Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Lonjakan Harga Emas Tak Terbendung, Pakar Umsura Prediksi Tembus 6.000 Dolar

Iklan Landscape Smamda
Lonjakan Harga Emas Tak Terbendung, Pakar Umsura Prediksi Tembus 6.000 Dolar
Foto: goldbuyersafrica.com
pwmu.co -

Harga emas di pasar internasional maupun domestik terus merangkak naik hingga Januari 2026. Kenaikan ini dipengaruhi meningkatnya minat pelaku pasar yang menjadikan emas sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi serta memanasnya situasi geopolitik dunia.

Pakar ekonom Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) Arin Setyowati, MA menjelaskan bahwa emas kembali menjadi pilihan utama investor karena kondisi global yang penuh risiko.

Menurut dia, memanasnya konflik di sejumlah wilayah membuat investor memindahkan dana dari instrumen berisiko ke aset yang dinilai lebih stabil.

“Dalam situasi geopolitik yang tidak menentu, investor cenderung mencari aset pelindung nilai. Meningkatnya ketidakpastian global menjadikan emas kembali dipandang sebagai safe haven,” jelasnya.

Selain faktor geopolitik, kata dia, berbagai ancaman risiko terhadap perekonomian dunia ikut memperkuat posisi emas sebagai aset perlindungan.

“Sentimen pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi faktor penting yang mendorong kenaikan harga emas,” katanya.

Pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan menurunkan suku bunga pada 2026. Jika hal itu terjadi, emas menjadi lebih menarik karena biaya peluang memegang emas menurun dibandingkan obligasi yang imbal hasilnya ikut turun.

Arin juga menyoroti pelemahan dolar AS dalam beberapa pekan terakhir sebagai salah satu pendorong naiknya harga emas.

“Karena emas diperdagangkan dalam mata uang dolar, pelemahan dolar membuat logam mulia tersebut relatif lebih terjangkau bagi investor global,” papar dia.

Arin menjelaskan, ketika nilai dolar melemah, harga emas biasanya terdorong naik karena daya beli investor luar negeri meningkat.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Di sisi lain, arus dana ke instrumen berbasis emas seperti exchange traded fund (ETF) serta pembelian emas fisik tercatat meningkat signifikan.

“Lonjakan permintaan ini semakin memperkuat tekanan kenaikan harga di pasar global,” cetusnya.

Peningkatan investasi pada ETF emas dan pembelian fisik menunjukkan permintaan yang kuat, yang pada akhirnya ikut mengangkat harga emas.

Arin mengungkapkan, permintaan emas dunia telah mencatat level tertinggi sejak 2025. Kenaikan ini terutama didorong oleh kebutuhan investasi, bukan sektor perhiasan, seiring harga emas yang semakin mahal.

Secara teknikal, imbuh dia, penguatan harga emas saat ini merupakan kelanjutan tren reli panjang yang sudah berlangsung sepanjang 2025 dan terus berlanjut hingga awal 2026. Tren kenaikan tersebut dinilai semakin solid.

Untuk prospek ke depan, sejumlah analis dan lembaga perbankan besar memprediksi harga emas masih berpotensi mengalami penguatan sepanjang 2026.

“Jika tren berlanjut, harga emas diperkirakan dapat menyentuh kisaran 5.500 hingga 6.000 dolar AS per ons,” katanya.

Meski begitu, Arin mengingatkan tetap ada kemungkinan risiko jika kondisi global berubah lebih stabil. Namun selama ketidakpastian ekonomi dan geopolitik masih tinggi, emas diperkirakan tetap menjadi pilihan utama investor sebagai instrumen perlindungan nilai aset. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu