Masjid Baitul Mukhlisin berdiri di atas lahan seluas 750 meter persegi di Jalan Lawu Nomor 28, Nologaten, Ponorogo. Didirikan pada tahun 1969 dan berkembang menjadi bangunan dua lantai sejak 1986, masjid ini merupakan Masjid Ranting Muhammadiyah Nologaten yang terus berperan aktif di tengah masyarakat.
Sebagai masjid ranting Muhammadiyah, Baitul Mukhlisin tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat aktivitas peribadatan, sosial, ekonomi, kemasyarakatan, dan kesehatan.
Ketua Takmir Masjid Baitul Mukhlisin, H. Suwardi, menjelaskan bahwa tanggung jawab takmir tidak hanya sebatas menjaga bangunan, tetapi juga memastikan seluruh aktivitas masjid berjalan dengan baik.
“Sebagai ketua takmir, saya bertugas mengelola dan memakmurkan masjid. Kami memastikan pembangunan fisik menyangkut sarana dan prasarana yang digunakan untuk kegiatan jemaah, merawat seluruh aset masjid, serta mengatur pengelolaan kegiatan-kegiatan di Masjid Baitul Mukhlisin,” ujarnya seperti dilansir di kanal Youtube Masjid Baitul Mukhlisin Ponorogo.
Di bidang peribadahan, pengurus berkomitmen menjaga kekhusyukan ibadah. Pemilihan imam dan muazin dilakukan dengan selektif, sekaligus pengaturan jadwal salat lima waktu secara teratur. Selain itu, kajian rutin dilaksanakan setiap malam dan setelah salat Subuh.
Fasilitas masjid terus ditingkatkan untuk kenyamanan jemaah. Lantai satu telah dilengkapi karpet impor dari Turki dengan motif seperti di Masjid Nabawi.
Ruang daulah dapat digunakan untuk salat maupun pertemuan dan dilengkapi TV, AC, serta CCTV. Tersedia pula ruang multimedia untuk anak-anak muda berkarya di bidang digital serta meeting room yang mampu menampung sekitar 16 orang.

Dapur Siaga dan Pelayanan Konsumsi
Masjid Baitul Mukhlisin memiliki dapur siaga yang didukung empat karyawan inti dan 30 relawan. Dapur ini berperan penting dalam menyukseskan berbagai program pelayanan konsumsi bagi jemaah.
Setiap kegiatan kajian disertai makan bersama. Setiap Jumat disediakan 1.000 porsi makanan bergizi. Jemaah juga mendapatkan susu dan roti sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan.
Pendapatan yang diperoleh sepenuhnya digunakan untuk membiayai kebutuhan masjid, termasuk operasional bulanan seperti gaji marbot, listrik, serta kebutuhan kegiatan lainnya.
Salah satu program unggulan Masjid Baitul Mukhlisin adalah pemberian uang saku sebesar Rp 5.000 setiap hari kepada anak-anak usia sekolah dasar yang mengikuti salat subuh berjamaah. Program ini berjalan selama kegiatan berlangsung sebagai bentuk pembiasaan ibadah sejak dini.
Masjid Baitul Mukhlisin bersama Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Nologaten juga berkontribusi dalam penguatan sosial masyarakat sekitar.
Bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Ponorogo melalui Bupati, masjid menyalurkan bantuan sosial kepada 13 RT di sekitar masjid. Masing-masing RT menerima Rp11 juta, terdiri atas Rp1 juta untuk Ketua RT dan Rp10 juta untuk kas RT yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi maupun kegiatan lainnya. Total bantuan yang disalurkan mencapai Rp 143 juta.
Ketua PRM Nologaten, H. Setiyo Imani, SE, menyampaikan bahwa langkah tersebut selaras dengan visi dan misi persyarikatan.
“Masjid harus menjadi bagian dari solusi masyarakat. Program sosial ini merupakan wujud nyata komitmen Muhammadiyah dalam membangun masyarakat yang berkemajuan di bidang ekonomi, sosial, pendidikan, dan budaya,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Sekretaris PRM Nologaten, H. Khoirul Anwar, M.Pd. Menurutnya, penguatan fungsi masjid sebagai pusat pemberdayaan merupakan bagian dari gerakan dakwah Muhammadiyah.
“Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan dan pelayanan umat. Apa yang dilakukan di Baitul Mukhlisin ini adalah bentuk penguatan peran masjid dalam kehidupan bermasyarakat,” jelasnya.

Pemberdayaan Ekonomi Umat
Di bidang ekonomi, Masjid Baitul Mukhlisin bekerja sama dengan Lazismu dengan menyisihkan sebagian dana zakat, infak, dan sedekah untuk membentuk Bank Siska Masjid Baitul Mukhlisin.
Bank Siska bertujuan membantu jemaah dan warga sekitar yang memiliki usaha dengan sistem tanpa bunga, tanpa agunan, dan tanpa sita.
Untuk mendukung pembiayaan berbagai program, masjid membentuk badan usaha milik masjid berupa pabrik air minum galon berstandar.
Selain itu, dibangun pula Soryad Baitul Mukhlisin dan Restomu (Resto Muhammadiyah). Usaha-usaha ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian masjid dalam menjalankan berbagai program pelayanan.
Dalam mewujudkan visi menyehatkan jemaah, Masjid Baitul Mukhlisin mendirikan Pos Kesehatan Masjid (Poskesmas). Program jangka pendek memungkinkan jemaah yang memiliki keluhan untuk memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan.
Adapun program jangka panjang berupa general check-up meliputi pemeriksaan tensi, gula darah, asam urat, dan kolesterol. Program ini bertujuan menjaga kesehatan jemaah agar dapat beribadah secara khusyuk dan istikamah.
Kajian rutin tidak hanya dapat dihadiri secara langsung, tetapi juga disiarkan melalui media sosial seperti YouTube, Instagram, TikTok, dan Facebook sehingga dapat diakses oleh jemaah yang berhalangan hadir.
Seiring bertambahnya jumlah jemaah, masjid membentuk tim Abdhalem yang bertugas mengatur arus masuk dan penataan parkir agar kenyamanan tetap terjaga.
Sejak berdiri pada 1969 hingga kini, Masjid Baitul Mukhlisin Nologaten terus berkembang sebagai masjid ranting Muhammadiyah yang mengelola ibadah secara tertata, menjalankan program sosial yang konkret, membangun kemandirian ekonomi, serta menghadirkan layanan kesehatan bagi jemaah dan masyarakat sekitar. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments