“Mengapa perempuan harus selalu berada pada posisi memilih: menjadi ibu rumah tangga atau bekerja? Mengapa tidak bisa keduanya, jika memang ia mampu dan menginginkannya?”
— Najwa Shihab
Setiap tahun, gema kemerdekaan selalu menggema. Bendera dikibarkan, lagu kebangsaan dinyanyikan, dan semangat patriotisme kembali dihidupkan. Namun di balik semua euforia itu, ada pertanyaan yang menggantung di udara, terutama bagi kaum perempuan: Sudahkah kita benar-benar merdeka?
Kemerdekaan yang Belum Utuh
Secara hukum dan konstitusi, perempuan Indonesia telah merdeka. Mereka memiliki hak memilih, hak belajar, hak bekerja, dan hak berpendapat. Tapi di balik data dan dokumen negara, kenyataan di lapangan berkata lain. Masih banyak perempuan yang belum bebas menentukan jalan hidupnya sendiri.
Di banyak rumah tangga, perempuan masih harus bernegosiasi keras untuk sekadar bekerja di luar rumah. Ada yang dikekang norma, ada yang dihadang stigma, dan ada pula yang merasa bersalah karena ingin mengejar mimpi di luar perannya sebagai ibu. Pertanyaan sederhana seperti “Kenapa kamu ninggalin anak di rumah?” bisa menjadi vonis sosial yang tajam.
Sebagian perempuan bahkan tidak diberi pilihan sama sekali. Mereka tidak punya kesempatan untuk berkarier, tidak punya ruang untuk mengembangkan diri, atau tidak diizinkan mengecap pendidikan tinggi. Kemerdekaan bagi mereka hanyalah slogan yang terdengar jauh dan asing.
Antara Mimpi dan Kewajiban
Menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan mulia. Menjadi perempuan karier juga bukan sesuatu yang harus dipertanyakan. Namun mengapa dua pilihan ini sering dianggap saling meniadakan? Mengapa kita tidak membebaskan perempuan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa harus merasa bersalah atau merasa tidak cukup?
Najwa Shihab pernah menyuarakan keresahan ini. Ia mempertanyakan sistem dan budaya yang memaksa perempuan untuk selalu berada di persimpangan yang penuh tekanan. Padahal, jika diberi ruang, perempuan bisa merangkul keduanya: menjadi ibu yang penuh cinta dan menjadi pribadi yang produktif secara sosial maupun profesional.
Suara yang Masih Tersembunyi
Tidak semua perempuan punya keberanian untuk menyuarakan kebebasannya. Banyak yang memilih diam karena takut dihakimi, dikucilkan, atau bahkan dimarahi oleh keluarga sendiri. Mereka menyembunyikan keinginannya dalam diam, menekan hasratnya demi keharmonisan, dan menunda mimpi-mimpinya tanpa tahu kapan bisa mewujudkannya.
Diam bukan berarti mereka tidak punya suara. Mereka hanya menunggu ruang yang aman untuk bicara, pendengar yang tidak menghakimi, dan sistem yang berpihak pada mereka.
Solusi: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati bagi Perempuan
- Normalisasi Pilihan Ganda
Masyarakat harus mulai menerima bahwa perempuan boleh memilih untuk bekerja, berwirausaha, berpolitik, atau menjadi ibu rumah tangga. Bahkan jika ingin menggabungkan semuanya, itu pun sah-sah saja. Kemerdekaan adalah tentang hak untuk memilih, bukan tentang dipaksa memilih satu saja.
- Pendidikan Gender sejak Dini
Anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, perlu dikenalkan pada nilai kesetaraan gender sejak kecil. Mereka harus belajar bahwa tanggung jawab rumah tangga adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas perempuan.
- Kebijakan yang Mendukung Perempuan
Pemerintah dan perusahaan harus menciptakan sistem yang ramah keluarga: cuti melahirkan yang cukup, jam kerja fleksibel, ruang laktasi, dan kesempatan promosi yang setara. Semua itu bukan bentuk “diskriminasi positif”, tapi cara untuk menyeimbangkan ketimpangan yang sudah lama terjadi.
- Ruang Aman untuk Perempuan Bersuara
Komunitas, organisasi, bahkan grup-grup kecil di lingkungan sosial harus menjadi ruang aman bagi perempuan untuk menyuarakan pendapat dan pengalaman mereka. Perempuan tidak butuh diselamatkan—mereka hanya butuh didengarkan dan diberi kesempatan.
- Dukungan dari Pasangan dan Keluarga
Kemerdekaan perempuan tidak akan bermakna jika tidak ada dukungan dari lingkar terdekat. Suami, orang tua, dan mertua perlu memahami bahwa mendukung impian perempuan bukan berarti kehilangan, tapi justru memperkuat keluarga secara keseluruhan.
Penutup: Kemerdekaan adalah Ruang, Bukan Paksaan
Kemerdekaan sejati bukan tentang memaksa perempuan untuk menjadi “superwoman”, bukan pula tentang menjauhkan mereka dari rumah tangga. Kemerdekaan adalah memberi mereka ruang untuk tumbuh, berkembang, dan memilih jalan hidup yang sesuai dengan nilai dan kemampuannya sendiri.
Setiap perempuan punya mimpi. Sebagian ingin membangun bisnis, sebagian ingin mendidik anak-anaknya sendiri di rumah, sebagian lagi ingin menjadi ilmuwan, guru, seniman, atau politisi. Tidak ada pilihan yang lebih baik dari yang lain, selama itu adalah pilihan yang bebas dan sadar.
Merdeka adalah ketika perempuan tidak perlu takut berkata, “Aku ingin lebih dari ini, dan aku tahu aku bisa”.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments