Di tengah gemerlap Lebaran di Indonesia, salah satu dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru merayakan Idulfitri dalam suasana sunyi, tanpa libur panjang, tanpa mudik, dan tanpa keramaian khas kampung halaman. Dari kesederhanaan itu, lahir pengalaman bermakna tentang menjadi Muslim minoritas di negeri multikultural.
Hasnan Bachtiar, MIMWAdv, dosen Hukum Keluarga Islam (HKI) UMM, saat ini tengah menempuh studi doktoral di Australia melalui beasiswa Deakin University Postgraduate Research Scholarship (DUPRS). Ia tinggal di Glen Waverley, wilayah Monash, Melbourne, bersama keluarganya.
Tahun ini, Idulfitri di Australia jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, bertepatan dengan penetapan 1 Syawal oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Berbeda dengan Indonesia, hari raya tersebut bukan hari libur nasional. Aktivitas masyarakat berjalan normal, termasuk kegiatan sekolah anak-anak.
“Di Australia, Idulfitri bukan hari libur seperti di tanah air. Karenanya aktivitas sehari-hari tetap berjalan, termasuk sekolah anak-anak. Untuk mengikuti shalat Id, kami harus menempuh perjalanan cukup jauh dengan transportasi umum. Meski tidak semudah di Indonesia, situasi ini justru membuat kami lebih menghayati menjadi bagian dari minoritas,” ujar Hasnan, 27 Maret lalu pada Tim Humas UMM.
Meski jauh dari kampung halaman, Hasnan dan keluarga tetap menjaga tradisi silaturahmi. Mereka menerima tamu dari sesama diaspora Indonesia, termasuk para aktivis Muhammadiyah yang berada di Melbourne. Komunikasi dengan keluarga di Indonesia juga terus terjalin melalui panggilan video bersama orang tua, kerabat, dan sahabat.
Usai shalat Id, mereka berkumpul dengan komunitas Muslim dari berbagai negara untuk berbagi cerita dan hidangan sederhana. Momen tersebut menjadi ruang interaksi lintas budaya sekaligus mempererat ukhuwah di tengah keterbatasan perayaan.
“Perbedaan paling mencolok terletak pada suasana sosio-kultural Idulfitri. Di Indonesia identik dengan mudik dan keramaian keluarga besar. Sementara di Australia lebih tenang karena Muslim merupakan minoritas. Tidak ada libur panjang, tetapi kami justru mendapat kesempatan bertemu Muslim dari berbagai negara. Itu pengalaman berharga yang memperkaya cara kami memaknai Idulfitri,” jelasnya.
Di tengah lingkungan multikultural, aktivitas keagamaan tetap berjalan dinamis. Hasnan aktif mengikuti pengajian dan diskusi isu global, baik di kampus maupun komunitas sosial. Anak-anaknya pun tetap mengikuti program Tahfiz Al-Qur’an Tematik (TQT) secara daring. Hal tersebut menunjukkan bahwa menjaga tradisi keislaman tetap bisa dilakukan secara konsisten meski berada di tengah masyarakat modern.
Pengalaman hidup sebagai Muslim minoritas juga memengaruhi perspektif akademiknya. Dalam penelitian doktoralnya, Hasnan mengkaji penggunaan hukum keagamaan informal dan emosi dalam mobilisasi politik oleh kelompok populis sayap kanan. Ia menyoroti bagaimana syariah dipadukan dengan emosi untuk kepentingan politik di Indonesia, khususnya sejak Pilgub DKI Jakarta 2017 hingga Pilpres 2019 dan 2024.
Bagi Hasnan, merayakan Idulfitri di Australia bukan sekadar perbedaan suasana, melainkan proses pembelajaran tentang makna kebersamaan. Dalam kesederhanaan dan keberagaman, Idulfitri justru menjadi momentum mempererat silaturahmi, memperkuat identitas keumatan, serta merefleksikan nilai-nilai kebersamaan dalam konteks global.





0 Tanggapan
Empty Comments