Pelaksanaan Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah yang digelar Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Jalen, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, berlangsung pada Jumat (20/3/2026) di lapangan SD Muhammadiyah 9 (SD Mulan) Jalen.
Bertindak sebagai imam salat Id, Ustaz Usman Rallibi, sementara khutbah disampaikan oleh Ustaz Mohammad Firman, M.Pd.I., Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sempu, Banyuwangi. Dalam khutbahnya, ia mengangkat tema Momentum Idulfitri dan Lima Pelajaran Berharga Puasa Ramadan.
Mengawali khutbah, Ustaz Firman menjelaskan makna Idulfitri dari sisi bahasa. Ia menyebut kata id memiliki arti kembali, menengok, mengoreksi, dan berulang, sedangkan fitri bermakna kesucian dan kembali kepada keadaan semula.
“Idulfitri menjadi momentum bagi umat Islam untuk melihat dan mengoreksi kembali perilaku serta amal selama Ramadan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa manusia pada dasarnya memiliki sifat hanif, yaitu cenderung kepada kebaikan dan kebenaran. Oleh karena itu, nilai kebaikan adalah sesuatu yang alami, sedangkan keburukan bertentangan dengan fitrah manusia.
Dalam penjelasannya, Ustaz Firman menyampaikan lima pelajaran penting yang dapat dipetik dari ibadah puasa Ramadan.
Pertama, mewujudkan ketakwaan sejati sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 tentang tujuan diwajibkannya puasa.
Kedua, fitrah beragama. Ia menjelaskan bahwa manusia sejak di alam ruh telah bersaksi atas keesaan Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-A’raf ayat 172. Namun, manusia kerap melupakan perjanjian tersebut setelah lahir ke dunia.
“Karena itu, Allah mengutus para nabi dan menurunkan kitab-kitab-Nya sebagai pengingat bagi manusia,” jelasnya.
Ketiga, fitrah sosial. Manusia tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan orang lain dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, puasa mengajarkan nilai-nilai kepedulian sosial agar tercipta kehidupan yang adil, sejahtera, dan penuh kebersamaan.
Keempat, fitrah bersusila. Manusia adalah makhluk yang memiliki etika dan moral. Puasa menjadi sarana untuk membentuk akhlak mulia serta menjaga diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak baik.
“Puasa menjadi perisai agar kita terhindar dari perilaku buruk dan kembali kepada akhlak yang luhur,” tuturnya.
Kelima, manusia sebagai makhluk yang bermartabat. Ia mengutip firman Allah bahwa manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya, namun bisa terjatuh pada derajat yang rendah jika tidak menjaga dirinya.
“Puasa menjadi salah satu cara untuk menahan hawa nafsu agar tidak menjerumuskan manusia ke dalam kemaksiatan,” ungkapnya.
Mengakhiri khutbah, Ustaz Firman mengajak jamaah untuk menjaga nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari.
“Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita dan menjadikan kita kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments