
PWMU.CO – Menembus batas bahasa dan budaya, Maryam El Banna, LLB (Bachelor of Law), menjadi bukti nyata kegigihan mahasiswa asing dalam mengejar ilmu di Indonesia. Perempuan asal Mesir ini resmi tercatat sebagai mahasiswa Magister Hukum Ekonomi Syariah (MHES) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Maryam berhasil lolos seleksi pada pendaftaran kedua di tahun 2024.
Prestasi ini menjadikannya sebagai mahasiswa kelima asal Mesir yang kuliah di UMS dalam tiga tahun terakhir. Dan bagi UMS ini menjadi capaian yang patut mendapatkan apresiasi. Mengingat sebelumnya kuota mahasiswa Mesir di kampus ini dominan lulusan dari Universitas Al Azhar.
“Perjuangan Maryam tidak mudah, tetapi tekadnya tak pernah surut,” ungkap Dr Imron Rosyadi, salah satu dosen pembimbingnya. Meski masih menghadapi kendala bahasa, baik dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia maupun Bahasa Arab Ammiyah — yang merupakan dialek sehari-hari Mesir dan kerap masyarakat Indonesia kesulitan memahaminya, — semangat belajarnya tak pernah pudar.
Maryam memilki pribadi yang ulet dan mencintai Indonesia. Ketertarikannya pada Hukum Ekonomi Syariah selain karena latar belakang pendidikannya di bidang hukum, juga keinginannya untuk mendalami sistem ekonomi yang selaras dengan prinsip syariah di negara dengan populasi muslim terbesar di dunia ini.
Dukungan Pendahulu dan Internasionalisasi FAI UMS
Keberhasilan Maryam tidak lepas dari kontribusi para pendahulunya di Program MHES. Juga Fakultas Agama Islam (FAI) UMS yang telah membangun fondasi kuat bagi internasionalisasi kampus. Upaya mereka dalam membuka pintu bagi mahasiswa asing, menyediakan kurikulum yang kompetitif, serta memberikan pendampingan intensif. Upaya ini telah menempatkan UMS sebagai salah satu destinasi pendidikan tinggi yang diminati di kawasan dunia muslim.
“Kami bangga dengan dedikasi Maryam dan mahasiswa internasional lainnya. Mereka adalah bukti bahwa UMS siap bersaing di tingkat global,” tegas Dr Syamsul Hidayat, MAg, Dekan FAI UMS.
Dengan semangat never give up, Maryam El Banna tidak hanya mengejar gelar akademis, tetapi juga menjadi jembatan budaya antara Indonesia dan Mesir. Kisahnya menginspirasi banyak mahasiswa asing untuk terus berjuang meraih mimpi, meski harus melewati tantangan bahasa dan adaptasi budaya.
Ke depannya, UMS berkomitmen untuk terus memperkuat jejaring internasionalnya, membuka lebih banyak kesempatan bagi calon-calon Maryam berikutnya yang haus akan ilmu dan persaudaraan lintas bangsa.
Penulis Dwi Taufan Hidayat, Editor Notonegoro





0 Tanggapan
Empty Comments