik yang kuat, status Kırıkkale University sebagai salah satu mitra kampus UMY juga memudahkan proses studi yang optimal bagi mahasiswa exchange.

Anggita berhasil lolos sebagai perwakilan tunggal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMY setelah melalui seleksi ketat di tingkat prodi dan fakultas, sebelum akhirnya mendaftar melalui laman resmi beasiswa Turki Burslari.

 Menggali Relasi

Sebelum keberangkatan, Anggita memendam harapan besar, yakni perluasan perspektif akademik di dunia manajemen dan ekonomi, serta pembangunan relasi dengan diaspora Indonesia di sana. Harapan ini terwujud, salah satunya dalam pengalaman kultural yang hangat.

Ia mengenang momen perkenalan dengan salah satu dosennya yang berlanjut menjadi diskusi hangat tentang budaya Turki sambil menikmati makan siang bersama. Momen ini menjadi bukti apresiasinya terhadap keramahan masyarakat Turki.

Di ranah akademik, sistem perkuliahan di Kırıkkale University menghadirkan tantangan sekaligus energi baru.

Kurikulum ECTS (European Credit Transfer and Accumulation System) yang digunakan negara-negara Eropa menuntut kedisiplinan dan interaksi kelas yang tinggi, memicu semangat Anggita untuk belajar lebih dalam.

Mata kuliah English Economic menjadi yang paling berkesan. Diampu oleh Bayram Hocam, mata kuliah ini menyajikan materi ekonomi dengan substitle English yang dijelaskan dalam bahasa Turki dan Inggris.

“Rasanya seperti mempelajari kembali ekonomi dengan perspektif berbeda, didukung teman-teman kelas yang ramah dan supportif,” ceritanya.

Kendala Bahasa

Namun, tantangan terbesar yang dihadapi Anggita adalah kendala bahasa. “Dengan jiwa nasionalis yang tinggi, sangat sulit menemukan masyarakat Turki yang bisa berbahasa Inggris,” ujarnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Hal ini mendorongnya untuk secara aktif meningkatkan kemampuan bahasa Turki sehari-hari.

Secara non-akademik, Anggita menemukan adaptasi lingkungan sebagai tantangan utama. Berbeda dengan masyarakat Indonesia yang terbuka, ia sempat menduga orang Turki “jutek”. Ternyata, dugaan itu keliru.

“Mereka memang tidak seramah masyarakat Indonesia, tetapi ketika sudah kenal sangat baik dan ramah,” jelasnya.

Salah satu tradisi yang paling berkesan adalah kebiasaan menyajikan cay (teh) sebagai welcoming drink.

Selain itu, ia mengagumi tingginya jiwa nasionalisme dan ekspresi dalam bersosialisasi yang dimiliki masyarakat Turki.

Pengalaman ini mengajarkan Anggita pentingnya memilih lingkungan pergaulan yang tepat dan bijak selama menjalani exchange.

Setelah sebulan menjalani program ini, Anggita mengakui bahwa cara pandangnya terhadap pendidikan dan masa depan telah berubah total.

Pengalaman belajar di lingkungan baru, bertemu orang dari beragam latar belakang, dan melihat langsung sistem pendidikan negara lain, telah memperkuat tekadnya untuk melanjutkan studi S2 bahkan S3 di luar negeri.

“Ternyata belajar di negara lain tidak hanya seru, tetapi juga membuka banyak peluang, baik dalam hal pengetahuan, jaringan, maupun pengembangan diri,” tegasnya.

Ia juga meyakini bahwa bekal dari UMY, khususnya pengalaman berorganisasi di BEM dan kegiatan non-organisasi, sangat membantunya dalam beradaptasi dan membangun relasi di Turki.

Kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama yang terasah menjadi modal penting untuk berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara.

Jika diringkas dalam tiga kata, pengalamannya di Kırıkkale University adalah Dreaming, Improving, dan Inspiring. Anggita berharap UMY terus memperluas jaringan kemitraan internasionalnya.

“Program exchange ini jelas membantu memperkuat branding UMY di kancah internasional. Dengan mengirim mahasiswa ke luar negeri dan menerima mahasiswa dari berbagai negara, UMY menunjukkan kualitas pendidikan dan kemampuan mahasiswanya dalam bersaing di level global,” katanya.

Bagi mahasiswa UMY yang masih ragu, Anggita menyampaikan pesan motivasi yang kuat. “Jangan biarkan keraguan menahan mimpi kalian. Jangan takut bermimpi besar dan ambil risiko, karena pengalaman ini bisa membuka banyak pintu yang tidak kalian sangka sebelumnya,” tutupnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu