Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) meraih prestasi dalam ajang tahfizh internasional. Irji’ Ulchaq, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) semester 4 Fakultas Agama Islam Umsida asal Pasuruan, berhasil meraih juara 1 kategori 30 juz pada Final Round of the International Hifz Qur’an Competition among Students yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Riau (Umri), Kamis (12/03/2026) di Pekanbaru.
Berdasarkan laporan resmi dewan juri, Irji’ Ulchaq dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo memperoleh nilai tertinggi, yaitu 97,5. Ia mengungguli peserta dari berbagai perguruan tinggi, baik dari Indonesia maupun luar negeri. Di bawahnya terdapat peserta dari International Islamic University Malaysia dengan nilai 97, disusul perwakilan Universitas Muhammadiyah Riau yang meraih nilai 96,5.
Prestasi tersebut menjadi capaian bagi mahasiswa serta membawa nama baik Umsida, khususnya Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Agama Islam. Capaian tersebut juga menunjukkan partisipasi mahasiswa dalam kompetisi Al-Qur’an di tingkat internasional.
Irji’ mengaku terkejut ketika namanya diumumkan sebagai juara pertama. Ia menyampaikan bahwa kompetisi tersebut merupakan pengalaman pertamanya mengikuti lomba kategori 30 juz.
“Jujur agak kaget karena ini pertama kalinya ikut lomba kategori 30 juz dan langsung juara 1,” ungkapnya.
Kategori 30 juz dalam kompetisi tahfizh menuntut peserta memiliki ketepatan hafalan serta kesiapan mental selama proses perlombaan. Para peserta diuji melalui pembacaan ayat secara acak serta kemampuan menjaga konsistensi hafalan Al-Qur’an.
Irji’ menjelaskan bahwa proses menghafal Al-Qur’an telah dimulai sejak usia dini. Ia mulai menghafal sekitar usia tujuh tahun dengan metode mendengar dan menirukan bacaan, kemudian secara bertahap menambah hafalan hingga menuntaskan 30 juz pada usia 14 tahun.
“Saya mulai menghafal dari usia 7 tahunan dengan mendengar dan menirukan, dan kemudian menyetorkan hafalan sekaligus tuntas 30 juz di usia 14 tahun,” tuturnya.
Menjelang perlombaan, ia menyampaikan tidak melakukan persiapan khusus di luar rutinitas yang selama ini dijalani. Ia tetap menjalankan kebiasaan murajaah sebagaimana biasanya.
“Sebenarnya tidak ada effort khusus sebelum persiapan lomba, hanya meneruskan konsistensi yang sudah saya bangun sebelum ada info lomba,” katanya.
Dalam proses mengikuti kompetisi tersebut, Irji’ juga memperoleh pendampingan dari tim Direktorat Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (DAIK) Umsida. Pendampingan tersebut menjadi bagian dari dukungan kampus terhadap mahasiswa yang mengikuti ajang kompetisi.
Selama masa persiapan dan pelaksanaan lomba, Irji’ juga menghadapi tantangan dalam membagi waktu antara kegiatan akademik, organisasi, serta aktivitas keagamaan, terlebih karena perlombaan berlangsung pada bulan Ramadan.
“Tantangan terbesar bagi saya adalah membagi waktu antara muraja’ah, organisasi dan mengerjakan tugas. Ditambah, di bulan Ramadhan juga banyak kegiatan membantu masjid, imam Tarawih dan kultum,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa doa dan dukungan dari berbagai pihak menjadi bagian penting dalam perjalanan yang dijalaninya.
“Dari segi usaha, jujur tidak ada apa-apanya. Tapi saya terus menerus meminta doa dari orang tua, dosen dan teman-teman. Juga selalu menjaga keistiqomahan ibadah selama bulan Ramadhan serta sebisa mungkin menghindari hal-hal yang melenakan,” ujarnya.
Irji’ menambahkan bahwa kompetisi yang berlangsung pada bulan Ramadan memberikan pengalaman tersendiri baginya.
“Saya rasa kompetisi yang diadakan di bulan Ramadhan adalah ajang untuk merasakan nikmatnya ibadah. Yang mana ketika di bulan Ramadhan, saya terus menerus berdoa kepada Allah untuk kesuksesan saya dan lomba ini, setelah mendapatkan juara ini, saya merasakan rasa syukur yang begitu besar,” katanya.
Setelah mengikuti kompetisi tersebut, ia menyampaikan bahwa pengalaman ini menjadi bahan evaluasi sekaligus motivasi untuk mengikuti perlombaan tahfizh pada kesempatan berikutnya.
“Lomba ini bisa sebagai sarana evaluasi dari kekurangan yang saya dapatkan sebelum dan sesudah lomba, dan juga sebagai penumbuh rasa percaya diri untuk ikut di lomba-lomba tahfizh selanjutnya,” ungkapnya.
Kepada generasi muda, ia juga menyampaikan pesan untuk terus mendekatkan diri dengan Al-Qur’an.
“Teruslah dekat dengan Al-Qur’an, karena semua hal yang berdekatan dengan Al-Qur’an pasti mulia.”






0 Tanggapan
Empty Comments