Kultum Ramadhan di salat jamaah Dzuhur siswa-siswi SMPM 12, Spemudas Paciran Lamongan dijadwalkan rutin tiap hari usai KBM, sebelum salat didahului tadarus di Mushala Baiturrahim atau mushala dalam komplek SMPM 12 Paciran, Sabtu (21/2/2026).
Kegiatan yang dikhususkan untuk siswa Sendang – Gayam non asrama kali ini, imam dan kultum dipimpin Kepala SMPM 12 Paciran, Aminuddin M.Pd, sedangkan muadzin Ilham dari Kampung Beji Sendangagung, siswa kelas VIII-E.
Usai dikumandangkannya adzan, seluruh anak non asrama atau yang biasa disebut santri kalong ini berdiri untuk melakukan salat qabliyah 2 rekaat, tanpa komando mereka tertib salat sunat sendiri-sendiri sebelum imam maju mempin salat fardhu.
Sebelum dimulai salat Dzuhur, tiba-tiba Wakil Kepala Sekolah Bidang Sapras, Drs Slamet Mulyadi maju ke depan untuk mengedukasi dadakan dan mengevaluasi kegiatan salat yang dianggap kurang khusyu’ dan terkesan tergesa-gesa.
Pria pensiunan PNS tahun ini lantas memberikan contoh gerakan sujud yang benar di hadapan siswa dan meminta siswa agar berdoa benar sehingga tidak terulang kembali kecerobohan dalam ibadah wajib dan dia mendambakan anak-anak menjalankan salat dengan khidmat dan khusyu’.
Sementara itu, Aminudin dalam kultumnya memaparkan pentingnya niat sebelum puasa, dan niat itu rukun puasa tang wajib dijalankan, menurutnya niat harus dilaksanakan sebelum fajar atau saat sahur, jika khawatir lupa bisa malamnya usai tarawih atau sebelum tidur.
“Niat artinya menyengaja, hal ini boleh di hati atau diucapkan di lisan, untuk niat puasa ramadhan harus dilaksanakan sebelum fajar atau saat malam, tidak sama dengan puasa sunat yang boleh diniatkan setelah fajar, bisa niat puasa sunat saat tidak ada sarapan misalnya,” jelas Aminuddin yang juga Anggota Dewan Pengurus Pesantren Ponpes Al-Ishlah ini.
Tiga Level Orang Berpuasa
Selanjutnya, pria alumnus KMI Gontor tahun 1994 ini juga membahas tingkatan orang yang menjalankan puasa, ada tiga macam level orang yang puasa berdasar tingkatan.
Tingkat pertama, orang puasa yang hanya bisa menahan mulut dan kemaluan, tidak makan dan dan mampu mampu menahan syahwat kelamin, ini tingkat terendah dalam dalam level orang yang puasa.
Level kedua, orang puasa yang tidak hanya menahan organ tubuh mulut dan kemaluan, tetapi juga bisa menahan seluruh indera yang dimiliki, tidak mau menggosip atau mendengarnya, tidak melihat gambar maksiat porno grafi, kaki dan tangannya terjaga untuk berbuat kebaikan.
Level ketiga, puasa orang yang bisa menjaga hati dan pikirannya untuk tidak terbersit melakukan tindakan dosa sekecil pun selama berpuasa, dan ini level tertinggi dalam ibadah puasa.
“Semoga kita bisa menjalankan ibadah puasa sebaik mungkin dan kita tergolong orang yang muttaqien atau orang yang bertakwa sesuai tujuan puasa yang ditetapkan Allah SWT, Aamiin,” ucap pria kelahiran 1974 ini mengakhiri kultumnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments