Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Makna Kehidupan Dunia dalam Islam: Sementara, Penuh Ujian, dan Sering Menipu

Iklan Landscape Smamda
Makna Kehidupan Dunia dalam Islam: Sementara, Penuh Ujian, dan Sering Menipu
Foto: Wijesekera
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Kehidupan dunia dalam pandangan Islam bukanlah tujuan akhir, melainkan tempat ujian yang bersifat sementara. Al-Qur’an menegaskan bahwa dunia penuh dengan godaan, perhiasan, dan kesenangan yang dapat melalaikan manusia dari akhirat. Lalu, bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapi dunia agar tidak terjebak dalam tipuan yang menyesatkan?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman itu) menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, lalu hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Ayat ini menghadirkan gambaran yang sangat kuat: dunia seperti tanaman yang tumbuh subur setelah hujan, memikat mata dan menumbuhkan harapan. Namun tak lama, ia menguning, mengering, lalu hancur. Begitulah dunia—indah di awal, memikat di tengah, dan fana di akhir.

Karakteristik Dunia dalam Islam

1. Tempat Ujian

Dunia adalah ruang ujian bagi manusia untuk membuktikan iman dan ketaatan kepada Allah. Seorang pedagang di pasar diuji kejujurannya.

Saat timbangan bisa “dimainkan”, di situlah iman berbicara—apakah ia memilih keuntungan sesaat atau keberkahan jangka panjang.

2. Sifatnya Sementara

Tidak ada yang benar-benar menetap di dunia. Semua akan berlalu. Kita sering melihat seseorang yang dulu hidup sederhana, lalu sukses dan bergelimang harta.

Namun waktu berjalan, kondisi bisa berbalik—usaha bangkrut, kesehatan menurun, bahkan ditinggal orang-orang tercinta. Semua menunjukkan bahwa dunia tidak pernah menetap.

3. Tidak Kekal

Kekayaan, jabatan, bahkan popularitas tidak akan dibawa mati. Berapa banyak pejabat yang dulu dielu-elukan, namun setelah pensiun dilupakan?

Berapa banyak orang kaya yang akhirnya hanya dibungkus kain kafan tanpa membawa satu pun hartanya? Dunia hanya titipan, bukan kepemilikan abadi.

4. Bisa Menjadi Fitnah

Dunia bisa menjadi cobaan jika terlalu dicintai. Seseorang begitu sibuk mengejar karier hingga melalaikan shalat, mengabaikan keluarga, bahkan lupa bersyukur. Apa yang awalnya nikmat berubah menjadi fitnah karena menjauhkan dari Allah.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Sikap Seorang Muslim terhadap Dunia

Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, ada sikap bijak yang perlu dibangun:

1. Tidak Terlalu Sibuk dengan Dunia

Bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi tidak menjadikannya tujuan utama.
Seorang karyawan, misalnya, tetap bekerja dengan profesional, tetapi ia tidak meninggalkan shalat, tetap jujur, dan tidak menghalalkan segala cara demi jabatan.

2. Menjadikan Dunia sebagai Sarana

Dunia adalah jalan menuju akhirat, bukan tujuan akhir.
Harta digunakan untuk bersedekah, membantu sesama, membangun pendidikan, dan menolong yang membutuhkan. Jabatan digunakan untuk menegakkan keadilan, bukan memperkaya diri.

3. Menjaga Hati agar Tidak Terikat

Memiliki dunia tidak masalah, tetapi jangan sampai dunia memiliki hati kita.
Seperti seseorang yang memegang air di tangan—ia bisa memanfaatkannya, tetapi jika digenggam terlalu erat, air itu justru hilang.

4. Mengingat Akhirat sebagai Tujuan Utama

Kesadaran bahwa hidup ini sementara akan melahirkan ketenangan.
Orang yang paham hakikat dunia tidak akan mudah sombong saat berhasil, dan tidak mudah putus asa saat gagal. Karena ia tahu, semua hanyalah bagian dari ujian.

Dunia bukan untuk ditinggalkan, tetapi untuk dilalui dengan penuh kesadaran. Ia ibarat jembatan—bukan tempat tinggal, melainkan tempat menyeberang.

Maka, bijaklah menjalani dunia: bekerja sebaik mungkin, beramal sebanyak mungkin, dan menjaga hati agar tetap terikat kepada Allah.

Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak yang kita kumpulkan di dunia yang akan menyelamatkan, tetapi seberapa banyak yang kita persiapkan untuk kehidupan setelahnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 11/04/2026 05:59
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡