Search
Menu
Mode Gelap

Manifestasi Masjid Berkemajuan Menyambut Ramadhan 1447 H

Manifestasi Masjid Berkemajuan Menyambut Ramadhan 1447 H
Oleh : Bambang Adam Malik Ketua Divisi Pembinaan Masjid LPCR PM PDM Jember
pwmu.co -

Ramadhan senantiasa menjadi momentum strategis bagi masjid untuk menegaskan peran eksistensialnya.

Pada bulan suci inilah, masjid tidak sekadar menjadi titik kumpul jemaah, melainkan bertransformasi menjadi episentrum aktivitas spiritual, sosial, edukasi, hingga kemanusiaan.

Menyongsong Ramadhan 1447 Hijriah yang jatuh pada 18 Februari 2026—berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah—masjid-masjid Muhammadiyah di seluruh penjuru tanah air dituntut untuk melangkah lebih jauh.

Fokus utamanya bukan lagi sekadar rutinitas, melainkan menghadirkan pelayanan profesional yang berkemajuan dan berdampak nyata bagi umat.

Masjid Muhammadiyah sejatinya memiliki identitas ideologis yang kokoh.

Ia tidak hanya mengonstruksi kesalehan spiritual (individual), tetapi juga mengakselerasi kesalehan sosial.

Prinsip tajdid—yang mencakup pemurnian ibadah (purifikasi) sekaligus pembaruan pemikiran (dinamisasi)—harus terinternalisasi dalam tata kelola masjid.

Tantangan kontemporer saat ini adalah bagaimana nilai-nilai luhur tersebut diterjemahkan ke dalam sistem pelayanan yang rapi, transparan, dan relevan dengan dinamika jemaah di era digital.

Dalam aspek ibadah, integritas dan koherensi terhadap sunnah merupakan fondasi fundamental.

Pelaksanaan shalat Tarawih, misalnya, perlu diselaraskan dengan Himpunan Putusan Tarjih (HPT) agar tidak hanya bernilai sah secara fikih, tetapi juga memberikan ketenangan teologis.

Sosialisasi formasi 11 rakaat—baik melalui pola 4-4-3 maupun 2-2-2-2-3—bukanlah sekadar perdebatan teknis, melainkan medium edukasi keagamaan yang mencerahkan (dakwah tanwir).

Begitu pula dengan materi kultum Ramadhan; idealnya narasi yang dibangun tidak hanya mengulang retorika klasik, tetapi juga membedah diskursus aktual seperti etika bisnis Islami, fikih lingkungan, hingga ketahanan keluarga di era disrupsi.

Lebih dari itu, Ramadhan adalah bulan filantropi.

Di sinilah urgensi manajemen Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) yang profesional dan terintegrasi dengan institusi Lazismu.

Pengelolaan masjid secara ala kadarnya tanpa akuntabilitas sistemik sudah tidak memadai.

Implementasi kanal digital seperti QRIS, kiosk zakat mandiri, hingga pelaporan keuangan secara real-time melalui monitor informasi masjid adalah sebuah keniscayaan.

Transparansi bukan sekadar tuntutan teknokratis, melainkan bentuk amanah dan pendidikan publik untuk membangun kepercayaan (trust building) bahwa setiap keping dana umat didayagunakan secara produktif dan luas dampaknya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Masjid Muhammadiyah juga harus ramah terhadap kelompok muda.

Jika atmosfer masjid sepi dari kehadiran kelompok muda, itu pertanda ada yang keliru dalam cara mengelola ruang ibadah.

Keterlibatan AMM (Angkatan Muda Muhammadiyah), sebagai operator media dakwah, kurator konten dakwah digital, hingga pengelola kegiatan Ramadhan kreatif bukan sekadar regenerasi, tetapi strategi keberlanjutan.

Bahkan, penyediaan Ramadhan Kids Zone yang edukatif menjadi simbol bahwa masjid adalah rumah besar keluarga yang hangat, bukan tempat yang eksklusif dan menjemukan bagi anak-anak.

Memasuki tahun 2026, modernisasi fasilitas fisik masjid menjadi standar pelayanan yang tidak bisa ditawar.

Standar higienitas toilet dan tempat wudhu, kenyamanan sirkulasi udara, hingga kualitas audio-visual untuk siaran dakwah adalah bagian tak terpisahkan dari pelayanan ibadah.

Masjid yang bersih, nyaman, dan estetis adalah bentuk dakwah bil hal (dakwah dengan perbuatan) yang paling persuasif.

Jemaah akan kembali ke masjid bukan hanya karena kefasihan penceramahnya, tetapi karena mereka merasa dimuliakan dan dilayani dengan standar yang ekselen.

Tak kalah krusial, setiap masjid Muhammadiyah perlu menginisiasi program unggulan yang membumi.

Penyediaan “Warung Ramadhan” gratis untuk kaum duafa, layanan pemeriksaan kesehatan bekerja sama dengan MPKU/RS Muhammadiyah, hingga gerakan literasi Islam berkemajuan adalah bukti konkret bahwa masjid hadir sebagai solusi problem sosial.

Inilah wajah Islam yang mencerahkan: memberi makan yang lapar, memberikan penyembuhan bagi yang sakit, dan memberikan pencerahan bagi yang haus ilmu.

Akhirnya, Ramadhan 1447 H harus menjadi titik balik (turning point).

Masjid Muhammadiyah tidak boleh cukup hanya puas dengan kerumunan jemaah, tetapi harus hidup melalui sistem yang kuat dan nilai yang teraplikasi.

Dengan perencanaan yang matang, masjid akan tampil sebagai pusat peradaban yang memadukan kedalaman spiritualitas dan keluasan kemanfaatan sosial.

Inilah cita-cita besar Muhammadiyah: menjadikan masjid bukan sekadar tempat shalat, melainkan mercusuar kemajuan umat dan rumah besar bagi kemanusiaan.***

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments