
PWMU.CO – Guna menjawab kurangnya kader yang fasih dalam menyampaikan pemikiran keagamaan ala Muhammadiyah, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung menyelenggarakan program Sekolah Tarjih. Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap Ahad ketiga ini bertujuan untuk membekali peserta dengan ilmu dan pemahaman tentang cara Muhammadiyah dalam memahami ajaran Islam secara benar dan aplikatif.
Majelis Tarjih bekerja sama dengan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Tulungagung berupaya merekrut kader-kader muda yang memiliki semangat juang tinggi. Upaya ini diawali dengan sosialisasi serta meyakinkan para pimpinan Muhammadiyah dan Aisyiyah agar bersedia mengirimkan kadernya untuk mengikuti Sekolah Tarjih sebagai bagian dari ikhtiar pengkaderan yang terencana, dengan tujuan dan target yang terukur.
Program Sekolah Tarjih yang dimulai pada Minggu (18/5/2025) ini mendapat sambutan antusias dari para pimpinan Muhammadiyah. Bertempat di Masjid Ahmad Dahlan, Jepun, Tulungagung, program ini diikuti dengan semangat oleh para peserta yang merupakan kader-kader muda. Mereka antusias menyimak setiap materi yang disampaikan.
Sebanyak lima puluh peserta berasal dari utusan Pimpinan Cabang se-Kabupaten Tulungagung, organisasi otonom (ortom), perguruan tinggi, IMM, PDPM, dan Nasyiatul Aisyiyah. Para pengirim peserta diwajibkan memastikan bahwa kader yang dikirim mengikuti program secara konsisten, tidak hanya dengan dukungan motivasi, tetapi juga melalui pemenuhan kebutuhan akomodasi dan transportasi.
Agar terarah dan fokus, maka Lazismu Tulungagung mensupport dengan memberi semua peserta, alat tulis dan buku Manhaj Tarjih Muhammadiyah yang diterbitkan oleh PP Muhammadiyah.
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid sekaligus pengasuh program Sekolah Tarjih, Ustadz Aji Damanuri sangat berharap lahirnya kader-kader Muhammadiyah di Tulungagung yang mampu menyebarkan paham keislaman Muhammadiyah demi kelangsungan dakwah berkemajuan di bumi Marmer tersebut.
Dalam kegiatan ini, secara khusus Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah Tulungagung menyampaikan sejumlah pemikiran saat mensosialisasikan program Sekolah Tarjih kepada warga Muhammadiyah Tulungagung. Pemahaman terhadap Manhaj Tarjih Muhammadiyah dinilai sangat penting bagi para kader. Manhaj Tarjih bukan sekadar teori, melainkan menjadi alat untuk menjaga kemurnian ajaran sekaligus mendorong dinamika gerakan Muhammadiyah.
Tanpa pemahaman yang memadai, kader Muhammadiyah rentan kehilangan arah atau terjebak dalam pemikiran yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip Muhammadiyah. Muhammadiyah bukan sekadar organisasi, tetapi merupakan gerakan yang berbasis ilmu dan metodologi yang jelas. Oleh karena itu, setiap kader perlu memahami Manhaj Tarjih Muhammadiyah dengan beberapa alasan berikut:
Pertama, Manhaj Tarjih adalah metodologi yang digunakan Muhammadiyah dalam menggali hukum Islam (istinbath) berdasarkan al-Quran, Sunnah, dan ijtihad yang relevan dengan konteks zaman.
Dengan memahami Manhaj Tarjih, kader dapat menjaga konsistensi pemikiran dan amaliah Muhammadiyah agar tetap berpegang pada prinsip al-ruju‘ ila al-Quran wa al-Sunnah al-shahihah (kembali kepada al-Quran dan Sunnah yang sahih). Pulang kampung saat mudik saja butuh map yang jelas, apalagi kembali pada nas, tentu butuh alat dan road map yang lebih jelas.
Kedua, Muhammadiyah menekankan pentingnya berijtihad dan tidak sekadar mengikuti pendapat ulama masa lalu tanpa dalil yang kuat. Pemahaman Manhaj Tarjih membantu kader untuk kritis dalam beragama, tidak mudah terpengaruh oleh pemikiran ekstrem atau bid‘ah, sekaligus tidak terjebak dalam liberalisme tanpa dasar. Muhammadiyah konsisten mengusung wajah islam wasatiyah, berkemajuan dalam menyelamatkan semesta.
Ketiga, Dunia terus berubah, dan masalah baru muncul (seperti teknologi, bioetika, ekonomi digital). Manhaj Tarjih memberikan kerangka metodologis untuk berijtihad secara sistematis, sehingga kader Muhammadiyah bisa memberikan solusi keagamaan yang relevan namun tetap berlandaskan syariah. Jika kader malas belajar maka akan digilas zaman. Jangan sampai Muhammadiyah tinggal nama dan tulisan sejarah, wama muhammadiyyatun illa ismuha wa rasmuha.
Keempat, Dengan memahami Manhaj Tarjih, perbedaan pendapat di internal Muhammadiyah dapat dikelola secara sehat karena semua kader memiliki pedoman yang sama dalam mengambil keputusan. Ini mencegah perpecahan dan memastikan bahwa kebijakan organisasi tetap sejalan dengan khittah Muhammadiyah. Tergodanya kader dengan manhaj tetangga lebih banyak disebabkan ketidakfahamannya terhadap manhaj sendiri.
Kelima, Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan tajdid (pembaruan) yang menekankan pemurnian (tashfiyah) dan pengembangan (tathwir). Kader yang menguasai Manhaj Tarjih akan lebih efektif dalam menyampaikan dakwah berbasis ilmu, bukan sekadar emosi atau tradisi. Sejak awal kelahirannya, Muhammadiyah memiliki tekad untuk membebaskan umat dari belenggu taklid buta. Tujuan ini hanya dapat terwujud apabila para kader menguasai ilmu agama dengan baik, melalui proses pembelajaran yang mendalam dan sistematis.
Keenam, Banyak kelompok Islam di Indonesia dengan metode berbeda (seperti literalisme Salafi, tradisionalisme NU, atau liberalisme). Pemahaman Manhaj Tarjih membantu kader menjelaskan keunikan Muhammadiyah yang moderat (tawassuth), progresif, namun tetap berpegang pada dalil yang sahih. Ketidakmampuan kader dalam mendakwahkan Islam dengan pemahaman Muhammadiyah membuat banyak kader justru terseret pada manhaj lain yang dianggap lebih progresif dan responsif.
Maka dari itu, Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Tulungagung menyusun materi Sekolah Tarjih berdasarkan ragam kemampuan peserta. Pada pertemuan pertama, sebelum memasuki pembahasan mendalam tentang Manhaj Tarjih, Ustadz Aji Damanuri menyampaikan poin-poin penting yang harus dikuasai oleh kader agar dapat memahami Muhammadiyah secara utuh. Tujuannya adalah agar para kader memiliki ideologi yang kokoh dan mantap dalam menjalankan ajaran Islam sesuai dengan pemahaman Muhammadiyah.
Pada gelombang pertama ini, Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Tulungagung mentargetkan peserta Sekolah Tarjih menguasai manhaj tarjih sebagai sebuah metodologi dan ideologi, mabadi’ al khomsah, dasar-dasar ilmu al-,Quran dan hadits dengan pendekatan Tarjih, memahami konsep bayani, burhani, irfani, dan qiyas, menjelaskan logika dan kriteria ketarjihan,
Selain itu juga ditargetkan untuk menguasai dasar-dasar ushul fiqh, perkembangan fikih klasik dan kontemporer dan bagaimana manhaj Tarjih Muhammadiyah mensikapinya, pengembangan wawasan islam moderat (wasatiyah) yang otentik, kepemimpinan, organisasi, dan semangat perjuangan dalam Persyarikatan Muhammadiyah, juga memahami gerakan-gerakan Islam kontemporer.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tulungagung, Arief Sudjono Pribadi dalam sambutannya pada pertemuan pertama menyambut baik program Sekolah Tarjih ini.
“Beberapa persoalan khilafiyah juga harus dibahas supaya para kader bisa menjadi corong untuk menjelaskan kepada umat khususnya warga Muhammadiyah. Meskipun hal hal tersebut juga sudah banyak difatwakan atau dijawab oleh majelis Tarjih Muhammadiyah pusat, namun banyak yang tidak sempat membacanya,” ujarnya.
Merespons permintaan ketua PDM tersebut, Sekolah tarjih akan menghidupkan dakwah digital pada media sosial yang telah dimiliki majelis tarjih Tulungagung. Peserta Sekolah Tarjih akan menyebarkan putusan-putusan tarjih dalam buku tanya jawab agama yang telah terbit sampai jilid ke-9 melalui media Instagram, tiktok, facebook dan media lainnya. Melalui cara ini, diharapkan warga Muhammadiyah dapat lebih mudah menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan keagamaan.
Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Tulungagung program Sekolah Tarjih ini berjalan dengan baik seperti yel-yel yang selalu dipekikkan “Sekolah Tarjih”!!! “Semangat”, “Sekolah Tarjih”!!! “Istiqomah”.
Penulis Hendra Pornama Editor Ni’matul Faizah





0 Tanggapan
Empty Comments