Upaya memperkuat kemandirian petani terus digencarkan melalui konsolidasi organisasi. Hal ini tercermin dalam kegiatan Rembug Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Konsolidasi Organisasi yang digelar pada Selasa (17/3/2026) di Hotel Royal Jember, mulai pukul 15.00 WIB hingga 17.45 WIB.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah tokoh penting, di antaranya Prof. Dr. Bayu Taruna, M.Sc sebagai ahli teknologi pertanian masa depan serta Abdus Salam, S.Sos., M.Si selaku Sekretaris Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PWM Jawa Timur.
Turut hadir Ketua MPM PDM Jember Edy Wicaksono, S.P, Ketua JATAM Jember Dr. Syamsul Hadi, M.P, serta Sekretaris JATAM Jember MD. Moh. Nor Hag, S.P.
Peserta yang hadir meliputi jajaran pengurus daerah JATAM Jember, Ketua, Sekretaris, dan Bendahara (KSB) cabang JATAM se-Kabupaten Jember, perwakilan PDM Jember, serta organisasi otonom Muhammadiyah tingkat daerah.
Dalam forum tersebut, konsolidasi organisasi menjadi fokus utama, terutama setelah terbentuknya 15 cabang JATAM di 15 kecamatan se-Kabupaten Jember.
Pembentukan ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat gerakan JATAM di tingkat akar rumput. Langkah awal yang akan dilakukan adalah menginventarisasi potensi pertanian di masing-masing cabang.
Selain itu, pembahasan juga menyoroti pentingnya penerapan teknologi digital dalam sektor pertanian atau smart farming.
Prof. Bayu Taruna menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi seperti Internet of Things (IoT), sensor, drone, dan aplikasi digital mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi.
Teknologi ini memungkinkan monitoring lahan secara real-time, pemupukan dan irigasi yang lebih presisi, hingga prediksi cuaca yang lebih akurat.
Bahkan, penerapan sistem digital dinilai mampu memperpendek rantai pasok, sehingga berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan petani.
Sementara itu, Abdus Salam menegaskan bahwa MPM dan JATAM harus menjadi poros gerakan kemandirian petani.
Ia menekankan bahwa organisasi tidak boleh hanya aktif dalam forum diskusi, tetapi juga harus terjun langsung ke lapangan.
Menurutnya, pemetaan persoalan petani menjadi hal yang sangat penting agar strategi intervensi yang dilakukan benar-benar tepat sasaran.
“MPM dan JATAM harus hadir di tengah petani, memahami persoalan mereka secara nyata, sehingga langkah yang diambil tidak sekadar wacana, tetapi benar-benar berdampak,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan sinergi antara JATAM dan MPM semakin kuat dalam mendorong kedaulatan pangan, sekaligus menciptakan ekosistem pertanian yang mandiri, modern, dan berkelanjutan di Kabupaten Jember.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments