Universiti Sains Malaysia (USM) melalui Pusat Pengajian Komunikasi (PPK) melaksanakan program mobilitas mahasiswa bertajuk Memperkasa Pelajar B40 melalui Penceritaan Digital tentang Ketahanan Iklim dan Budaya di Desa Brajan, Yogyakarta.
Program ini berlangsung pada 28 September–3 Oktober 2025 dan melibatkan kolaborasi dengan International Program for Communication Studies (IPCOS) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Nik Norma Nik Hasan, dosen USM yang menekankan pentingnya program lintas negara untuk memperluas wawasan mahasiswa, khususnya dari kalangan B40.
“Kami ingin mahasiswa terus belajar dari masyarakat akar rumput, bagaimana mereka beradaptasi terhadap perubahan iklim dan menjaga kearifan budaya. Penceritaan digital menjadi medium untuk mengangkat suara komunitas tersebut,” ujar dia.
Mahasiswa kemudian diajak melakukan observasi dan pembelajaran lapangan di Gerakan Shadaqah Sampah yang berlokasi di Brajan, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.
Mereka berinteraksi dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, serta para relawan. Aktivitas ini bertujuan untuk memahami situasi sosial sekaligus merancang materi penceritaan digital.
“Kami percaya pengalaman langsung di lapangan adalah kelas terbaik bagi mahasiswa untuk belajar dari warga akar rumput,” lanjutnya.
Puncak kegiatan berlangsung pada Rabu (1/10) dengan sesi berbagi cerita dan refleksi. Mahasiswa menayangkan karya digital mereka di hadapan warga Brajan dan menerima masukan langsung.
Aktivitas ini diharapkan menghasilkan materi video tentang budaya, iklim, dan keberlanjutan yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan ajar maupun publikasi bersama.
Menutup rangkaian kegiatan, diadakan diskusi dengan dekan dan pimpinan FISIPOL UMY. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan awal tentang strategi kolaborasi riset dan mobilitas mahasiswa.
“Kerja sama ini bukan hanya untuk sekali program, tetapi harus berkelanjutan. Kita ingin membuka lebih banyak peluang riset bersama dan pertukaran mahasiswa di masa depan,” tegas Nik Norma.
Program ini mendapat dukungan dari USM dan Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia. Selain memperkuat kompetensi mahasiswa USM, kegiatan ini juga memberi kontribusi nyata dalam membangun kesadaran iklim dan pelestarian budaya melalui pendekatan komunikasi digital.
Lebih jauh lagi, program ini menjadi tonggak baru hubungan akademik Malaysia–Indonesia dengan mahasiswa sebagai agen penghubung yang menyuarakan pengalaman masyarakat lokal ke tingkat global. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments