Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Manipulasi Kasih Sayang, Pakar UMM Bongkar Pola Child Grooming

Iklan Landscape Smamda
Manipulasi Kasih Sayang, Pakar UMM Bongkar Pola Child Grooming
Dosen Psikologi UMM, Ratih Eka Pertiwi, S.Psi., M.Psi., Psikolog. (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Kasus child grooming yang kembali mencuat ke ruang publik menegaskan bahwa kekerasan terhadap anak tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasat mata. Kekerasan ini kerap bekerja melalui manipulasi emosional yang disamarkan sebagai perhatian dan kasih sayang.

Di tengah sorotan media dan perdebatan warganet, pemahaman keliru tentang posisi korban masih menguat, mulai dari penghakiman hingga anggapan bahwa kekerasan terjadi atas dasar “kesepakatan”.

Menanggapi situasi tersebut, dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ratih Eka Pertiwi, S.Psi., M.Psi., Psikolog. menegaskan bahwa child grooming merupakan persoalan serius yang sering luput dikenali karena berlangsung secara perlahan, sistematis, dan melibatkan relasi kuasa yang timpang.

“Pelaku sering dipersepsikan sebagai sosok yang baik, peduli, dan penuh perhatian. Akibatnya, korban merasa nyaman bahkan membela pelaku karena terbentuk emotional attachment yang kuat, mirip dengan Stockholm syndrome,” ujar Ratih kepada Tim Humas UMM, 26 Januari lalu.

Ia menjelaskan bahwa fase awal grooming kerap diabaikan karena tidak menunjukkan kekerasan fisik secara langsung.

Banyak kasus baru dipahami sebagai kekerasan ketika sudah terjadi pelecehan seksual, padahal manipulasi emosional telah berlangsung jauh sebelumnya dan meninggalkan dampak psikologis yang serius bagi korban.

“Proses grooming itu tidak kasat mata, ketika kekerasan baru diakui setelah ada kontak fisik, berarti kita sudah terlambat melindungi anak,” tegasnya.

Menurut Ratih, relasi kuasa menjadi elemen kunci dalam praktik child grooming, terutama ketika pelaku memiliki usia lebih tua, posisi sosial lebih tinggi, atau popularitas tertentu.

Ketimpangan ini kerap berujung pada praktik victim blaming, di mana korban justru disalahkan atas kekerasan yang dialaminya. Kondisi tersebut semakin menyempitkan ruang aman bagi korban untuk berbicara dan mencari pertolongan.

“Ketika korban disalahkan atau dianggap ikut berperan, itu adalah bentuk victim blaming yang sangat merugikan dan justru memperparah trauma psikologis korban,” ujarnya.

Ia menambahkan, tanda-tanda child grooming dapat dikenali melalui perubahan emosi dan perilaku anak, seperti menarik diri dari lingkungan sosial, perubahan suasana hati yang ekstrem, serta kecenderungan menyimpan rahasia dari keluarga.

Di era digital, risiko ini semakin besar karena pelaku dapat menjangkau anak melalui media sosial, gim daring, dan berbagai platform komunikasi lainnya.

“Jika anak diminta merahasiakan hubungan atau dibuat merasa bersalah saat menolak permintaan orang dewasa, itu sudah merupakan alarm serius yang tidak boleh diabaikan,” tandas Ratih.

Sebagai penutup, Ratih menekankan bahwa pencegahan child grooming membutuhkan kesadaran kolektif melalui relasi keluarga yang hangat, komunikasi terbuka, pendidikan seksual yang sesuai usia, serta pengawasan aktif terhadap aktivitas digital anak.

Menurutnya, perlindungan anak tidak cukup hanya mengandalkan regulasi, tetapi juga keberanian masyarakat untuk mengkritisi relasi yang tampak normal namun berpotensi membahayakan.(*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu