
PWMU.CO – SD Muhammadiyah 7 Surabaya (SDM Inovatif Jagir) kedatangan tamu spesial dari Palestina, Jumat (25/7/2025). Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), Sondos Jehad Shnewra, hadir dalam kegiatan perdana Kelas Diaspora yang diselenggarakan SD Muhammadiyah 26 (M26) bekerja sama dengan Lembaga Kebudayaan Islam (LKI) UM Surabaya.
Sondos berbagi cerita tentang kampung halamannya, Palestina, yang terletak di antara Yordania dan Mesir. “Saya lahir dan besar di Palestina,” tuturnya dalam pengantar.
Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya cukup mahir berbahasa Indonesia karena bahasa itu digunakan dalam perkuliahan di kampusnya. Dengan bahasa yang cukup fasih, Sondos mengajak siswa mengenal berbagai sisi Palestina, mulai dari makanan, pakaian, hingga nama-nama kota.
“Orang Palestina kalau sarapan biasanya makan roti. Berbeda dengan di Indonesia yang mayoritas makan nasi untuk sarapan,” jelasnya.
Sondos menyebut salah satu makanan favoritnya adalah Maqluba. “Secara tampilan mirip nasi kebuli kalau di Indonesia, hanya saja lauknya biasanya daging dan diberi taburan cabai di atasnya,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa ibu kota Palestina adalah Al-Quds atau Jerussalem. Selain itu, ada beberapa kota lain yang terkenal seperti Ghazza, Haifa, Yaafa, Baisan, dan Jenin.
Soal pakaian, menurut Sondos, masyarakat Palestina cukup selektif dalam memilih. “Mereka mengenakan pakaian panjang dan hijab bagi perempuan untuk menutupi rambut,” ungkapnya.
Ia juga memperkenalkan tarian khas Palestina, Dabke, yang biasa ditampilkan saat pernikahan dan acara-acara kebahagiaan lainnya. “Tarian ini memadukan gerakan berputar dan sejajar,” jelasnya.
Sondos melanjutkan dengan menyebut sejumlah buah yang tumbuh subur di Palestina, antara lain zaitun, anggur, kurma, jambu biji, buah tin, aprikot, jeruk, dan delima.
Dalam sesi interaktif, para siswa antusias mengajukan pertanyaan. Mereka menanyakan banyak hal, mulai dari berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari bahasa Indonesia, makanan favorit Indonesia yang pernah dicoba, hingga kondisi terkini di Palestina.
Beberapa siswa yang bertanya antara lain Jesen Mandala Putra Bala, Ibna Aisyah Fadlurrahman, Quinzha Shinji Azalea, dan Kayla Marisa Almahira.
“Semua pertanyaan dijawab dengan baik dan memuaskan, cukup mewakili rasa penasaran puluhan anak lainnya,” kata Zulis Purwanti SPd, salah satu guru pendamping.
Salah satu siswa, Jesen dari kelas IV Ibnu Haytam, mengaku senang bisa berinteraksi langsung dengan mahasiswa asing. “Rasanya senang sekali bisa bertanya langsung ke Miss Sondos yang berasal dari Palestina. Semoga bisa bertemu mahasiswa asing lagi tahun depan,” ucapnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments