
PWMU.CO – Hari Raya Idul Fitri adalah momen yang sangat dinantikan oleh seluruh umat islam diseluruh dunia. Hari raya ini menandakan berakhirnya puasa selama satu bulan penuh di bulan suci Ramadhan. Maka tidak heran, jika itu dirayakan umat islam di seluruh dunia dengan berbagai tradisi unik yang mencerminkan budaya di masing-masing Negara.
Setiap Negara memiliki cara tersendiri dalam menyambut dan merayakan lebaran, meskipun dengan perayaan yang berbeda namun memiliki esensi yang sama, yaitu momentum untuk kembali ke fitrah (kesucian hati dan kebersihan jiwa).
Sebagaimana di Negara Islam lainnya, di Libya, terdapat tradisi lebaran yang cukup Jaya9 unik dan menarik. Hal ini diungkapkan oleh salah satu mahasiswa asal Indonesia yang tengah menempuh studi S2 Jurusan Dakwah dan Peradaban di Kulliya Da’wah al-Islamiyah di Tripoli, Libya. Ia adalah Zulfikar Audia Pratama. Zulfikar, begitu sapaannya menceritakan mengenai suasana lebaran Idul Fitri 1446 H di Libya.
Suasana lebaran baru terasa ketika Darul Ifta’ Libya mulai mengumumkan awal bulan Syawwal yang jatuh pada hari Senin (31/3). Bersamaan dengan Indonesia, dan berbagai Negara di Afrika Utara seperti Aljazair, Maroko, Tunis, dan juga Mesir.
Tidak ada Takbiran pada Malam Hari

Berbeda dengan di Indonesia, di Libya tidak akan menemukan masjid yang mengumandangkan takbir pada malam hari. Adapun jika ada, mungkin hanya sebagian kecil seperti di masjid kampus Kulliyah Da’wah al-Islamiyah yang memang diisi oleh mahasiswa dari berbagai Negara.
Hal ini disebabkan karena mayoritas umat Islam di Libya adalah penganut madzhab Maliki yang tidak ada anjuran untuk mengumandangkan takbir pada malam hari, melainkan memulainya ketika semenjak hendak berangkat menuju sholat Eid di pagi hari.
Berbagi Rezeki dan Makanan
Seperti halnya di Indonesia, lebaran dijadikan momentum untuk berkumpul bersama keluarga besar, berbagi angpau raya dan undangan untuk menyantap hidangan makanan.
Di Libya pun demikian, masyarakat Libya berbondong-bondong mengunjungi keluarga besar mereka untuk bersilaturahmi dan menyantap berbagai jenis hidangan makanan khas daerah mereka, seperti kuskusi, bazin, basisa, toljin dan lain sebagainya
Mahasiswa Indonesia pun tak mau kalah, setelah sholat eid kami berkumpul, bersilaturahmi, kemudian menyantap opor lebaran yang sudah disediakan oleh Kesatuan Keluarga Mahasiswa Indonesia (KKMI) di Libya. Tak hanya itu, KBRI Tripoli juga turut mengundang seluruh WNI yang ada di Libya untuk silaturahmi dan doa bersama di wisma KBRI Tripoli Janzur pada Rabu (2/4).
Perayaan Idul Fitri

Seperti halnya di Negara lain, seorang muslim dianjurkan mempersiapkan hari raya dengan menggunakan pakaian terbaik. Di Libya, farmala merupakan salah satu pakaian tradisional yang biasa digunakan di berbagai acara resmi seperti Idul Fitri.
Farmala merupakan pakaian semacam jas dan rompi yang di sulam dengan hiasan dibagian depan dan samping, biasanya dipadukan dengan kemeja longgar selutut dan celana berwarna yang membuatnya terlihat mewah dan elegan.
Banyak ditemukan masyarakat Libya yang memadati toko, mall, dan pasar untuk berbelanja dan berburu diskon menjelang Idul Fitri.
Di Libya, Idul Fitri seringkali disambut dengan perayaan besar-besaran oleh masyarakat disana. Biasanya mereka mengadakan pasar kaget, menyalakan petasan dan festival olahraga seperti pacuan kuda yang menjadi olahraga favorit saat lebaran
Tak hanya itu, di beberapa hari menjelang lebaran juga diadakan pembagian hadiah lomba hafalan al Quran yang diadakan di hari-hari Sebelumnya. (*)
Penulis Zulfikar Audia Pratama Editor Amanat Solikah





0 Tanggapan
Empty Comments