Waktu fajar bukan sekadar pergantian malam menuju pagi. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT bahkan bersumpah dengan waktu ini sebagai penegasan bahwa fajar memiliki keistimewaan luar biasa bagi kehidupan seorang mukmin.
Hal ini disampaikan Ustaz Adi Hidayat (UAH) dalam sebuah kajian tafsir yang mengulas makna Surah Al-Fajr ayat 1–3, yang mengingatkan umat Islam agar memanfaatkan waktu fajar sebagai momentum memperbaiki diri, mendekatkan hati kepada Allah, dan memulai hari dengan keberkahan.
Dalam kajian tersebut UAH menjelaskan bahwa Allah membuka Surah Al-Fajr dengan sumpah: “Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.”
Menurut penjelasan dia, sumpah dalam Al-Qur’an bukanlah hal biasa. Allah sebenarnya tidak perlu bersumpah untuk menegaskan firman-Nya, karena setiap wahyu yang diturunkan sudah pasti penting. Namun ketika Allah menggunakan sumpah, hal itu menunjukkan adanya pesan yang sangat istimewa dan perlu mendapat perhatian khusus.
“Kalau kita menemukan ayat Al-Qur’an yang diawali sumpah, itu tanda bahwa pesan yang disampaikan bukan pesan biasa. Ada sesuatu yang sangat penting di dalamnya,” terang UAH seperti dilansir di kanal Youtube Adi Hidayat Official.
Menurut UAH, ciri sumpah dalam Al-Qur’an seringkali ditandai dengan huruf “wau” di awal kalimat, seperti pada lafaz Wal Fajr (demi fajar).
“Dengan cara itu, Allah menegaskan bahwa waktu fajar memiliki makna mendalam bagi kehidupan manusia,” kata wakil ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.
Lima Sumpah yang Menunjukkan Keistimewaan
UAH juga menjelaskan, para ulama menafsirkan bahwa pada bagian awal Surah Al-Fajr terdapat lima sumpah yang menandakan betapa istimewanya waktu-waktu yang disebutkan. Salah satu yang pertama adalah “wal fajr” atau demi waktu fajar.
Menurut penjelasan para ulama, imbuh dia, kata “fajar” dalam ayat ini memiliki dua pemaknaan umum. Pertama, fajar dipahami sebagai waktu subuh yang terjadi setiap hari. Waktu ini dianggap sangat istimewa di antara seluruh siklus waktu manusia dari pagi, siang, sore hingga malam.
“Karena itulah Allah memanggil hamba-Nya untuk melaksanakan salat pada waktu tersebut,” ujar dia.
UAH melanjutkan, salah satu keutamaan paling menakjubkan dari waktu fajar adalah nilai dua rakaat sunnah sebelum salat subuh.
Dalam hadis Rasulullah disebutkan bahwa dua rakaat sunnah fajar memiliki nilai yang sangat besar.
“Dua rakaat sebelum subuh nilainya lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya,” terang UAH mengutip sabda Nabi Muhammad SAW.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya waktu fajar. Bahkan hanya dua rakaat sunnah saja sudah memiliki nilai yang melampaui seluruh kenikmatan dunia.
“Karena itu, orang yang benar-benar memahami keutamaannya akan mempersiapkan diri sebelum waktu subuh tiba,” kata UAH.
Persiapan Menuju Fajar Dimulai Sejak Malam
Masih menurut UAH. Sebagian orang saleh bahkan menyiapkan diri untuk fajar sejak malam hari. Mereka bangun lebih awal untuk melakukan tahajud dan memperbanyak istighfar menjelang subuh.
“Waktu menjelang fajar ini dikenal sebagai waktu sahar. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa orang-orang beriman memperbanyak istighfar pada waktu tersebut,” paparnya.
Istighfar pada waktu sahar diyakini dapat membersihkan hati sehingga ketika salat subuh tiba, seorang hamba sudah berada dalam kondisi spiritual yang lebih siap dan khusyuk.
“Kalau hati sudah terbuka dengan istighfar, ibadah akan terasa lebih nikmat dan koneksi dengan Allah menjadi lebih kuat,” ujarnya.
Keistimewaan lain dari waktu fajar adalah berkumpulnya malaikat pada waktu tersebut. Dalam sejumlah hadis disebutkan bahwa malaikat siang dan malam bertemu pada waktu subuh.
Karena itu, waktu ini disebut sebagai salah satu waktu terbaik untuk berdoa. “Kalau ke masjid saat subuh lalu tidak berdoa, itu rugi. Karena saat itu malaikat berkumpul dan banyak keberkahan yang turun,” jelas UAH.
Selain itu, timpal dia, malaikat juga memohonkan ampunan dan kebaikan bagi orang yang berjalan menuju majelis ilmu atau ke masjid untuk salat subuh.
Fajar Menjadi Awal Perubahan Diri
Dalam penjelasannya, UAH juga menekankan bahwa konsistensi menjaga salat subuh dapat menjadi awal perubahan besar dalam kehidupan seseorang.
Bahkan para ulama sering memberi nasihat sederhana bagi orang yang ingin memperbaiki diri: mulailah dengan menjaga salat subuh secara konsisten.
“Kalau ingin menjadi pribadi yang lebih baik, biasakan subuh berjamaah secara konsisten,” ujarnya.
Waktu fajar, lanjut UAH, adalah pembuka hari sekaligus pembuka keberkahan. Ketika seseorang memulai hari dengan mengingat Allah, hatinya menjadi lebih bersih dan pikirannya lebih jernih.
Fajar juga dimaknai sebagai simbol bangkitnya cahaya iman dalam diri manusia. Ketika seseorang terbangun oleh azan subuh dan hatinya tergerak untuk memenuhi panggilan Allah, itulah tanda iman yang hidup dalam dirinya.
“Ketika azan subuh memanggil dan hati kita terpanggil untuk bangun, itulah cahaya iman yang menyala,” jelas UAH.
Karena itulah Allah bersumpah dengan waktu fajar. Bukan hanya karena pergantian waktu, tetapi karena pada saat itulah manusia diberi kesempatan untuk memulai hidup dengan hati yang bersih dan penuh keberkahan.
Melalui Surah Al-Fajr, terang UAH, Allah mengingatkan manusia tentang pentingnya memanfaatkan waktu fajar. Waktu ini bukan sekadar awal hari, tetapi juga momentum spiritual yang mampu mengubah kualitas kehidupan seorang mukmin.
“Dengan menjaga salat subuh, memperbanyak istighfar pada waktu sahar, serta memulai hari dengan doa dan ibadah, seorang hamba diharapkan dapat meraih keberkahan dan kedekatan dengan Allah dalam setiap langkah kehidupannya,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments